Beritakota.id, Pandeglang — Upaya mendorong transformasi kelapa sawit dari sekadar komoditas menjadi sumber ekonomi kreatif terus diperkuat. Melalui program Desa Wisata EPS di Desa Ekraf Tanjung Jaya, Kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, Haisawit Indonesia bersama Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP) menghadirkan model pemberdayaan masyarakat berbasis produk turunan sawit yang terintegrasi dengan sektor pariwisata.
Program ini menjadi langkah strategis dalam pengembangan desa wisata berbasis sawit di Pandeglang, dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah hingga pelaku UMKM.
Direktur Haisawit Indonesia, M. Danang MRQ, menegaskan bahwa inisiatif ini tidak hanya berfokus pada edukasi, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat desa.
“Kami ingin memastikan bahwa sawit tidak hanya dipahami sebagai komoditas, tetapi juga sebagai peluang ekonomi. Haisawit menghadirkan berbagai program untuk generasi muda, profesional, hingga pemberdayaan UMKM melalui desa wisata,” ujarnya.
Ia menambahkan, potensi produk turunan sawit seperti kerajinan dari lidi sawit sangat besar dan memiliki peluang menembus pasar ekspor.
“Kegiatan ini bukan sekadar pelatihan, tetapi langkah nyata membangun ekonomi desa. Produk berbasis sawit memiliki nilai tambah tinggi dan daya saing global,” jelasnya.
Sementara itu, BPDP melalui perwakilannya, Anwar Sadat, menyampaikan bahwa lembaga tersebut berperan dalam mengelola dana perkebunan sawit untuk dikembalikan kepada masyarakat melalui berbagai program strategis.
Baca juga: Dari Sawit ke Desa Wisata: Cara Pentingsari Menggerakkan Ekonomi Warga
Program tersebut mencakup Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) dengan dukungan hingga Rp60 juta per hektare, mandatori biodiesel untuk energi terbarukan, beasiswa pengembangan sumber daya manusia, dukungan riset dan hilirisasi, hingga pemberdayaan UMKM.
“BPDP juga memperkuat UMKM dan koperasi petani sebagai pilar ekonomi daerah melalui kemitraan, penguatan rantai pasok, dan pengembangan kawasan berbasis komoditas seperti desa wisata sawit,” ungkapnya.
Dari sisi pemerintah daerah, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Pandeglang, H. Rahmat Zultika, menyambut positif program ini karena sejalan dengan strategi pengembangan desa wisata berbasis ekonomi kreatif.
“Kolaborasi ini membuka peluang peningkatan ekonomi masyarakat. Produk UMKM tidak hanya terhubung dengan sektor pariwisata, tetapi juga berpotensi menembus pasar ekspor,” katanya.
Sebagai bagian dari penguatan program, dilakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Haisawit Indonesia, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Pandeglang, serta Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) setempat. Kerja sama ini difokuskan pada peningkatan kapasitas UMKM, pengembangan produk turunan sawit, dan perluasan akses pasar.
Tidak hanya itu, peserta kegiatan juga mendapatkan pelatihan praktik pembuatan kerajinan dari lidi sawit, seperti sandal dan taplak meja. Produk-produk tersebut diharapkan menjadi souvenir khas desa wisata sekaligus mendukung kebutuhan homestay yang bernilai ekonomi.
Melalui kolaborasi ini, Haisawit Indonesia dan BPDP optimistis pengembangan desa wisata berbasis sawit di Pandeglang dapat meningkatkan nilai tambah ekonomi masyarakat secara berkelanjutan sekaligus memperkuat citra positif industri kelapa sawit di Indonesia. (***)

