Beritakota.id, Jakarta – Sejak meletusnya Perang antara Iran dan Amerika Serikat serta Israel, banyak kapal tanker terjebak di Teluk Arab atau Teluk Persia, tidak dapat melintasi Selat Hormuz. Namun, dalam perkembangan terkini, Iran mulai mengizinkan sejumlah kapal milik negara tertentu untuk keluar, termasuk tujuh kapal tanker Malaysia, salah satunya milik perusahaan minyak pemerintah Malaysia, Petronas.
Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, mengungkapkan kisah di balik izin ini saat berbicara di hadapan masyarakat Malaysia di Johor Bahru. Ia menyatakan bahwa hubungan baik antara Malaysia dan Iran mulai menunjukkan manfaat nyata.
“Untungnya hubungan kita baik dengan Iran. Sekarang baru orang tahu,” ujar Anwar, sembari merespons kritik yang diterimanya terkait kedekatannya dengan Iran.
Anwar menjelaskan, meskipun ada kritik yang menyebut Malaysia seharusnya lebih dekat dengan Amerika Serikat, ia percaya bahwa menjaga hubungan baik dengan semua negara justru menguntungkan Malaysia.
Dalam percakapan dengan Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, Anwar meminta bantuan untuk melepaskan tujuh kapal tanker yang tertahan. “Saya telepon sekali saja, saya bilang kapal kami masih ada tujuh tertahan. Dia bilang, ‘ya, oke’. Saya minta tolong, dan saat itu juga dia bilang akan memerintahkan agar kapal Malaysia segera dilepaskan,” jelasnya.
Presiden Iran memberikan jaminan bahwa kapal milik Petronas dan kapal Malaysia lainnya akan diizinkan melintas, memastikan pasokan minyak tetap sampai ke Malaysia.
Meskipun diplomasi ini berhasil, Anwar mengakui masih ada kritik dari pihak oposisi terkait harga bahan bakar minyak yang tetap tinggi. Ia menjelaskan bahwa biaya pengiriman dan asuransi kapal meningkat dibanding bulan sebelumnya, tetapi kondisi ini masih lebih baik dibanding negara lain yang mengalami penjatahan BBM akibat kekurangan pasokan.
“Setidaknya (kita) ada minyak. Negara lain sampai melakukan penjatahan,”tambahnya.
Anwar menegaskan bahwa keberhasilan ini bukan hanya karena dirinya, tetapi juga merupakan hasil dari prinsip dan pendirian kabinet Malaysia dalam menjalankan diplomasi luar negeri. Ia mengingatkan, tidak banyak pemimpin dunia yang dapat berbicara langsung dengan Presiden Iran dan mendapatkan jaminan keamanan kapal secara cepat.
Anwar Ibrahim, Perdana Menteri Malaysia sejak 2022, sebelumnya menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri pada masa pemerintahan Mahathir Mohamad. Saat ini, Malaysia menjabat sebagai ketua Perhimpunan Negara-negara Asia Tenggara (ASEAN) sejak 2025.

