Beritakota.id, WASHINGTON – Federal Reserve memasuki babak baru kebijakan moneter Amerika Serikat setelah Ketua Fed Kevin Warsh memulai masa kepemimpinannya dengan langkah yang langsung mengguncang pasar keuangan global. Dalam rapat kebijakan pertamanya sebagai pimpinan bank sentral AS, Warsh mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,50%-3,75 persen. Namun perhatian investor justru tertuju pada perubahan yang jauh lebih besar: perombakan cara Federal Reserve menyampaikan arah kebijakan kepada publik.

Warsh secara mengejutkan menolak memasukkan proyeksi jalur suku bunga pribadinya ke dalam “dot plot” Federal Reserve, grafik yang selama lebih dari satu dekade menjadi salah satu panduan utama investor dalam membaca arah kebijakan moneter AS. Keputusan tersebut bukan sekadar simbolis. Warsh juga mengumumkan pembentukan lima gugus tugas khusus untuk meninjau berbagai aspek operasional Federal Reserve, termasuk komunikasi kebijakan, kerangka inflasi, penggunaan data ekonomi, produktivitas, pasar tenaga kerja, hingga pengelolaan neraca bank sentral.

Baca juga : Rebound Emas Tertahan Sinyal Hawkish Federal Reserve

Langkah itu menandai perubahan paling signifikan dalam komunikasi Federal Reserve sejak era pasca-krisis keuangan global.

“Saya tidak bisa memberikan panduan mengenai apa yang akan kami lakukan berikutnya,” kata Warsh dalam konferensi pers perdananya. “Kabar baiknya, kami akan bertemu lagi enam minggu dari sekarang.”

Pernyataan tersebut menggambarkan filosofi Warsh yang sejak lama mengkritik praktik forward guidance atau panduan kebijakan ke depan. Menurutnya, bank sentral tidak seharusnya terikat pada jalur suku bunga tertentu ketika kondisi ekonomi dapat berubah dengan cepat.

Perubahan pendekatan ini langsung terlihat dalam pernyataan resmi Federal Open Market Committee (FOMC). Dokumen yang dirilis setelah rapat jauh lebih ringkas dibandingkan era sebelumnya dan menghilangkan banyak petunjuk mengenai langkah kebijakan berikutnya.

Banyak pengamat menilai gaya komunikasi tersebut mengingatkan pada era Ketua Fed Alan Greenspan, ketika pasar dipaksa membaca arah kebijakan dari data ekonomi ketimbang mengandalkan petunjuk eksplisit dari bank sentral.

Meski Warsh memilih tidak mengirimkan proyeksi pribadinya, dot plot terbaru menunjukkan perubahan besar dalam pandangan para pejabat Fed.

Dari 18 pejabat yang menyerahkan proyeksi, separuh di antaranya memperkirakan kenaikan suku bunga masih diperlukan tahun ini. Bahkan enam pejabat meyakini kenaikan lebih dari satu kali seperempat poin akan dibutuhkan untuk mengendalikan tekanan harga.

Sebaliknya, hanya satu pejabat yang masih melihat peluang penurunan suku bunga.

Perubahan sikap tersebut mencerminkan kekhawatiran yang semakin besar terhadap inflasi. Proyeksi terbaru menunjukkan inflasi berbasis Personal Consumption Expenditures (PCE) diperkirakan mencapai 3,6 persen pada akhir tahun, jauh lebih tinggi dibandingkan proyeksi Maret sebesar 2,7 persen.

Sementara itu, inflasi inti atau Core PCE diperkirakan berada di level 3,3 persen, juga meningkat tajam dari perkiraan sebelumnya sebesar 2,7 persen.

Di sisi lain, pasar tenaga kerja AS justru menunjukkan ketahanan yang lebih baik. Tingkat pengangguran diperkirakan berada di level 4,3 persen pada akhir tahun, lebih rendah dibandingkan estimasi sebelumnya sebesar 4,4 persen.

Kombinasi inflasi yang masih tinggi dan pasar tenaga kerja yang relatif kuat membuat alasan untuk memangkas suku bunga semakin sulit dipertahankan.

Bahkan pasar keuangan kini mulai memperhitungkan kemungkinan Federal Reserve menaikkan suku bunga secepatnya pada pertemuan September mendatang.

Situasi ini menciptakan ironi tersendiri bagi Presiden Donald Trump. Warsh dipilih sebagai pengganti Jerome Powell di tengah harapan Gedung Putih agar Federal Reserve lebih agresif memangkas suku bunga untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Namun hanya satu bulan setelah menjabat, Warsh justru memimpin Federal Reserve menuju arah yang lebih hawkish dibandingkan ekspektasi pasar sebelumnya.

Meski demikian, Warsh berpendapat bahwa tekanan inflasi saat ini sebagian berasal dari gangguan pasokan energi akibat konflik geopolitik dan bukan semata-mata karena permintaan domestik yang terlalu kuat. Jika harga energi terus turun dan produktivitas meningkat, ruang untuk pelonggaran kebijakan pada masa mendatang tetap terbuka.

Untuk saat ini, pesan yang diterima pasar cukup jelas. Era baru Federal Reserve telah dimulai. Investor tidak lagi bisa mengandalkan petunjuk eksplisit dari bank sentral untuk membaca arah suku bunga.

Sebaliknya, mereka harus kembali melakukan apa yang selama bertahun-tahun semakin jarang dilakukan: membaca data ekonomi secara langsung dan menafsirkan sendiri ke mana arah kebijakan moneter Amerika Serikat bergerak. (Lukman Hqeem)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *