Beritakota.id, Depok – Di tengah besarnya potensi desa di Indonesia, tantangan dalam mengelola Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa) secara kompetitif masih menjadi pekerjaan rumah besar. Dari puluhan ribu BUM Desa yang telah terbentuk, hanya sebagian kecil yang benar-benar mampu berkembang dan bersaing.
Melihat kondisi tersebut, CEO Bakrie Center Foundation, Jimmy Gani, memperkenalkan pendekatan baru berupa Village Enterprises Competitiveness Index (VECI) sebagai instrumen untuk mengukur sekaligus meningkatkan daya saing BUM Desa.
Berdasarkan data Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal tahun 2025, terdapat 75.265 desa yang telah terdata dan terverifikasi di Indonesia. Untuk mengoptimalkan potensi tersebut, pemerintah melalui Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 mendorong pembentukan BUM Desa sebagai motor penggerak ekonomi lokal.
Sebagai entitas berbadan hukum, BUM Desa diharapkan mampu membuka lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, serta memperkuat Pendapatan Asli Desa (PADesa). Namun, realitas menunjukkan masih adanya kesenjangan signifikan dalam performa BUM Desa.
Per Maret 2026, jumlah BUM Desa tercatat mencapai 72.807 unit, terdiri dari 66.332 BUM Desa dan 6.475 BUM Desa Bersama. Dari jumlah tersebut, baru 45.245 yang telah berbadan hukum.
Dalam sidang terbuka disertasinya di Universitas Indonesia, Selasa (5/5), Jimmy menilai bahwa salah satu akar persoalan utama terletak pada model bisnis yang belum berjalan optimal.
“Memang saat ini sudah ada pemeringkatan terhadap BUM Desa oleh Kemendesa PDT, dari perintis hingga maju. Namun, indeks tersebut belum sepenuhnya menggambarkan daya saing BUM Desa itu sendiri,” ujar Jimmy.
VECI Ukur Daya Saing BUM Desa Secara Komprehensif
Melalui penelitiannya, Jimmy mengidentifikasi sejumlah faktor yang memengaruhi daya saing BUM Desa, mulai dari kemampuan manajerial, pemasaran, akses permodalan, hingga kemitraan.
Dari 164 BUM Desa yang diteliti, hasilnya menunjukkan:
- Lebih dari 40% berada pada kategori daya saing cukup
- 33% kurang
- 12,8% tidak memiliki daya saing
- Hanya 9,8% kategori baik
- 4,3% sangat baik
Temuan ini menunjukkan bahwa mayoritas BUM Desa masih menghadapi tantangan dalam meningkatkan daya saingnya.
Selain faktor internal, Jimmy juga menyoroti pengaruh faktor eksternal seperti ancaman produk substitusi, kelayakan produk, kompetisi global, serta peluang pasar.
Strategi Transformasi BUM Desa: Reframe hingga Renew
Untuk menjawab tantangan tersebut, Jimmy menawarkan empat tahapan transformasi BUM Desa melalui pendekatan VECI, yaitu:
- Reframe (perubahan pola pikir)
- Restructure (restrukturisasi sumber daya)
- Revitalize (penguatan produk dan layanan)
- Renew (pengembangan kapabilitas baru)
Pendekatan ini diharapkan mampu mendorong BUM Desa menjadi lebih adaptif dan kompetitif di tengah dinamika ekonomi.
Menurut Jimmy, kemajuan teknologi dan konektivitas digital menjadi peluang besar bagi desa untuk memperluas jejaring dan kolaborasi lintas wilayah.
“Dengan adanya konektivitas, sekat antarwilayah bisa ditembus. Desa tidak harus hanya mengandalkan sumber daya lokal, tetapi bisa berkolaborasi dengan desa lain maupun berbagai pemangku kepentingan,” jelasnya.
Program Kolaboratif untuk Perkuat Kapasitas Desa
Teori VECI ini akan diimplementasikan melalui program Collaborative Leadership bertajuk “Bersama Membangun Desa” yang diinisiasi oleh Bakrie Center Foundation.
Program ini mengintegrasikan pembelajaran kepemimpinan, analisis berbasis data, serta pendampingan langsung di lapangan. Peserta yang terdiri dari fresh graduate dan pemuda lokal akan dilibatkan sebagai fasilitator dalam melakukan asesmen dan mendukung transformasi BUM Desa.
“Dengan dijalankannya program ini, kami berharap semakin banyak BUM Desa yang dapat dipetakan kondisinya secara akurat, sehingga intervensi yang dilakukan bisa lebih tepat sasaran dan efektif,” pungkas Jimmy. (***)

