Beritakota.id, Jakarta – Pada akhir November 2025, One Satrio meresmikan dimulainya Festive Season Series dengan sebuah perayaan yang langsung mencuri perhatian publik Jakarta: penyalaan pohon Natal raksasa setinggi 10 meter yang tidak hanya berfungsi sebagai dekorasi, melainkan sebagai sebuah instalasi seni ruang publik dengan konsep Christmas Tree Village—miniatur desa Natal yang hidup, hangat, dan imersif.
Stella Kohdong, General Manager Commercial Property PT Jakarta Setiabudi Internasional Tbk (JSI), yang memimpin pengembangan program dan keseluruhan pengalaman Natal di One Satrio menjelaskan filosofi instalasi tersebut.
“Kami tidak ingin membuat pohon Natal yang sekadar tinggi; kami ingin menghadirkan sebuah cerita. Dalam setiap program One Satrio, kami selalu bertanya: bagaimana membuat ruang publik ini lebih hidup? Untuk Festive Season, jawabannya adalah menghadirkan cerita. Kami ingin menghadirkan pengalaman yang membuat pengunjung merasakan seolah-olah mereka memasuki sebuah desa Natal—bukan sekadar melihat pohon besar,” ujar Stella.

Konsep itulah yang melahirkan pohon Natal multilapis yang unik: struktur setinggi 10 meter yang dihiasi deretan cottage kecil bergaya Eropa. Setiap rumah dibuat berbeda, mulai dari jendela, balkon mini, hingga pintu kecil yang menimbulkan kesan bahwa ada kehidupan di dalamnya.
Stella mengungkap bahwa detail dekoratif menjadi fokus utama tim kreatif One Satrio.
“Setiap elemen harus terasa nyata. Kami memperlakukan instalasi ini seperti set film; penuh tekstur, warna, dan detail,” jelasnya.
Unsur yang paling memikat adalah porch musim dingin berupa teras kecil yang dirancang seperti pintu masuk rumah kayu di desa bersalju. Di sinilah pengunjung paling sering berfoto. Tekstur kayu, wreath, bingkai lampu, hingga komposisi ornamen dirancang sedemikian rupa agar menciptakan ilusi sebuah rumah Natal sungguhan.
Saat malam tiba, suasananya berubah total. Ratusan lampu dekoratif menyala dengan ritme lembut yang menyoroti setiap sudut pohon, cottage, dan jalur setapak di sekelilingnya. Efek visual yang tercipta membuat pengunjung merasa berada di tengah desa Natal, diterangi cahaya lilin dan atmosfer musim dingin klasik.
“Cahaya adalah elemen utama. Kami ingin pohon ini terlihat hidup—bukan statis. Setiap jendela kami buat seolah memancarkan kehangatan dari dalam rumah,” tambah Stella.

Tidak seperti dekorasi musiman yang biasanya hanya menjadi latar foto, instalasi ini dirancang untuk di-explore.
“Kami sengaja menempatkan pohon di titik paling strategis di Central Garden. Orang bisa berjalan mengelilinginya dari segala sisi. Experience-nya harus 360 derajat,” jelas Stella.
Penempatan rumah-rumah kecil pada pohon tersebut menuntun pengunjung membentuk jalur alami, seolah-olah mereka sedang berjalan menyusuri desa pada malam Natal. Inilah yang membuat pengalaman di One Satrio terasa imersif dan interaktif.
“Ketika pengunjung bergerak mengikuti jalur itu, mereka menjadi bagian dari cerita. Itu yang ingin kami capai,” kata Stella.
Mengiringi pohon desa 10 meter tersebut, Central Garden berubah total menjadi Christmas Village—dengan mini plaza, thematic photo spots, serta ambience Natal klasik yang membuat seluruh kawasan tampak seperti set film.
“Kami ingin area ini hidup sepanjang Desember, bukan hanya saat ceremony. Karena itu kami memilih kombinasi program yang dinamis,” ujar Stella.
Sepanjang Festive Season, One Satrio menghadirkan berbagai aktivitas seperti Play & Photo with Santa Under the Snow, Christmas Carols, Santa Parade, Santa Bubble Show, Christmas Sunday Jazz Nite dan Santa Lucky Dip. Semua aktivitas dirancang untuk menambah ritme kehidupan dalam ruang publik dan menjadikan pohon ini bukan hanya dekorasi, tetapi poros seluruh perayaan.

Puncak festival dimulai dengan prosesi penyalaan pertama pohon Natal pada Jumat (29/11/2025) oleh Anton Goenawan, Direktur Keuangan dari PT. Jakarta Setiabudi Internasional Tbk., (JSI). Ketika lampu-lampu cottage kecil itu menyala bersamaan, suasana Central Garden berubah seketika. JSI melihat instalasi ini sebagai representasi komitmen perusahaan dalam menghadirkan ruang publik yang kreatif, menyentuh emosi, dan relevan bagi masyarakat urban Jakarta.
“Kami ingin One Satrio dikenal bukan hanya sebagai gedung perkantoran atau kompleks komersial, tetapi sebagai tempat berkumpul, bercerita, dan merayakan momen. Festive Season ini adalah cara kami memberikan hadiah kecil kepada kota,” jelas Anton Goenawan.
Menurutnya, dengan perpaduan desain, storytelling, atmosfer, dan interaksi publik, One Satrio menegaskan dirinya sebagai destinasi perkotaan yang tidak hanya modern tetapi juga hangat dan penuh karakter. Tidak mengherankan jika Christmas Tree Village ini diprediksi menjadi salah satu instalasi Natal paling banyak difoto dan dibagikan di media sosial di Jakarta.
Lahirnya One Satrio sendiri bukan sebagai proyek yang berdiri sendiri, namun kristalisasi 50 tahun perjalanan JSI. Bisa dikatakan bahwa One Satrio adalah representasi dari JSI hari ini. Ini bukan hanya gedung, tetapi pernyataan bahwa JSI siap memasuki era baru.
Saat Indonesia memasuki dekade 2010-an, teknologi, dinamika bisnis, dan gaya hidup urban mengubah cara orang bekerja dan berinteraksi dengan ruang, termasuk warga Jakarta. Kota ini berkembang cepat. Orang ingin efisiensi, konektivitas, dan pengalaman. Itu membuat para developer mengubah cara berpikir dimana gedung tidak bisa lagi berdiri sendiri—semua harus saling terhubung.
JSI mulai mengadopsi pendekatan modern dengan integrasi office–retail–hospitality, orientasi pada kenyamanan pengguna, dan desain yang lebih manusiawi. Dari sinilah konsep One Satrio mulai terbentuk. One Satrio sebagai jawaban perubahan perilaku masyarakat urban seperti kantor harus fleksibel, sehat, efisien, dan mendukung gaya kerja modern.
Pada akhirnya, One Satrio telah menjadi landmark baru Ibukota. Bukan hanya untuk lima tahun ke depan, tetapi untuk generasi berikutnya. Ini bukan akhir dari perjalanan JSI, melainkan langkah penting menuju masa depan. One Satrio bukan lagi sekadar gedung premium, tetapi manifestasi evolusi panjang JSI sebagai salah satu penentu arah landscape properti Jakarta. (Lukman Hqeem)

