Beritakota.id, Jakarta – Pernyataan Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo dalam diskusi bersama media memicu sorotan publik. Di satu sisi, ia mengimbau agar masyarakat tidak berprasangka buruk terhadap pegawai Kementerian Pekerjaan Umum (PU). Namun di sisi lain, kritik tajam yang dilontarkannya terhadap generasi muda di lingkungan kementerian justru dinilai sejumlah pihak bertolak belakang dengan pesan tersebut.
Dalam forum yang juga membahas penanganan arus mudik dan arus balik Lebaran, Dody menegaskan pentingnya menjaga marwah institusi. Ia mengingatkan agar publik tidak menggeneralisasi bahwa seluruh pegawai Kementerian PU bermasalah, serta menekankan bahwa masih banyak aparatur yang bekerja dengan integritas.
Namun, dalam kesempatan yang sama, ia juga menyampaikan kritik keras terhadap generasi muda pegawai. Pernyataan tersebut muncul dalam konteks upaya pembenahan internal birokrasi yang disebutnya masih menyisakan praktik tidak sehat dari masa lalu.
Baca juga : Dody Hanggodo Sahur Bersama Warga, Pastikan Hunian Korban Bencana Siap Jelang Lebaran
Komentar tersebut sendiri diawali dengan tekad Dody untuk mengubah praktik tak sehat di KemenPU. “Saya tidak mau seperti dulu lagi. Kalau eselon 1 salah, dibuang ke eselon 2, ke 3, dibuang eselon 10. Eselon 10 masuk penjara itu tidak boleh. Itu memberikan contoh tidak baik ke generasi muda PU,” jelas Dody menanggapi pertanyaan wartawan mengenai kondisi terbaru terkait dinamika internal di Kementerian PU yang terlanjur menjadi sorotan publik.
Namun, pernyataan berikutnya, Dody justru menghantam moral generasi muda Kementerian PU. “Hari ini menurut saya generasi muda PU sudah agak konslet sedikit otaknya. Nah itu harus saya cuci. Generasi muda PU hari ini menurut saya akan berlomba-lomba mencuri uang APBN untuk bisa mendapatkan jabatan eselon 1, 2, 3 secepat-cepatnya. Nah, itu tidak boleh. Nah, itu yang saya gembar-gemborkan dari sekarang,” ujarnya.
Pernyataan tersebut memunculkan kesan paradoks, di satu sisi menteri meminta publik tidak berprasangka buruk terhadap pegawai kementeriannya, tetapi di sisi lain ia sendiri melabeli generasi muda Kementerian PU dengan tudingan serius yang bahkan bisa disebut menghina.
Ironisnya, secara kronologis justru generasi muda pegawai kementerian merupakan kelompok yang paling kecil kemungkinan terlibat dalam praktik lama yang selama ini disorot publik. Pasalnya, banyak pegawai muda di Kementerian PU merupakan rekrutmen baru dalam satu dekade terakhir melalui sistem seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) yang lebih terbuka dan kompetitif.
Sementara berbagai kasus penyimpangan yang pernah mencuat di sektor infrastruktur umumnya berkaitan dengan proyek-proyek lama yang melibatkan pejabat struktural tingkat menengah hingga senior. Karena itu, kritik yang diarahkan kepada generasi muda justru dinilai berpotensi menimbulkan kesan bahwa masalah struktural birokrasi dilimpahkan kepada kelompok pegawai yang relatif baru masuk sistem. (Herman Efendi/Lukman Hqeem)

