Beritakota.id, Brebes – Asosiasi Bawang Merah Indonesia (ABMI) menyebut panen raya yang terjadi di sejumlah sentra produksi serta melemahnya daya beli masyarakat menjadi penyebab utama anjloknya harga bawang merah di Kabupaten Brebes dalam beberapa hari terakhir.
Ketua ABMI Dian Alex Chandra mengatakan, saat ini harga bawang merah super cross di tingkat petani berada di kisaran Rp20 ribu per kilogram.
Sementara bawang merah super B dijual sekitar Rp18 ribu per kilogram dan super A sekitar Rp19 ribu per kilogram.
Baca Juga: Kunjungi Brebes, Titiek Soeharto Sebut Olahan Bawang Merah Tembus Pasar Global
“Adanya penurunan daya beli di pasar menjadi salah satu faktor turunnya harga bawang merah. Contohnya kemarin di Jakarta datang 28 truk, masih ada sisa tiga truk,” kata Alex saat dikonfirmasi, Rabu (21/7).
Menurut dia, pasokan yang melimpah sebenarnya tidak akan menjadi persoalan apabila permintaan pasar tetap tinggi. Namun, kondisi saat ini menunjukkan daya beli masyarakat mengalami penurunan.
Alex menilai, berkurangnya permintaan dipengaruhi sejumlah faktor, di antaranya usainya masa libur kenaikan kelas sekolah yang membuat masyarakat mengurangi belanja kebutuhan dapur.
“Yang biasanya membeli satu kilogram, sekarang mungkin hanya seperempat kilogram sehingga jumlah pembelian berkurang,” ujarnya.
Selain itu, kata dia momentum Bulan Muharam yang identik dengan berkurangnya kegiatan hajatan juga ikut memengaruhi konsumsi bawang merah.
Baca Juga: Pencurian Bawang Merah: Antara Kriminalitas, Kemiskinan, dan Realitas Sosial di Brebes
“Di bulan Jawa, satu Muharam biasanya jarang ada hajatan. Itu juga bisa memengaruhi karena kebutuhan bawang untuk acara-acara menjadi berkurang,” katanya.
Di sisi lain, pasokan bawang merah terus bertambah karena sejumlah daerah sentra produksi telah memasuki masa panen raya. Selain Brebes, panen juga berlangsung di Nganjuk, Cirebon, Probolinggo, Bojonegoro, Situbondo, hingga wilayah Indonesia timur seperti Bima, Sumbawa, dan Flores.
Kondisi tersebut membuat harga bawang merah di tingkat petani turun ke kisaran Rp17 ribu hingga Rp22 ribu per kilogram.
Meski demikian, Alex menilai harga tersebut masih memberikan keuntungan bagi petani dengan syarat biaya benih tidak terlalu tinggi.
“Aslinya dengan harga segitu petani sebenarnya masih bisa untung, asalkan harga benih tidak lebih dari Rp60 ribu per kilogram. Tapi kenyataannya, banyak petani yang membeli benih di atas harga itu untuk panen Agustus nanti, sehingga keuntungannya tidak menutup biaya,” ujarnya.
Karena itu, ABMI kembali mendorong pemerintah menyiapkan solusi jangka panjang untuk menjaga stabilitas harga saat panen raya. Salah satunya dengan membangun gudang penyimpanan bawang merah berkapasitas besar.
Menurut Alex, keberadaan gudang Controlled Atmosphere Storage (CAS) di Brebes yang hanya mampu menampung sekitar 100 ton belum memadai dibandingkan volume produksi bawang merah di daerah tersebut.
“Kami sudah berulang kali mengusulkan pembangunan storage yang bisa menampung sampai 10 ribu ton. Kalau ada fasilitas seperti itu, hasil panen petani bisa diserap saat harga turun, seperti Bulog menyerap gabah,” katanya.

