Beritakota.id, Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali melemah hingga menembus angka baru pada perdagangan pekan ini. Tekanan sentimen global dan tingginya suku bunga AS memicu kemerosotan mata uang Garuda secara signifikan. Kondisi ini mulai memukul stabilitas operasional sejumlah industri strategis di dalam negeri.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, memberikan analisisnya mengenai dampak situasi ini. Beliau menyampaikan bahwa depresiasi mata uang ini menaikkan beban biaya produksi secara mendadak.
“Sektor yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor akan mengalami tekanan paling berat,” ujar Bhima saat diwawancarai pada Senin (18/5).
Baca juga : Ditahan Israel, 9 Relawan WNI Misi Kemanusiaan Gaza Akhirnya Tiba di Indonesia
Dampak Kurs Rupiah Tembus Angka Baru bagi Industri
Pelemahan mata uang lokal memicu efek domino yang langsung dirasakan oleh para pelaku usaha. Biaya logistik internasional dan harga beli komponen luar negeri otomatis melonjak tajam. Keadaan ini memaksa pengusaha memutar otak demi menjaga arus kas tetap sehat.
Berikut adalah 5 sektor usaha yang paling menjerit akibat lonjakan kurs mata uang asing tersebut:
1. Industri Manufaktur dan Elektronik
Sektor manufaktur sangat rentan terhadap fluktuasi nilai tukar mata uang. Mayoritas komponen elektronik dan suku cadang pabrik masih harus didatangkan dari luar negeri. Akibatnya, biaya produksi membengkak dan mengancam harga jual produk ke konsumen akhir.
2. Sektor Farmasi dan Obat-obatan
Lebih dari 90 persen bahan baku obat di Indonesia masih mengandalkan jalur impor. Ketika kurs rupiah tembus angka baru, biaya belanja medis rumah sakit dan industri farmasi langsung meroket. Industri ini menghadapi dilema besar antara menaikkan harga obat atau menekan margin keuntungan.
3. Industri Makanan dan Minuman
Bahan pangan populer seperti gandum, kedelai, dan susu olahan sebagian besar diperoleh melalui impor. Produsen tahu, tempe, hingga mi instan kini mulai merasakan dampak langsung kenaikan modal. Jika kondisi ini bertahan lama, penyesuaian ukuran produk atau harga jual tidak dapat dihindari.
4. Sektor Transportasi dan Penerbangan
Industri penerbangan menggunakan dolar AS sebagai mata uang acuan untuk mayoritas biaya operasional mereka. Komponen biaya seperti sewa pesawat, avtur, dan perawatan mesin sangat bergantung pada kurs asing. Tekanan ini membuat maskapai kesulitan mempertahankan tarif tiket yang kompetitif.
5. Sektor Properti dan Konstruksi
Bahan baku konstruksi seperti besi, baja khusus, dan interior mewah masih banyak yang diimpor. Selain itu, banyak pengembang memiliki utang dalam denominasi mata uang asing. Pelemahannya otomatis membuat nilai beban utang dan biaya proyek baru meningkat pesat.
Baca juga : Rupiah Melemah ke Rp17.660 per Dolar AS, Pasar Tunggu Sinyal The Fed
Data Dampak Pelemahan Mata Uang terhadap Sektor Usaha
| Sektor Usaha | Ketergantungan Bahan Baku Impor | Estimasi Kenaikan Biaya Operasional | Tingkat Risiko |
| Farmasi | Sangat Tinggi (90%+) | 15% – 20% | Tinggi |
| Manufaktur & Elektronik | Tinggi (60% – 80%) | 12% – 18% | Tinggi |
| Makanan & Minuman | Sedang (40% – 50%) | 8% – 12% | Sedang |
| Transportasi & Penerbangan | Sangat Tinggi (Bahan Bakar & Sewa) | 15% – 25% | Tinggi |
| Properti & Konstruksi | Sedang (Utang Valas & Besi) | 5% – 10% | Sedang |
Pemerintah Diminta Bergerak Cepat
Bank Indonesia dalam Rapat Dewan Gubernur Mei 2026 mempertimbangkan kenaikan BI-Rate untuk menahan laju pelemahan rupiah. Sementara itu, Kementerian Perdagangan mendorong UMKM meningkatkan ekspor sebagai strategi jangka menengah.
Ekonom CORE Yusuf Rendy Manilet mengingatkan, dampak pelemahan rupiah bersifat bertahap. “Dampaknya biasanya bertahap, bukan langsung sekaligus. Tapi jika tidak diatasi, tekanan akan semakin besar,” katanya.
Pemerintah kini diharapkan segera mengeluarkan stimulus fiskal untuk membantu sektor-sektor terdampak. Tanpa intervensi yang tepat, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di industri manufaktur dikhawatirkan bisa terjadi. Pelaku usaha juga diimbau untuk mengutamakan penggunaan bahan baku lokal alternatif guna menekan biaya.

