Beritakota.id, Brebes – Di tengah berkembangnya Program Makan Bergizi Gratis (MBG), para mitra penyedia layanan gizi di Kabupaten Brebes mulai memperkuat koordinasi melalui Forum Mitra Ketahanan Gizi (Formagi). Forum tersebut menargetkan seluruh 226 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) bergabung untuk membangun komunikasi dan menghadapi dinamika kebijakan program.
Target itu disampaikan Ketua Formagi Brebes, Muhaemin dalam kegiatan Rembug Formagi bersama mitra MBG dengan tagline “Jejeg Madhep Mantep Ngopeni Gizi Anak Bangsa” yang berlangsung di Hall Hotel Anggraeni, Jatibarang, Sabtu, (18/7/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri ratusan mitra Badan Gizi Nasional (BGN) dan diisi dengan dialog, sosialisasi perubahan nomenklatur, pembahasan rancangan AD/ART perkumpulan Formagi, serta penyusunan kepengurusan.
Muhaemin, mengatakan pembentukan forum tersebut bertujuan memperkuat kebersamaan dan komunikasi antar mitra BGN di Kabupaten Brebes.
“Kalau kita sendiri-sendiri kurang enak. Kalau bersama-sama, ada kebersamaan dan kekompakan,” kata Muhaemin disela-sela kegiatan.
Menurut dia, keberadaan Formagi akan mempermudah koordinasi apabila terdapat kebijakan maupun instruksi baru dari BGN. Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah rencana pemerataan jumlah penerima manfaat di setiap SPPG.
Saat ini, kata dia, jumlah penerima manfaat di masing-masing SPPG masih berbeda-beda. Ada SPPG yang melayani sekitar 2.000 penerima manfaat, sementara sebagian lainnya mencapai 3.000 penerima.
“Kalau ada kebijakan pemerataan, tentu akan lebih mudah dikoordinasikan melalui forum ini,” ujarnya.
Muhaemin menyebutkan, hingga kini sebanyak 102 SPPG telah bergabung dalam Formagi Brebes. Ke depan, pihaknya menargetkan seluruh 226 SPPG yang ada di Kabupaten Brebes menjadi bagian dari forum tersebut.
“Kami berharap seluruh mitra bisa bersama-sama bergabung sehingga koordinasi semakin kuat,” katanya.
Sementara itu, Koordinator Wilayah BGN Brebes, Arya Dewa Nugrahan, mengapresiasi keberadaan Formagi. Menurut dia, forum tersebut dapat menjadi wadah komunikasi sekaligus memperkuat sinergi antar mitra dalam menjalankan Program MBG.
“Akhir-akhir ini banyak dinamika terkait aturan-aturan terbaru. Dengan adanya forum ini, koordinasi antar mitra menjadi lebih mudah,” ujar Arya.
Ia mengatakan Program MBG tidak hanya berperan dalam meningkatkan kualitas gizi bagi 446 ribu penerima manfaat (siswa sekolah dan ibu hamil), tetapi juga memberikan dampak ekonomi bagi berbagai sektor masyarakat.
Program tersebut, kata dia, turut melibatkan UMKM, petani, nelayan, peternak, serta membuka lapangan pekerjaan bagi relawan.
Arya juga menanggapi adanya kritik yang menilai insentif sekitar Rp6 juta per hari yang diterima mitra MBG hanya berorientasi pada keuntungan bisnis.
Menurut dia, para mitra telah menunjukkan bahwa program tersebut juga memiliki nilai sosial dan lingkungan. Salah satunya melalui pemberian santunan kepada anak yatim.
Selain itu, Formagi mulai mengembangkan pengelolaan limbah organik dari sampah yang dihasilkan SPPG melalui budidaya maggot dengan hasil produksi 1 ton setiap panen.
Arya mengatakan, Formagi tidak berhenti pada budidaya maggot. Ke depan, mereka akan mengembangkan peternakan agar limbah organik SPPG dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan dan memberi nilai tambah bagi masyarakat.

