Beritakota.id, Jakarta – Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengimbau masyarakat agar tidak mudah mempercayai teori konspirasi terkait Hantavirus yang disebut-sebut sebagai ancaman pandemi baru untuk kepentingan komersial atau penjualan vaksin. Imbauan tersebut disampaikan menyusul maraknya informasi menyesatkan mengenai Hantavirus di media sosial dan berbagai platform digital.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, menegaskan masyarakat perlu memperoleh informasi kesehatan dari sumber resmi agar tidak terjebak hoaks maupun disinformasi.

“Yang tidak kalah penting adalah bagaimana masyarakat memahami informasi ini dengan benar. Jangan sampai berita yang beredar justru bersifat hoaks atau disinformasi,” ujar Andi dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (11/5/2026).

Baca Juga: Kemenkes Tingkatkan Kewaspadaan Nasional dan Global Cegah Campak Meluas di Indonesia

Menurut Andi, Hantavirus bukan virus baru di Indonesia. Kasus Hantavirus tipe Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) telah terdeteksi di Indonesia sejak 1991.

Ia menjelaskan keberadaan virus tersebut sudah lama dikenal dalam dunia kesehatan sehingga masyarakat diminta tidak panik menghadapi isu yang berkembang saat ini.

“Artinya virus ini sudah cukup lama ada dibanding berbagai isu yang muncul belakangan,” katanya.

Kemenkes juga telah menyampaikan surat edaran dan panduan teknis kepada dinas kesehatan serta fasilitas pelayanan kesehatan di berbagai daerah guna meningkatkan kewaspadaan petugas kesehatan terhadap potensi penularan.

Menurut Andi, langkah komunikasi risiko menjadi bagian penting dalam penanganan penyakit menular agar masyarakat memperoleh edukasi yang tepat dan tidak mudah termakan informasi palsu.

Pencegahan Hantavirus, lanjut dia, sangat berkaitan dengan kebersihan lingkungan serta pengendalian populasi tikus sebagai hewan pembawa virus.

Baca Juga: Teknologi Plasmacluster Berhasil Menunjukan Efektifitasnya Mengurangi Novel Coronavirus

“Sanitasi lingkungan sangat penting karena penularan berkaitan dengan sekresi maupun ekskresi tikus,” ujarnya.

Kemenkes juga mengingatkan masyarakat di wilayah rawan banjir agar lebih berhati-hati terhadap paparan air kotor yang berpotensi membawa berbagai penyakit menular, termasuk Hantavirus.

Andi mengimbau warga tidak bermain di genangan banjir karena risiko penularan penyakit dapat meningkat saat kondisi lingkungan tidak higienis.

“Air banjir dapat menjadi media penyebaran beberapa penyakit menular, salah satunya Hantavirus,” kata Andi.

Pemerintah meminta masyarakat tetap tenang, menjaga kebersihan lingkungan, serta mengikuti informasi resmi dari otoritas kesehatan untuk mencegah penyebaran disinformasi terkait isu kesehatan global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *