Beritakota.id, Jakarta – Datangnya bulan Dzulhijjah selalu menghadirkan suasana spiritual yang khas bagi umat Islam di seluruh dunia. Bulan yang identik dengan ibadah haji dan kurban ini bukan sekadar momentum ritual tahunan, melainkan juga menjadi pengingat tentang nilai keimanan, ketundukan, dan pengorbanan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dalam berbagai kajian keislaman, sepuluh hari pertama Dzulhijjah disebut sebagai hari-hari yang dimuliakan Allah. Pada hari-hari tersebut, umat Islam dianjurkan memperbanyak amal saleh seperti dzikir, takbir, tahmid, tahlil, sedekah, puasa sunnah, hingga ibadah kurban bagi yang mampu.
Dzulhijjah juga mengingatkan umat Islam pada perjalanan spiritual Nabi Ibrahim ‘alaihissalam beserta keluarganya.
Keteladanan Nabi Ibrahim menjadi simbol penghambaan total kepada Allah, terutama ketika menjalankan perintah-perintah yang berat dengan penuh keikhlasan dan keyakinan.
Kisah Siti Hajar yang berlari antara Bukit Shafa dan Marwah demi mencari air untuk putranya, Nabi Ismail, menjadi gambaran tentang kesabaran dan tawakal seorang hamba kepada Tuhannya. Peristiwa itu kemudian diabadikan dalam rangkaian ibadah haji yang terus dijalankan umat Islam hingga kini.
Selain itu, Nabi Ibrahim juga dikenal sebagai sosok yang menanamkan tauhid secara tegas. Dalam Al-Qur’an dikisahkan bagaimana beliau mempertanyakan tradisi kaumnya yang menyembah berhala. Nabi Ibrahim menegaskan bahwa hanya Allah satu-satunya Dzat yang layak disembah karena Dialah yang menciptakan, memberi petunjuk, memberikan rezeki, menyembuhkan penyakit, serta menghidupkan dan mematikan manusia.
Nilai tersebut menjadi pelajaran penting bagi kehidupan modern, ketika manusia kerap merasa bergantung sepenuhnya pada kemampuan, jabatan, harta, atau relasi yang dimiliki. Padahal, dalam ajaran Islam, seluruh nikmat dan pertolongan pada hakikatnya berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dalam salah satu doa yang diabadikan Al-Qur’an, Nabi Ibrahim menyebut Allah sebagai Dzat yang memberi makan dan minum, serta menyembuhkan ketika sakit. Pesan itu mengajarkan bahwa manusia wajib berikhtiar, namun tetap menyadari bahwa hasil akhir sepenuhnya berada dalam kehendak Allah.
Tidak hanya itu, Nabi Ibrahim juga memperlihatkan ketawadhuan luar biasa dengan tetap memohon ampun kepada Allah, meskipun beliau merupakan nabi dan kekasih Allah. Sikap tersebut menjadi pengingat bahwa setiap manusia membutuhkan ampunan dan rahmat Allah dalam kehidupannya.
Momentum Dzulhijjah pada akhirnya bukan hanya tentang ibadah kurban atau perayaan Iduladha semata, tetapi juga menjadi sarana pendidikan spiritual untuk memperkuat ketakwaan, memperbanyak amal kebajikan, dan membangun keikhlasan dalam beribadah.
Melalui semangat Dzulhijjah, umat Islam diajak untuk kembali menempatkan Allah sebagai tujuan utama kehidupan. Mengagungkan Allah tidak hanya dilakukan dalam ritual ibadah, tetapi juga diwujudkan dalam sikap sehari-hari, kepedulian sosial, serta keikhlasan dalam menjalani kehidupan.

