Beritakota.id, Jakarta – Ketegangan geopolitik global, khususnya di kawasan Timur Tengah, mulai berdampak pada ketidakpastian suplai dan harga minyak dunia. Situasi ini mendorong pemerintah Indonesia mempercepat langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan pada material berbasis minyak bumi, termasuk aspal impor.
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menegaskan pentingnya kemandirian sumber daya nasional di tengah kondisi global yang tidak menentu. Arahan tersebut kini diterjemahkan ke dalam kebijakan konkret di sektor infrastruktur.
Merespons hal itu, Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo mendorong peningkatan penggunaan Aspal Buton (Asbuton) sebagai solusi strategis untuk memperkuat ketahanan infrastruktur sekaligus mengurangi tekanan impor. “Sesuai arahan Presiden, kita tidak bisa terus bergantung pada sumber daya luar. Potensi dalam negeri harus menjadi kekuatan utama,” ujar Dody dalam konferensi pers Silaturahmi Kementerian PU dengan Media, di Kantor Kementerian PU, Kamis (2/4/2026).
Sebagian besar aspal impor diketahui merupakan turunan dari minyak bumi. Ketika suplai minyak terganggu dan harga global meningkat akibat konflik, biaya aspal ikut terdorong naik dan berdampak langsung pada anggaran pembangunan jalan. Kondisi ini menjadikan ketergantungan tinggi terhadap impor sebagai titik rawan yang perlu segera dikurangi.
Baca juga: IAW Bongkar 1.305 Temuan BPK di Kementerian PU, Ini Ujian Kepemimpinan Menteri Dody
Di sisi lain, Indonesia memiliki Aspal Buton sebagai sumber daya alam yang melimpah dengan kualitas yang diakui sebagai salah satu yang terbaik di dunia. Namun, dalam lima tahun terakhir, pemanfaatan Asbuton olahan masih terbatas, dengan rata-rata hanya sekitar 4 persen dari total penggunaan aspal nasional.
“Saat ini, sekitar 78 persen kebutuhan aspal nasional masih dipenuhi dari impor, dari total kebutuhan 1,056 juta ton pada 2024 yang diproyeksikan meningkat menjadi 1,5 juta ton per tahun. Untuk itu, kami sedang mendorong regulasi kebijakan wajib penggunaan Asbuton olahan dengan target substitusi paling sedikit 30 persen (A30) dalam campuran beraspal. Kebijakan ini diharapkan dapat menurunkan ketergantungan terhadap aspal impor hingga sekitar 50%,” jelas Dody.
Melalui substitusi Asbuton (A30), kebijakan ini juga menjadi langkah mitigasi terhadap risiko lonjakan harga akibat gejolak energi global. Pemanfaatan Asbuton diposisikan sebagai strategi kunci untuk mengurangi tekanan impor sekaligus memperkuat kemandirian nasional.
“Selain memperkuat ketahanan pasokan, kebijakan ini diproyeksikan mampu menghemat devisa negara hingga Rp4,08 triliun per tahun, meningkatkan penerimaan pajak sebesar Rp1,6 triliun per tahun, serta mendorong penguatan industri dalam negeri melalui pemenuhan SNI dan TKDN minimal 40 persen,” tambah Dody.

