Beritakota.id, Jakarta Timur – Pasar valuta asing memasuki perdagangan Jumat (24/7) dengan lanskap yang berubah cukup signifikan. Jika beberapa pekan terakhir perhatian investor tertuju pada peluang pemangkasan suku bunga Federal Reserve, kini fokus bergeser ke persoalan yang lebih kompleks: kenaikan inflasi akibat lonjakan harga energi, meningkatnya imbal hasil obligasi Amerika Serikat, serta ketidakpastian geopolitik yang kembali memanas.

Perubahan tersebut langsung tercermin pada pergerakan mata uang utama dunia. Dolar Amerika Serikat kembali menjadi aset yang paling diburu investor global setelah imbal hasil Treasury menyentuh level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir. Di sisi lain, mata uang negara maju mulai kehilangan momentum karena pasar memperkirakan bank sentral di luar Amerika akan lebih berhati-hati dalam mengambil kebijakan moneter.

Baca juga : Dolar AS Kehilangan Momentum, Tapi Belum Kehilangaan Kendali

Indeks Dolar AS (DXY) bertahan di level 101,26. Angka tersebut memang belum mencerminkan reli yang agresif, namun cukup menunjukkan bahwa arus modal kembali mengalir menuju aset berbasis dolar. Penguatan greenback kali ini tidak semata-mata dipicu data ekonomi domestik, melainkan oleh kombinasi kenaikan yield Treasury, meningkatnya permintaan safe haven, dan kekhawatiran bahwa Federal Reserve belum memiliki ruang untuk segera melonggarkan kebijakan moneternya.

Bunga Obligasi Menjadi Penggerak Utama Pasar Valas

Motor utama penguatan dolar datang dari pasar obligasi Amerika Serikat. Imbal hasil Treasury tenor 10 tahun naik menjadi 4,708 persen, sementara tenor dua tahun berada di 4,363 persen. Level tersebut merupakan sinyal bahwa investor masih melihat tekanan inflasi belum benar-benar selesai.

Kenaikan harga minyak Brent hingga US$94,51 per barel memperkuat pandangan tersebut. Biaya energi yang lebih tinggi berpotensi kembali mendorong inflasi global sehingga ruang bagi Federal Reserve untuk menurunkan suku bunga menjadi semakin sempit.

Dalam sejumlah pernyataan terakhir, beberapa pejabat Federal Reserve, termasuk Chair Jerome Powell, terus menegaskan bahwa keputusan kebijakan akan tetap bergantung pada data ekonomi, terutama inflasi dan kondisi pasar tenaga kerja. Sikap “higher for longer” yang selama beberapa bulan terakhir menjadi narasi utama The Fed kembali memperoleh dukungan setelah inflasi energi menunjukkan tanda-tanda meningkat.

Pelaku pasar kini juga menunggu sejumlah data berdampak tinggi dalam beberapa hari mendatang, termasuk Core PCE Inflation, PMI Manufaktur dan Jasa Amerika Serikat, serta perkembangan data ketenagakerjaan yang akan menjadi bahan pertimbangan penting menjelang rapat Federal Open Market Committee (FOMC).

Euro Kehilangan Momentum Setelah ECB Menahan Sikap

Pasangan EUR/USD diperdagangkan di level 1,1382, sedikit melemah setelah sebelumnya menikmati reli cukup panjang. Tekanan terhadap euro muncul setelah European Central Bank (ECB) mempertahankan pendekatan yang relatif hati-hati terhadap prospek ekonomi kawasan euro. Presiden ECB Christine Lagarde dalam konferensi pers terbaru kembali menegaskan bahwa inflasi memang terus bergerak menuju target, namun ketidakpastian global masih terlalu tinggi untuk memberikan sinyal pelonggaran kebijakan yang agresif.

Di sisi lain, aktivitas manufaktur Eropa masih bergerak di wilayah kontraksi, sementara pertumbuhan ekonomi kawasan euro belum menunjukkan akselerasi yang konsisten. Kombinasi tersebut membuat ruang penguatan euro mulai terbatas ketika dolar kembali memperoleh dukungan dari pasar obligasi.

Secara teknikal, EUR/USD masih mempertahankan struktur bullish jangka menengah, namun momentum mulai melemah. Selama harga gagal menembus area 1,1420, peluang konsolidasi menuju 1,1330 masih cukup terbuka.

Pound Sterling Mulai Menghadapi Tantangan Baru

GBP/USD diperdagangkan di kisaran 1,3314. Mata uang Inggris relatif lebih stabil dibanding euro, namun mulai menghadapi tantangan baru akibat kenaikan harga energi yang berpotensi memperpanjang tekanan inflasi domestik.

Bank of England masih menjadi salah satu bank sentral yang mempertahankan sikap ketat terhadap inflasi. Namun apabila harga energi terus meningkat, pasar mulai mempertanyakan apakah kebijakan moneter yang restriktif justru akan memperlambat pertumbuhan ekonomi Inggris.

Selama area 1,3300 mampu dipertahankan, pound masih memiliki peluang bergerak sideways dengan kecenderungan bullish terbatas.

Yen Jepang Semakin Dekat Zona Intervensi

Perhatian terbesar pasar Asia tetap tertuju pada pasangan USD/JPY yang kini berada di 163,81.

Level tersebut kembali mendekati area yang sebelumnya memicu intervensi pemerintah Jepang pada tahun-tahun sebelumnya. Menteri Keuangan Jepang kembali menegaskan bahwa pemerintah siap mengambil langkah tegas terhadap pergerakan nilai tukar yang berlebihan apabila volatilitas dianggap mengganggu stabilitas ekonomi nasional.

Namun hingga saat ini, fundamental masih berpihak pada dolar. Selisih suku bunga yang sangat lebar antara Amerika Serikat dan Jepang membuat tekanan terhadap yen masih sulit dihentikan.

Selama yield Treasury bertahan tinggi, peluang USD/JPY menguji area 164,00–165,00 masih cukup besar. Risiko terbesar justru berasal dari kemungkinan intervensi mendadak yang dapat memicu koreksi tajam dalam waktu singkat.

Dolar Australia Kehilangan Dukungan Risk Appetite

AUD/USD diperdagangkan di level 0,6974. Sebagai mata uang yang sensitif terhadap sentimen risiko global, dolar Australia mulai kehilangan momentum setelah investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko.

Di sisi lain, penguatan dolar AS membuat ruang kenaikan AUD semakin terbatas meskipun harga komoditas masih relatif tinggi. Selama pasar global berada dalam mode risk-off, mata uang berbasis komoditas diperkirakan masih akan bergerak defensif.

Pasar Sedang Memasuki Fase Seleksi

Pergerakan pasar valuta asing hari ini memperlihatkan bahwa investor tidak lagi hanya membandingkan tingkat suku bunga antarnegara. Yang menjadi perhatian utama kini adalah siapa yang memiliki ketahanan ekonomi terbaik ketika inflasi energi kembali meningkat.

Amerika Serikat untuk sementara memperoleh keuntungan dari kondisi tersebut karena kombinasi pertumbuhan ekonomi yang relatif solid, pasar tenaga kerja yang masih kuat, serta imbal hasil obligasi yang menarik menjadikan dolar sebagai tujuan utama arus modal global.

Sebaliknya, Eropa menghadapi tantangan berupa pertumbuhan ekonomi yang melambat, Jepang masih bergulat dengan pelemahan yen, sementara negara-negara berbasis komoditas mulai kehilangan momentum seiring meningkatnya aversi risiko.

Dengan kata lain, pasar forex kini tidak hanya digerakkan oleh keputusan bank sentral, tetapi juga oleh perubahan persepsi investor terhadap stabilitas ekonomi global.

Perdagangan akhir pekan ini diperkirakan masih didominasi oleh pergerakan imbal hasil Treasury dan perkembangan geopolitik Timur Tengah. Selama US10Y bertahan di atas 4,70 persen, dolar AS diperkirakan masih mempertahankan keunggulan terhadap mayoritas mata uang utama.

Investor juga akan mencermati setiap komentar lanjutan dari pejabat Federal Reserve, European Central Bank, Bank of England, maupun otoritas Jepang. Dalam kondisi volatilitas yang meningkat, pernyataan seorang gubernur bank sentral dapat mengubah arah pasar hanya dalam hitungan menit.

Bias jangka pendek masih berpihak pada dolar AS. Namun semakin tinggi posisi dolar, semakin besar pula peluang munculnya aksi ambil untung menjelang keputusan Federal Reserve pekan depan. Bagi pelaku pasar, fokus utama bukan sekadar mencari arah, melainkan memahami bahwa pasar forex saat ini sedang bergerak mengikuti narasi makro global yang berubah jauh lebih cepat dibanding beberapa bulan sebelumnya. (Lukman Hqeem)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *