Beritakota.id, Bogor – Desa Wisata Ciderum di Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, hadir sebagai destinasi wisata edukasi berbasis lingkungan yang menggabungkan rekreasi, pembelajaran, dan pemberdayaan masyarakat. Berawal dari tempat pengolahan sampah berbasis komunitas, desa ini kini berkembang menjadi salah satu desa wisata inspiratif di Kabupaten Bogor.

Desa Wisata Ciderum berlokasi di Kampung Batu Kembar RT 01 RW 07, Desa Ciderum, Kecamatan Caringin. Kawasan ini menawarkan pengalaman wisata yang tidak hanya menyenangkan, tetapi juga sarat nilai edukasi, khususnya terkait pengelolaan lingkungan dan ekonomi sirkular.

 

Pendiri Desa Wisata Ciderum, Kang Bento saat ditemui beritakota.id, Rabu (31/12) menjelaskan bahwa desa wisata ini menyediakan beragam wahana rekreasi dan edukasi yang dapat dinikmati oleh seluruh kalangan, terutama keluarga dan pelajar.

 

Selain wisata rekreasi, Desa Wisata Ciderum juga mengembangkan wisata edukasi yang mengajak pengunjung terlibat langsung dalam aktivitas ramah lingkungan. Di antaranya adalah edukasi pengolahan sampah, pembuatan eco enzyme, pembuatan kerajinan dari limbah, hingga memberi pakan hewan ternak.

 

“Pengunjung bisa belajar membuat eco enzyme yang bermanfaat untuk pertanian dan kesehatan, membuat makanan tradisional leupeut yang bisa dibawa pulang, serta mengelola sampah menjadi kerajinan tangan bernilai ekonomi,” tambahnya.

Baca juga : Pariwisata Indonesia 2025: Akhir Era “Revenge Travel”

Cikal bakal Desa Wisata Ciderum bermula dari kepedulian warga terhadap persoalan sampah. Melalui pengelolaan sampah berbasis kemasyarakatan, warga diajak mengubah pola pikir dari membuang sampah sembarangan menjadi mengelola sampah secara baik dan benar.

 

Sampah organik diolah menjadi kompos, pakan maggot, dan eco enzyme, sementara sampah anorganik dimanfaatkan menjadi produk kerajinan tangan. Bahkan, desa ini mengembangkan inovasi Batabu Eco Bridge, bata ramah lingkungan berbahan abu pembakaran sampah.

 

Salah satu program unggulan lainnya adalah budidaya domba Garut melalui Sicabar Farm, yang terintegrasi dengan pertanian dan pengelolaan limbah. Konsep ini menjadi contoh nyata penerapan ekonomi sirkular yang menghubungkan pelestarian lingkungan dengan aktivitas ekonomi produktif masyarakat.

 

Sebagai desa wisata edukasi, Ciderum dilengkapi berbagai fasilitas penunjang seperti kafe bernuansa alam (Cafe Sicabar), spot foto tematik seperti Dapur Pawon, aula, mushola, gazebo, taman edukasi, galeri kerajinan daur ulang, area peternakan, pertanian, pesawahan, pemancingan, hingga area panahan.

 

Kang Bento menegaskan bahwa kunci keberhasilan desa wisata ini terletak pada semangat gotong royong masyarakat.

 

“Setiap lingkungan memiliki potensi yang bisa dikembangkan. Dengan gotong royong, potensi tersebut dapat diolah menjadi peluang besar yang membawa manfaat bersama,” jelasnya.

 

Kini, Desa Wisata Ciderum menjadi tujuan favorit wisata edukasi, terutama bagi sekolah, perguruan tinggi, dan komunitas. Pengunjung ditawarkan dua paket wisata, yakni paket wisata rekreasi dan paket wisata edukasi, yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan.

 

Berkat konsistensi dan kolaborasi dengan berbagai pihak, Desa Wisata Ciderum kini telah mengantongi SK Bupati dan resmi masuk sebagai salah satu dari 10 Desa Wisata di Kabupaten Bogor.

 

“Tempat wisatanya lengkap. Tidak hanya menikmati alam, tapi juga belajar pengolahan sampah, ternak domba, dan pertanian,” ujar Firdaus, salah satu pengunjung.

 

Dari desa, Ciderum kini menjadi simbol edukasi lingkungan, kemandirian ekonomi, dan harapan masa depan yang berkelanjutan membuktikan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari pengelolaan sampah di tingkat komunitas. (Herman Effendi / Lukman Hqeem)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *