Beritakota.id, Jakarta – Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI) menandai perjalanan 25 tahun pengabdiannya dengan menegaskan komitmen memperkuat sistem pengawasan obat dan makanan yang adaptif terhadap tantangan nasional maupun global.

Kepala BPOM RI Taruna Ikrar menyampaikan bahwa selama seperempat abad, BPOM terus melakukan penguatan sistem pengawasan secara berkelanjutan, baik di tingkat nasional maupun internasional. Upaya tersebut dinilai semakin memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

“Selama 25 tahun perjalanan BPOM, kami terus meningkatkan dan memperkuat sistem pengawasan obat dan makanan. Salah satu hadiah terindah pada ulang tahun kali ini adalah BPOM telah sejajar dengan national regulatory authority (NRA) negara maju dengan secara resmi menjadi WHO Listed Authority (WLA). BPOM menjadi NRA negara berkembang pertama yang masuk dalam WLA,” ujar Taruna Ikrar.

Momentum peringatan HUT BPOM RI ke-25 juga dimanfaatkan sebagai ruang kolaborasi lintas sektor melalui pendekatan Academic, Business, & Government (ABG). Kolaborasi ini bertujuan mendorong penguatan ekosistem industri kesehatan dan kecantikan nasional secara berkelanjutan.

Salah satu bentuk dukungan terhadap program strategis tersebut ditunjukkan oleh PT Nosé Herbal Indo, perusahaan maklon lokal yang fokus pada pengembangan kosmetik dan obat tradisional berbasis bahan alam Indonesia.

PT Nosé Herbal Indo menegaskan komitmennya dalam mendorong kolaborasi ABG, berangkat dari keprihatinan terhadap masih minimnya pemanfaatan sumber daya alam lokal sebagai bahan baku industri kosmetik nasional. Padahal, Indonesia memiliki kekayaan hayati yang sangat besar dan berpotensi dikembangkan menjadi bahan aktif kosmetik bernilai tinggi, sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan impor.

Sebagai bentuk kontribusi nyata, Nosé secara aktif mendukung riset dan penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa serta peneliti dari berbagai perguruan tinggi dan instansi pemerintah melalui Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Hingga saat ini, Nosé telah menjalin kerja sama riset dengan enam universitas, yakni Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Padjadjaran (UNPAD), Universitas Indonesia (UI), Universitas Sumatera Utara (USU), Universitas Mulawarman (UNMUL), dan Universitas Gadjah Mada (UGM).

Baca juga: Nosé Herbal Indo Meramaikan Cosmobeauté Indonesia 2025

Direktur PT Nosé Herbal Indo, Aling Pratama, menilai program ABG yang diinisiasi BPOM RI sebagai langkah strategis untuk mendorong kemajuan industri kosmetik nasional yang berdaya saing dan berkelanjutan.

“Kami melihat ABG sebagai ekosistem yang sangat strategis. Ketika riset dari akademisi, kebutuhan industri, dan regulasi dari pemerintah dapat berjalan searah, industri kosmetik nasional akan tumbuh lebih sehat dan berkelanjutan,” ujar Aling.

Sebagai bentuk dukungan terhadap program ABG, PT Nosé Herbal Indo turut berpartisipasi dengan membuka booth dalam rangkaian peringatan HUT BPOM RI ke-25 yang berlangsung pada 28–31 Januari 2026 di Gedung BPOM RI, Jalan Percetakan Negara, Jakarta Pusat. Pada kesempatan tersebut, Nosé juga meluncurkan majalah Insight yang mengulas tren kosmetik terkini serta pentingnya kolaborasi ABG dalam industri kecantikan.

Di area booth, pengunjung diajak mengikuti berbagai aktivitas interaktif, mulai dari menyaksikan proses ekstraksi tanaman bersama peneliti, berdiskusi langsung dengan tim riset, hingga mengenal contoh formula produk kosmetik dan obat tradisional hasil pengembangan PT Nosé Herbal Indo. Pengunjung juga mendapatkan sampel parfum gratis sebagai bagian dari rangkaian kegiatan.

Partisipasi aktif Nosé dalam mendukung kolaborasi ABG turut mengantarkan perusahaan masuk dalam nominasi penghargaan yang diumumkan pada acara puncak peringatan HUT BPOM RI ke-25 yang digelar pada Sabtu, 31 Januari 2026, di Aula Gedung Merah Putih BPOM RI.

Ke depan, PT Nosé Herbal Indo berharap program ABG dapat terus diperkuat, khususnya dalam mendorong kolaborasi riset berkelanjutan antara industri dan perguruan tinggi. Melalui pengembangan riset berbasis bahan alam lokal, Nosé optimistis industri kosmetik Indonesia mampu meningkatkan daya saing, kemandirian, dan keberlanjutan.

“Harapan kami, kolaborasi ABG ini tidak berhenti di satu momentum saja, tetapi menjadi gerakan bersama yang berkelanjutan. Dengan riset yang kuat dan kolaborasi terbuka, industri kosmetik Indonesia memiliki potensi besar untuk berkembang secara mandiri,” pungkas Aling Pratama. (***)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *