Beritakota.id, Jakarta – Memasuki tahun 2026, Dompet Dhuafa merilis laporan kinerja tahunan yang menyoroti fokusnya pada pemberdayaan sebagai strategi utama pengentasan kemiskinan. Melalui gelaran “Indonesia Humanitarian Summit 2025 & Philanthropy Report” bertema “Empowerment To The Next Level”, lembaga filantropi ini menegaskan komitmennya untuk tidak hanya memberikan bantuan, tetapi juga menghadirkan solusi berkelanjutan yang mampu mengangkat harkat dan martabat masyarakat dhuafa.
Acara bergengsi ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting, termasuk Prof. Dr. H. Waryono Abdul Ghofur (Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf), Anis Matta (Wakil Menteri Luar Negeri), DR. Mariman Darto., SE., MSI. (Staf Ahli Menteri Bidang Manajemen Talenta), dan Sandiaga Uno (pengusaha ternama).
Mereka sepakat bahwa filantropi modern harus bertransformasi, bukan sekadar menyalurkan dana, melainkan membangun kapasitas penerima manfaat agar mandiri dan berdaya.
“Kerja filantropi adalah kerja sosial, alat menciptakan persatuan di masyarakat,” ujar Anis Matta, menekankan pentingnya harapan hidup yang lebih baik bagi kaum miskin.
Salurkan Dana Rp 422 Miliar
Sepanjang tahun 2025, Dompet Dhuafa berhasil menyalurkan dana sebesar Rp 422.942.586.574 dari total penghimpunan Rp 426.519.076.822, dengan tingkat penyerapan 103%, menunjukkan efektivitas pengelolaan dana yang tinggi. Angka ini menorehkan dampak positif bagi 2.828.823 jiwa penerima manfaat di tahun 2025, dan secara akumulatif mencapai lebih dari 41 juta jiwa sejak 1993.
Ketua Pengurus Dompet Dhuafa, Ahmad Juwaini, memaparkan berbagai inovasi program unggulan. Di sektor ekonomi, Industri Komunal Olahan Nanas (IKON) menjadi contoh bagaimana Dompet Dhuafa mendorong nilai tambah komoditas pertanian lokal dan penyerapan tenaga kerja.
“Sektor kesehatan diperkuat melalui program Pos Gizi yang berfokus pada pencegahan stunting di 95 titik di 10 provinsi,”ujarnya.
Selain itu, Dompet Dhuafa juga aktif dalam respons kemanusiaan internasional di Palestina dan penanganan bencana nasional di Sumatra Barat, Sumatra Utara, serta Aceh, menunjukkan jangkauan dan kedalaman aksi sosialnya.

