Beritakota.id, Kediri – Di tengah perkembangan pariwisata di Kediri, Goa Selomangleng tetap menyimpan daya tarik yang tidak biasa. Situs ini dikenal sebagai tempat pertapaan Dewi Kilisuci, sosok putri kerajaan yang dalam kisah sejarah dan legenda memilih meninggalkan kehidupan istana.
Menurut narasi yang berkembang di masyarakat, Dewi Kilisuci merupakan putri dari Kerajaan Kediri. Ia menolak lamaran seorang tokoh sakti yang dikenal sebagai Lembu Suro, yang diyakini memiliki kepentingan politik di balik pernikahan tersebut.
Keputusan tersebut menjadi simbol penolakan terhadap kekuasaan yang dianggap membatasi kebebasan pribadi. Dewi Kilisuci kemudian memilih menjalani kehidupan spiritual di dalam goa yang kini dikenal sebagai Goa Selomangleng.
Secara fisik, goa ini tidak menampilkan kemegahan seperti bangunan kerajaan. Struktur batu andesit sederhana dengan relief bergaya Hindu-Buddha menjadi ciri khasnya. Relief tersebut menampilkan figur dewa, simbol spiritual, serta potongan kisah kehidupan masyarakat Jawa klasik.
Sejumlah bagian relief telah mengalami pelapukan, namun nilai arkeologisnya masih dapat diidentifikasi. Dalam kajian akademik, situs ini dipandang sebagai bagian dari warisan budaya yang mencerminkan corak religi dan sosial masyarakat masa lampau.
Selain nilai sejarah, Goa Selomangleng juga memiliki dimensi spiritual yang masih diyakini sebagian masyarakat. Kawasan lereng Gunung Klotok sejak lama dikenal sebagai tempat laku atau pertapaan para resi.
Hingga kini, sejumlah pengunjung datang tidak hanya untuk berwisata, tetapi juga untuk berdiam diri, berdoa, atau melakukan refleksi batin. Waktu-waktu tertentu seperti malam satu Suro atau Jumat Kliwon kerap dianggap memiliki makna khusus, meskipun keyakinan tersebut tidak memiliki dasar ilmiah yang pasti.
Seiring perkembangan zaman, fungsi Goa Selomangleng mengalami pergeseran. Pemerintah daerah telah mengelola kawasan ini sebagai destinasi wisata publik dengan fasilitas taman, jalur pejalan kaki, serta akses yang relatif mudah dijangkau dari pusat kota.
Bupati Kediri, Hanindhito Himawan Pramana, menyatakan dukungannya terhadap pengembangan pariwisata yang tetap menjaga nilai budaya dan spiritual.
“Kegiatan yang mendorong introspeksi diri dan pemahaman nilai kehidupan tentu menjadi bagian penting dalam pembangunan pariwisata,” ujarnya.
Akses menuju Goa Selomangleng tergolong mudah. Dari pusat Kota Kediri, perjalanan hanya memakan waktu sekitar 10–15 menit. Pengunjung dapat melalui jalur darat atau menggunakan kereta api menuju stasiun di Kediri, serta alternatif penerbangan melalui Dhoho International Airport.
Setibanya di lokasi, pengunjung perlu berjalan kaki melalui jalur taman yang telah ditata menuju mulut goa. Jalur tersebut relatif landai dan ramah bagi berbagai kelompok usia.
Saat ini, Goa Selomangleng merepresentasikan perpaduan fungsi sebagai situs sejarah, ruang publik, dan tempat refleksi spiritual. Nilai yang terkandung di dalamnya tidak hanya terletak pada legenda Dewi Kilisuci, tetapi juga pada makna simbolik tentang pilihan hidup—antara kekuasaan dan ketenangan batin.

