Beritakota.id, Depok – Isu kesehatan mental mahasiswa kini semakin mendapat perhatian serius di lingkungan perguruan tinggi. Di tengah tekanan akademik dan dinamika kehidupan modern, kampus didorong tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga ruang aman bagi tumbuhnya ketahanan psikologis generasi muda.

Kesadaran tersebut menjadi fokus dalam kegiatan Seri Kuliah Umum Alumni FIB UI (KUALI #2) yang digelar oleh Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia bersama Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI). Acara ini berlangsung di Auditorium Toety Herati Noerhadi, Selasa (28/4/2026), dengan mengusung tema “Membangun Kesadaran Kesehatan Mental Mahasiswa dalam Perspektif Humaniora di Era Modern”.

Forum ini menghadirkan Ray Wagiu Basrowi, Ketua Health Collaborative Center sekaligus inisiator Kaukus Masyarakat Peduli Kesehatan Jiwa, serta Visna Vulovik. Diskusi dipandu oleh Rias Antho Rahmi Suharjo dan dihadiri mahasiswa, dosen, alumni, serta sivitas akademika.

Dalam pemaparannya, Ray Wagiu Basrowi menekankan bahwa gangguan kesehatan mental pada mahasiswa sering kali tidak muncul secara kasat mata. Ia menyebut bahasa sehari-hari sebagai “biomarker psikologis” yang dapat menjadi indikator awal kondisi mental seseorang.

“Kalimat seperti ‘capek’, ‘udah lah’, atau ‘nggak tahu mau ngapain lagi’ sering dianggap biasa. Padahal dalam konteks tertentu, itu bisa menjadi sinyal distress mental. Kampus perlu belajar mendengar, bukan sekadar menilai,” ujarnya.

Menurutnya, kesehatan mental mahasiswa dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari tekanan akademik, ketidakpastian masa depan, hingga pengaruh media sosial. Ia juga menyoroti kecenderungan mahasiswa untuk menyembunyikan masalah demi terlihat baik-baik saja.

“Banyak mahasiswa hari ini bukan sedang berkembang, tapi sedang bertahan,” tambahnya.

Baca juga: UI dan Pers, Dari Buka Bersama ke Kolaborasi Strategis

Sementara itu, Dekan FIB UI, Untung Yuwono, menegaskan pentingnya pendekatan humaniora dalam memahami persoalan kesehatan mental secara menyeluruh.

“Humaniora membantu kita memahami manusia secara utuh—bahasa, emosi, identitas, dan relasi sosial. Karena itu, kampus harus menjadi ruang yang sehat secara mental, aman secara emosional, dan kuat secara intelektual,” ujarnya.

Ia menambahkan, perguruan tinggi tidak hanya bertugas mencetak lulusan unggul secara akademik, tetapi juga individu yang resilien, berempati, dan memiliki kesehatan psikologis yang baik.

Di sisi lain, Visna Vulovik menyoroti pentingnya peran alumni dalam mendukung mahasiswa menghadapi tantangan zaman. Menurutnya, alumni memiliki posisi strategis sebagai jembatan pengalaman dan sumber inspirasi.

“Kesehatan mental bukan hanya tanggung jawab kampus. Alumni, keluarga, dan masyarakat juga harus terlibat aktif dalam memberikan dukungan,” katanya.

Melalui kegiatan ini, FIB UI dan ILUNI FIB UI berharap dapat mendorong terciptanya ekosistem kampus yang lebih peduli terhadap kesehatan mental, meningkatkan literasi psikologis, serta menormalisasi upaya mencari bantuan profesional secara terbuka dan bermartabat. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *