Beritakota.id, Jakarta – Proyek Enhancing Readiness for the Transition to Electric Vehicles in Indonesia (ENTREV) kini menegaskan posisinya sebagai salah satu inisiatif transisi energi paling progresif di Indonesia. Hingga Oktober 2025, proyek ini telah berhasil menyumbang penurunan emisi karbon sebesar 85,35 ribu ton CO₂ (ktCO₂), sebuah capaian yang semakin relevan di tengah meningkatnya target penurunan emisi nasional jelang implementasi penuh kebijakan Net Zero Emission 2060. Kolaborasi antara Kementerian ESDM dan United Nations Development Programme (UNDP) ini menjadi motor penting dalam membangun fondasi transformasi sistem transportasi, terutama ketika tren global mengarah pada percepatan elektrifikasi kendaraan dan pengetatan regulasi emisi oleh berbagai negara.

National Project Manager ENTREV, Nasrullah “Eriell” Salim, menegaskan bahwa proyek ini bukan sekadar program pendukung, melainkan pilar yang mempercepat kesiapan nasional menghadapi lompatan teknologi kendaraan listrik. Menurutnya, kerja sama antara pemerintah, lembaga internasional, dan berbagai pemangku kepentingan lokal membuka jalan bagi pembangunan infrastruktur pengisian daya, peningkatan kapasitas SDM, serta penyusunan regulasi yang lebih adaptif. Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia juga mencatatkan pertumbuhan signifikan pada penjualan kendaraan listrik roda dua dan empat, dipacu oleh insentif pembelian serta meningkatnya ketersediaan SPKLU dan SPBKLU di kota-kota besar.

Sebagai bagian dari implementasinya, ENTREV telah memberikan dukungan hibah kepada tiga provinsi percontohan—Bali, Jawa Barat, dan Jakarta—serta enam kota replikasi yaitu Yogyakarta, Surabaya, Medan, Samarinda, Makassar, dan Serang. Dukungan ini tidak hanya mencakup penyediaan fasilitas teknis, tetapi juga riset perilaku pengguna, penataan rute transportasi rendah emisi, hingga analisis kesiapan jaringan listrik lokal. Pada saat yang sama, pemerintah pusat tengah mengakselerasi pembangunan ekosistem baterai nasional melalui kerja sama dengan produsen global di sektor nikel dan sel baterai, yang menjadikan proyek seperti ENTREV berada di jalur strategisnya.

Baca juga : ENTREV: Ekonomi Sirkular Kunci Ketahanan Ekosistem EV

Dari sisi dampak sosial dan ekonomi, ENTREV berhasil menarik investasi hijau sebesar USD 17,133 juta dan telah memberi manfaat langsung kepada lebih dari 314.742 warga, termasuk 34.052 perempuan yang terlibat dalam berbagai kegiatan pelatihan dan pendampingan usaha berbasis energi ramah lingkungan. Di tingkat akar rumput, proyek ini memunculkan bentuk-bentuk partisipasi baru, seperti komunitas pengguna kendaraan listrik lokal, proyek mobilitas desa rendah emisi, hingga inisiatif perguruan tinggi yang menciptakan inovasi charger modular dan sistem manajemen energi berbasis IoT.

Memasuki akhir 2025, ENTREV semakin memperluas jangkauan edukasinya melalui rangkaian roadshow lokakarya yang digelar di berbagai daerah untuk memperkuat koordinasi teknis dan kebijakan di tingkat pemerintah daerah. Eriell menyampaikan bahwa akhir November proyek ini akan menyelenggarakan lokakarya di Makassar dan Banten, dua wilayah dengan pertumbuhan kendaraan listrik yang cukup pesat namun masih membutuhkan penambahan infrastruktur charging serta standardisasi sistem transportasi publik rendah emisi. Melihat perkembangan regional, ENTREV juga mengambil peran lebih besar dalam diskursus internasional. Pada awal Desember, ENTREV dijadwalkan berbagi pengalaman pada workshop e-Global Mobility yang diselenggarakan oleh Asian Development Bank (ADB) dan UNEP di Bangkok, Thailand, sebuah momentum yang memperlihatkan bagaimana Indonesia mulai dilirik sebagai negara berkembang yang mampu membangun model transisi kendaraan listrik berbasis kolaborasi multi-level governance.

Dalam konteks global yang tengah berlomba mengurangi ketergantungan pada kendaraan berbahan bakar fosil, kehadiran ENTREV menjadi pilar yang menghubungkan ambisi negara dengan implementasi nyata di lapangan. Proyek ini memperlihatkan bahwa adopsi KBLBB bukan hanya soal menghadirkan teknologi baru, tetapi menciptakan ekosistem sosial, ekonomi, dan regulatif yang mampu menopang transformasi jangka panjang. Dengan fondasi yang semakin kuat dan dukungan lembaga internasional, Indonesia berada pada titik krusial untuk mempercepat transisi menuju mobilitas rendah emisi yang inklusif dan berkelanjutan. (Herman Effendi / Lukman Hqeem)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *