Beritakota.id, Jakarta – Di Nusantara Room, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Jakarta, Selasa (10/2/2026), perayaan Hari Ulang Tahun ke-51 IWAPI terasa lebih seperti deklarasi arah masa depan ketimbang seremoni tahunan. Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia memilih tema yang tegas dan strategis: Memperkuat Fondasi Transformasi Digital Ekonomi Perempuan Melalui Sinergi Lintas Sektor Menuju Indonesia Emas 2045.
Usia 51 tahun bukan sekadar angka matang bagi sebuah organisasi. Bagi IWAPI, ini adalah momentum reposisi. Dunia usaha telah berubah drastis—rantai pasok terdigitalisasi, pemasaran berbasis algoritma, dan kecerdasan buatan mulai menjadi alat produktivitas sehari-hari. Dalam lanskap baru ini, perempuan pengusaha tidak cukup hanya bertahan; mereka harus memimpin.
“Kita berbicara tentang Indonesia Emas 2045, tapi itu tidak akan tercapai jika setengah dari kekuatan ekonomi bangsa—yaitu perempuan—tidak sepenuhnya terdigitalisasi. IWAPI ingin memastikan perempuan bukan sekadar pelaku usaha, melainkan pemain utama dalam ekonomi digital nasional dan global,” ujar Ketua DPP IWAPI, Ir. Nita Yudi, MBA.
Pernyataan tersebut menjadi jantung perayaan. Indonesia Emas 2045 kerap terdengar sebagai visi besar negara, namun Nita mengingatkan bahwa visi itu membutuhkan fondasi konkret: literasi digital, akses pembiayaan, legalitas usaha, dan kolaborasi lintas sektor. Transformasi digital, dalam konteks ini, bukan sekadar migrasi ke media sosial atau marketplace, tetapi perubahan cara berpikir dan cara mengelola bisnis.
Baca juga : Yanti Ria Anggraeni Nahkodai IWAPI Brebes, Fokus Perkuat Ekonomi Kreatif
IWAPI menilai tantangan terbesar perempuan pengusaha hari ini bukan lagi semata akses modal, melainkan kesiapan beradaptasi. Meski pemerintah telah menghadirkan berbagai kemudahan, termasuk pembaruan skema Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang lebih aksesibel, peluang tersebut hanya akan optimal jika pelaku usaha memiliki kapasitas digital yang memadai. Naik kelas berarti mampu membaca data, memahami pasar global, dan memanfaatkan teknologi sebagai alat akselerasi.
Karena itu, kolaborasi menjadi kata kunci. IWAPI mendorong sinergi antara pemerintah, perbankan, regulator, dan komunitas usaha. Pengalaman organisasi ini sebagai mitra strategis dalam sosialisasi Nomor Induk Berusaha (NIB) ke berbagai daerah menunjukkan bahwa legalitas adalah pintu awal profesionalisme. Dengan regulasi yang terus diperbarui, edukasi berkelanjutan menjadi kebutuhan mendesak agar tak ada pengusaha perempuan yang tertinggal secara administratif.
Langkah konkret juga terlihat dalam pembentukan IWAPI Digital dengan empat pilar utama: penguatan organisasi, marketplace, edukasi online, dan pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) bagi UMKM. AI bukan lagi istilah futuristik yang jauh dari realitas pelaku usaha kecil. Ia hadir sebagai alat untuk membaca tren konsumen, mengelola inventori, hingga meningkatkan layanan pelanggan. Di sinilah transformasi menjadi nyata—ketika teknologi diterjemahkan menjadi peningkatan daya saing.
Perayaan HUT ke-51 ini turut dihadiri Menteri UMKM serta Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/BKPM, dengan dukungan perbankan seperti BSI dan BRI yang memberikan edukasi akses KUR. Di luar forum utama, suasana terasa lebih membumi: pasar kecil produk anggota, helpdesk sertifikasi halal, layanan konsultasi NIB, hingga cek kesehatan bagi peserta. Sebuah ekosistem mini yang menggambarkan wajah riil ekonomi perempuan—adaptif, tangguh, dan terus belajar.
Di usia lebih dari setengah abad, IWAPI tampak memahami satu hal mendasar: masa depan ekonomi Indonesia tidak bisa dibangun dengan partisipasi setengah hati dari separuh populasinya. Transformasi digital perempuan bukan sekadar agenda organisasi, melainkan bagian dari strategi nasional.
Dan jika 2045 adalah tujuan, maka hari ini adalah titik tolaknya. (Lukman Hqeem)

