Beritakota.id, Jakarta – Bertepatan dengan Hari Anak Nasional, sebelum terbang ke Belanda, Azka Abdul Malik Albayroni memilih menemui Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman, Fahri Hamzah. Azka adalah penerima Beasiswa Garuda LPDP. Ia juga siswa SMA Pradita Dirgantara yang mengantongi 30 LoA dari universitas dunia.

Ia diterima di Australian National University, University of Sydney, UNSW Sydney, Wageningen University, NTU Singapura, hingga University of Toronto. Ia memilih University of Amsterdam. Azka ingin mendalami perencanaan kota yang berpihak pada manusia.

“Sebelum berangkat, saya ingin belajar dari pengambil kebijakan. Saya ingin tahu tantangan nyata perumahan Indonesia. Nantinya ilmu saya harus relevan untuk pembangunan tanah air,” ujar Azka.

Pertemuan itu bukan sekadar silaturahmi. Fahri Hamzah memberikan kuliah kebijakan secara langsung. Ia menjelaskan bagaimana sektor properti Indonesia telah berubah menjadi arena spekulasi. Tanah dan rumah tidak lagi berfungsi sebagai kebutuhan sosial. Keduanya menjelma komoditas investasi.

“Rumah harus dikembalikan sebagai hak dasar warga negara. Bukan sekadar aset finansial. Negara hadir untuk memastikan akses hunian layak bagi semua,” kata Fahri.

Ia menatap Azka. Ia ingin anak muda itu memahami akar persoalan sebelum mempelajari solusi di Eropa. Fahri menjelaskan kegagalan pasar properti. Banyak proyek mangkrak akibat spekulasi. Ia menyebut Meikarta, Pesona Square Mall, dan Foresque Residence sebagai contoh nyata.

“Kegagalan itu terjadi karena pasar dibiarkan liar. Ujungnya konsumen yang dirugikan,” jelasnya.

Fahri mengusulkan negara menjadi Business Angel bagi sektor properti. Negara tidak perlu mematikan swasta. Negara harus mengarahkan pengembang membangun perumahan rakyat. Skemanya harus memiliki kepastian pasar dan pendapatan stabil.

“Pengembang tetap bertahan. Masyarakat mendapat rumah terjangkau. Itu keseimbangan yang harus diciptakan,” ujarnya.

Ia juga mengkritik program Tapera. Tujuannya baik, tetapi desainnya bermasalah. Fahri menilai program itu belum menjamin pemerataan akses. Ia mengusulkan sistem antrean nasional untuk rumah bersubsidi. Mekanismenya seperti pengelolaan ibadah haji.

Baca juga: Raih 30 LoA Dunia, Azka Abdul Malik Temui Wamen PU Sebelum Kuliah di Belanda

“Semua terdata. Semua terukur. Tidak ada spekulan. Tidak ada perantara. Negara mengawasi penuh,” tegasnya.

Ia sadar usul itu akan mendapat perlawanan. Kelompok yang diuntungkan dari perdagangan tanah pasti menolak. Namun Fahri menyebut reformasi adalah keharusan. Keadilan akses perumahan tidak bisa ditawar.

Fahri lalu menyinggung fondasi pemikiran Sumitro Djojohadikusumo. Negara adalah aktor utama dalam menjaga kesejahteraan rakyat. Ia juga mengaitkan gagasannya dengan World Social Forum yang menolak komersialisasi barang publik. Air, kesehatan, dan perumahan tidak boleh menjadi komoditas.

“Azka, kamu akan belajar di Belanda. Di sana kamu akan melihat bagaimana negara mengelola ruang untuk manusia. Bukan untuk kapital. Bukan untuk segelintir orang. Pelajari itu. Bawa pulang. Terapkan di sini,” pesan Fahri.

Azka mendengarkan dengan saksama. Ia mencatat setiap kata. Baginya, ini adalah bekal sebelum ia duduk di kelas urban planning. Ia tidak ingin menjadi lulusan yang hanya pintar teori. Ia ingin ilmunya membumi.

“Kami berbicara tentang bagaimana rumah bisa kembali menjadi hak dasar. Azka harus memahami bahwa perencanaan kota bukan sekadar menggambar peta. Itu tentang keadilan,” ujar Fahri.

Fahri menutup pertemuan dengan kalimat yang menusuk. Ia menatap Azka dan mengatakan, “Kamu adalah salah satu generasi emas. Tugasmu bukan hanya membawa gelar. Tugasmu adalah pulang dan membangun ulang sistem yang saat ini belum adil. Belajarlah dari kesalahan kita. Perbaikilah. Jangan ulangi.”

Azka mengangguk. Perjalanannya baru dimulai. Dari ruang diskusi itu, ia akan terbang ke negeri kincir angin. Ia akan belajar bagaimana kota dibangun untuk manusia. Dan suatu hari, ia akan kembali. Bukan hanya dengan ijazah, tetapi dengan jawaban atas pertanyaan yang ia bawa sejak awal: bagaimana membangun Indonesia yang adil dari akarnya.

Rachma Fitriati, dosen FIA UI dan ibu Azka, menyampaikan apresiasi dan menilai momen ini sangat penting. Seorang pejabat negara tidak hanya hadir, tetapi memberikan inspirasi. Seorang pemimpin tidak hanya memerintah, tetapi membimbing. Dan seorang anak bangsa tidak hanya pergi dengan Beasiswa Garuda, tetapi pulang dengan amanah. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *