Beritakota.id, Jakarta – Membangun masyarakat yang tangguh menghadapi bencana memerlukan sinergi kuat dari berbagai elemen. Pendekatan partisipatif yang melibatkan pemimpin, pelaksana lapangan, masyarakat, hingga kaum muda menjadi kunci utama dalam meningkatkan kesiapsiagaan dan memperkuat ketahanan komunitas terhadap risiko bencana.

Diskusi “Ruang Cerita Daring – Berangkat Bareng, Bangkit Bersama untuk Kemanusiaan” yang menghadirkan perwakilan Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa, CEO Youth Ranger Indonesia, dan Relawan Ambulans Dompet Dhuafa Yogyakarta, menggarisbawahi pentingnya mitigasi bencana dan pemberdayaan pemuda berbasis komunitas. Ahmad Lukman dari DMC Dompet Dhuafa menekankan bahwa perencanaan kebencanaan, termasuk penentuan jalur evakuasi dan titik kumpul, tidak boleh dilakukan secara sepihak.

“Seluruh pihak terkait harus dilibatkan agar keputusan yang diambil dapat dijalankan secara efektif di lapangan,” ujarnya. Ia juga menegaskan pentingnya latihan rutin dan simulasi untuk membangun kesiapsiagaan yang berkelanjutan.

Dimas Dwi Pangestu, CEO Youth Ranger Indonesia, menyoroti peran strategis pemuda dalam ketahanan sosial dan keberlanjutan komunitas. Melalui Youth Ranger Indonesia yang telah hadir di 34 provinsi, ia fokus pada pelatihan dan pendampingan pemuda agar potensi mereka dapat berkembang dan berdampak.

Baca juga: Aceh Pulih Cepat Pascabencana, KemenPU Buka Jalur Lintas Tengah

Dimas menekankan pentingnya penerapan pentahelix framework yang melibatkan pemerintah, akademisi, masyarakat, media, dan sektor swasta untuk memastikan program yang dijalankan tepat sasaran dan berkelanjutan. Ia juga berbagi pengalaman penanganan bencana di Aceh, di mana bantuan kebencanaan harus didasarkan pada asesmen kebutuhan agar tidak menimbulkan masalah baru.

Baca juga: Dompet Dhuafa Bangun 1.000 Rumah Sementara untuk Korban Bencana Sumatera

Kisah inspiratif datang dari Slamet Widodo, Relawan Ambulans Dompet Dhuafa Yogyakarta, yang termotivasi membantu sesama setelah anaknya sering sakit. Pengalaman sebagai relawan memberikannya pelajaran berharga dan kepuasan tersendiri dalam membantu orang lain.

Meski menghadapi tantangan seperti penentuan skala prioritas saat terjadi beberapa kejadian darurat bersamaan, koordinasi dengan tim terdekat menjadi solusi krusial. Ketiga narasumber sepakat bahwa ketahanan komunitas dapat dibangun melalui langkah sederhana yang terencana, partisipatif, dan berkelanjutan, dengan kolaborasi lintas sektor, penguatan pemuda, serta dedikasi relawan sebagai pilar utamanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *