Beritakota.id, Jakarta – Pasar komoditi emas saat ini berada dalam kondisi yang dikenal sebagai “paradoks makro”. Dalam kondisi geopolitik yang genting, biasanya harga emas akan mengalami kenaikan seiring dengan maraknya permintaan emas. Logam Mulia yang dianggap sebagai asset safe haven, sering mendapatkan keuntungan disituasi ini.
Saat ini, dengan terjadinya penutupan Selat Hormuz telah menimbulkan gangguan ±20% suplai minyak global. IEA menyebut ini sebagai supply shock terbesar dalam sejarah modern. Dampaknya adalah inflasi melonjak cepat. Gangguan geopolitik di Timur Tengah dan potensi inflasi global, semestinya membuat harga emas saat ini naik.
Alih-alih meroket, harga emas justru turun. Para pelaku pasar nampaknya lebih mengkhawatirkan dampak inflasi tinggi. Kondisi ini justru dianggap sebagai alasan kuat bagi bank-bank sentral untuk tetap mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi yang lebih lama.
Baca juga : Emas Tertekan di Tengah Bayang-Bayang Inflasi Global
Kondisi ini tercermin dari imbal hasil obligasi AS yang mengalami kenaikan. Sementara itu juga membuat opportunity cost bagi asset seperti emas yang non-yielding mengalami tekanan harga.
Prospek kebijakan The Fed juga sangat kritis dalam minggu ini. Sebagai salah satu penggerak sentiment utama pasar, putusan The FED yang menahan suku bunganya berpotensi membawa risiko. Pasar sendiri terlihat belum siap sepenuhnya sehingga ini jadi alasan utama tekanan harga emas saat ini
Bagi ECB dan Bank Of England serta Bank of Canada, mereka menghadapi dilema; satu sisi inflasi naik akibat dorongan kenaikan harga minyak atau energi, disisi lain hal ini berpotensi membawa perlambatan ekonomi. Ini tentu membuat bank-bank sentral tersebut akan mengetatkan kebijakan moneter dengan tetap menjadi narasi hawkishnya.
Sementara Bank of Japan, kemungkinan masih akan menjalankan kebijakan moneter yang ultra longgar. Dampak kebijakan mereka ini akan minim bagi fluktuasi harga emas.
Secara makro, sentimen unggulan dalam minggu ini tentu adalah Data Ketenaga Kerjaan AS. Angka NFP (Nonfarm Payroll) bulan Apil yang akan dilaporkan bisa menjadi katalis kunci. Jika angka ini disampaikan cukup kuat, akan mendorong yield naik Bersama dengan dolar AS. Bagi Emas, tentu akan menjadi sentiment negative dan membuat aksi sell-off berlanjut.
Angka NFP yang lemah, diikuti dengan proyeksi pemangkasan suku bunga lebih lanjut, akan membuat Dolar AS melemah dan harga emas berpeluang menguat kembali secara agresif.
Dengan demikian, sebaiknya melakukan perdagangan secara defensive, hingga konfirmasi The Fed terjadi dan data NFP tersampaikan. Secara struktur perdagangan, kondisinya bisa bullish, meski secara taktis masih bearish.
Emas dapat dikatakan saat ini tidak lagi pure safe haven, komoditas ini dianggap sekarang lebih sensitif kepada Yield obligasi, kebijakan Fed dan penguatan Dolar AS. Memang ini bukan langkah putar balik bearish yang besar, namun ini adalah corrective phase dalam bullish macro trend. Sekali lagi pasar akan menunggu data NFP dan pernyataan Jerome Powell.
Sejumlah hal penting sebelum melakukan transaksi saat ini adalah posisi harga emas pada time frame per jam masih menunjukkan sentiment bearish.Harga bergerak di bawah EMA 50/100. Dengan demikian, lakukan aksi jual (SELL) hanya di resistance atau saat terjadi breakdown. Hindari buy di tengah range. Fokus perdagangan di sesi London dan awal perdagangan New York. Awasi pergerakan bunga obligasi AS, khususnya tenor 10 tahun.
Pada akhirnya, hal yang patut di garis bawahi adalah sentiment Bearish masih dominan. Mengambil posisi sell on rally, dianggap bisa berpeluang lebih baik. Perdagangan Intraday akan cenderung Volatile dimana peluang besar transaksi dua arah tapi bias sell cukup kuat.
Kisaran perdagangan mingguan masih akan di area 4500–4725, dimana pasar masih menantikan sentiment Bullish yang bersumber dari potensi data meski ini juga belum invalid. This is not a gold rally market, this is a rate – driven battlefield. (Lukman Hqeem)

