Beritakota.id, Jakarta – Jakarta selama bertahun-tahun hidup dalam identitas yang nyaris tidak berubah. Ia dikenal sebagai pusat bisnis, kota rapat, tempat lalu lintas padat dan gedung pencakar langit berdiri berdekatan dengan ritme hidup yang bergerak cepat. Banyak wisatawan datang ke Jakarta karena pekerjaan, konferensi, atau sekadar transit sebelum melanjutkan perjalanan ke Bali.
Namun dunia pariwisata global mulai berubah. Kota-kota besar kini tidak lagi hanya menjual landmark atau pusat belanja, melainkan pengalaman hidup, energi budaya, hingga gaya hidup urban yang membentuk emosi para pengunjungnya. Dalam lanskap baru itu, Jakarta tampaknya mulai mencoba mendefinisikan dirinya kembali.
Gagasan tersebut mengemuka dalam Indonesia Tourism Xchange (ITX) 2026 yang berlangsung di The Langham Jakarta. Dalam forum yang mempertemukan pelaku industri pariwisata, hospitality, dan branding destinasi itu, Delivering Asia bersama Himpunan Humas Hotel Indonesia (H3) dan Kompas.id mendorong lahirnya narasi baru mengenai Jakarta sebagai destinasi gaya hidup global, bukan sekadar kota perjalanan bisnis.
Baca juga : AHY Sapa Karyawan Plasticpay di Trotoar Jakarta Saat Lari Sore, Tunjukkan Sisi Humanis Pejabat Negara
Ide tersebut terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya menyentuh pertanyaan yang lebih besar: bagaimana sebuah kota membangun identitasnya di mata dunia?
Selama ini, Indonesia memiliki Bali sebagai wajah utama pariwisata internasional. Pulau tersebut telah berhasil membangun citra global yang kuat melalui kombinasi budaya, lanskap alam, spiritualitas, dan hospitality. Di sisi lain, Jakarta sering kali berada dalam posisi yang ambigu. Ia besar, modern, dan penuh energi, tetapi belum sepenuhnya dipandang sebagai destinasi yang memiliki daya tarik emosional.
Padahal, menurut pendiri dan CEO Delivering Asia, David Johnson, Jakarta memiliki hampir semua elemen utama yang dibutuhkan untuk menjadi kota global modern. Mulai dari hotel mewah, restoran kelas dunia, fasilitas MICE berstandar internasional, hingga kehidupan malam dan ekosistem kreatif yang berkembang pesat.
Yang belum dimiliki Jakarta, menurutnya, bukan infrastruktur melainkan narasi.
Dalam banyak kasus, kota-kota global tidak menjadi menarik hanya karena memiliki gedung tinggi atau transportasi modern. Mereka menjadi magnet karena mampu menciptakan karakter yang terasa hidup. Bangkok dikenal dengan energi jalanannya yang tidak pernah tidur. Tokyo menawarkan perpaduan tradisi dan futurisme. Singapura menjual efisiensi urban dengan kemewahan modern.
Jakarta masih mencari bentuknya sendiri.
Melalui workshop bertagar #thisisjakarta, Delivering Asia mencoba mendorong lahirnya positioning baru bahwa Jakarta adalah “jantung Indonesia yang penuh energi tinggi.” Sebuah kota yang tidak mencoba menjadi Bali kedua, ataupun meniru Bangkok dan Singapura, tetapi membangun identitas berdasarkan kontradiksi dan dinamika khasnya sendiri.
Dan justru di situlah daya tarik Jakarta sebenarnya berada.
Jakarta bukan kota yang rapi dalam pengertian klasik. Ia penuh kontras. Di satu sisi terdapat rooftop bar kosmopolitan, hotel premium, serta kawasan bisnis yang bergerak nyaris tanpa henti. Namun di sisi lain, kota ini masih menyimpan ritme lokal yang kuat, dari kuliner kaki lima, budaya Betawi, hingga ruang-ruang sosial yang tumbuh organik di tengah kepadatan urban.
Kontras tersebut kini mulai dipandang sebagai aset budaya, bukan kelemahan.
Di banyak kota global modern, wisatawan tidak lagi mencari pengalaman yang steril dan seragam. Mereka justru tertarik pada kota yang memiliki tekstur sosial, energi manusia, dan rasa autentik yang sulit direplikasi. Jakarta memiliki semua elemen itu, hanya saja selama ini belum dikemas menjadi narasi global yang konsisten.
Perubahan cara pandang terhadap kota juga dipengaruhi pergeseran perilaku wisatawan dunia. Pasca pandemi, muncul generasi baru pelancong urban yang menggabungkan pekerjaan, gaya hidup, dan eksplorasi budaya dalam satu pengalaman perjalanan. Digital nomad, pekerja kreatif, hingga entrepreneur muda kini memilih kota berdasarkan pengalaman hidup yang ditawarkan, bukan sekadar tempat wisata.
Dalam konteks itu, Jakarta memiliki peluang besar.
Kehadiran kereta cepat menuju Bandung misalnya, membuka kemungkinan terbentuknya “two cities experience” yang menghubungkan energi metropolitan Jakarta dengan atmosfer kreatif Bandung sebagai UNESCO Creative City. Kombinasi ini dapat menjadi model baru perjalanan urban di Indonesia bagian barat.
Momentum tersebut juga datang bersamaan dengan perayaan 500 tahun Jakarta pada 2026. Bagi banyak kota dunia, milestone sejarah seperti ini sering digunakan untuk memperbarui citra dan memperkuat posisi internasional mereka. Jakarta tampaknya mulai bergerak ke arah yang sama.
Editor Desk Ekonomi Kompas, Budi Suwarna, menilai bahwa pertumbuhan infrastruktur dan dinamika urban Jakarta membuka peluang besar bagi lahirnya generasi baru wisatawan perkotaan. Namun menurutnya, city branding modern tidak cukup hanya menjual fasilitas. Kota harus mampu membangun cerita yang terasa autentik dan relevan secara emosional bagi audiens global.
Hal itu menjadi penting karena persaingan pariwisata global kini semakin bergeser ke arah emotional branding. Wisatawan datang bukan hanya untuk melihat kota, tetapi untuk merasakan bagaimana hidup di dalamnya.
Industri yang Diuntungkan
Industri hospitality dan ekonomi kreatif tentu menjadi pihak yang paling diuntungkan jika transformasi ini berhasil. Hotel, restoran, ruang seni, festival budaya, hingga sektor lifestyle akan memperoleh panggung baru untuk berkembang. Jakarta tidak lagi diposisikan hanya sebagai titik singgah bisnis, tetapi sebagai pengalaman urban yang lengkap.
Namun membangun city branding bukan pekerjaan singkat. Ia membutuhkan konsistensi narasi, kolaborasi lintas sektor, dan keberanian untuk menerima identitas kota apa adanya. Sebab kota yang paling menarik di dunia biasanya bukan kota yang sempurna, melainkan kota yang memiliki karakter kuat.
Jakarta mungkin masih berisik, padat, dan penuh paradoks. Tetapi justru dari kekacauan itulah energi kota ini terbentuk.
Dan ketika dunia mulai mencari pengalaman urban yang lebih manusiawi, lebih autentik, dan lebih emosional, Jakarta mungkin akhirnya menemukan momentum untuk berhenti menjadi sekadar kota bisnis — lalu mulai dikenali sebagai kota yang benar-benar hidup. (Lukman Hqeem)

