Beritakota.id, Jakarta – Di era ketika layar ponsel hadir di meja makan, di kamar tidur, bahkan di genggaman anak-anak sejak usia dini, peran perempuan mengalami perluasan yang tak sederhana. Ia bukan lagi hanya pengelola rumah tangga, bukan semata penggerak ekonomi keluarga, tetapi juga penjaga nilai, pendidik pertama, dan pelindung anak di ruang digital yang tak kasatmata.
Inilah pesan yang mengemuka dalam forum She-Connects: Perempuan Terkoneksi Penggerak Ekonomi Negeri yang digelar Kementerian Komunikasi dan Digital. Di hadapan ratusan perempuan dari berbagai latar—ibu rumah tangga, pelaku UMKM, kreator konten, hingga profesional—Menkomdigi Meutya Hafid menegaskan satu hal penting: ketika perempuan masuk ke dunia digital, ia harus masuk sebagai subjek yang berdaya, bukan sekadar pengguna.
Perempuan, kata Meutya, memiliki posisi strategis dalam ekosistem digital. Bukan hanya karena jumlahnya besar, tetapi karena perannya yang berlapis. Ia adalah pengambil keputusan di rumah, pengelola keuangan keluarga, sekaligus figur rujukan anak-anak dalam memahami dunia. Maka ketika perempuan cakap digital, dampaknya tidak berhenti pada dirinya sendiri—ia menjalar ke keluarga, komunitas, bahkan ke masa depan generasi berikutnya.
Namun, dunia digital bukan ruang yang sepenuhnya ramah. Tantangan terbesar justru hadir di ruang paling privat: rumah. Anak-anak hari ini adalah digital native. Mereka lahir dan tumbuh bersama gawai, jauh lebih cepat daripada orang tuanya mempelajari risikonya. Data yang dipaparkan Menkomdigi mencerminkan kegelisahan ini: hampir separuh anak usia 8–17 tahun pernah mengalami penipuan daring, dan lebih dari 40 persen merasa tidak nyaman di ruang digital. Angka-angka ini bukan statistik kering—ia adalah cerita tentang anak-anak yang kebingungan, takut, dan sering kali tidak tahu harus bercerita kepada siapa.
Baca juga : Dianggap Menimbulkan Ancaman, Akses Aplikasi Grok Ditutup
Di titik inilah peran ibu menemukan dimensi barunya. Pola asuh hari ini tidak lagi cukup dengan melarang atau membatasi. Ia menuntut kehadiran yang sadar: memahami aplikasi yang digunakan anak, membangun dialog yang jujur, dan menanamkan literasi digital sebagai bagian dari nilai keluarga. Ibu bukan “polisi digital”, melainkan pendamping yang membantu anak mengenali mana ruang aman, mana yang berbahaya.
Kemandirian perempuan di era digital juga tak bisa dilepaskan dari aspek ekonomi. Dunia daring membuka peluang baru: UMKM berbasis rumah, usaha kreatif, hingga personal branding. Melalui forum seperti She-Connects, pemerintah mendorong perempuan untuk tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi pelaku aktif yang memanfaatkannya untuk memperkuat ekonomi keluarga. Ketika perempuan memiliki akses dan pengetahuan, ia memiliki daya tawar—baik di pasar maupun dalam pengambilan keputusan di rumah.
Menariknya, kekuatan perempuan tidak selalu bekerja secara formal. Meutya menyinggung sesuatu yang sangat khas: kekuatan “mulut ke mulut”. Komunitas ibu-ibu, percakapan informal, dan solidaritas keseharian justru sering menjadi saluran literasi paling efektif. Dari satu ibu ke ibu lain, pengetahuan tentang penipuan daring, keamanan data, hingga etika bermedia sosial menyebar dengan cepat dan empatik.
Hal ini sejalan dengan pandangan Dirjen Komunikasi Publik dan Media Kemkomdigi, Fifi Aleyda Yahya, yang menyebut She-Connects sebagai ruang belajar dan saling menguatkan. Ketika perempuan berkumpul, energinya bukan hanya besar—tetapi juga menular. Ia menciptakan rasa “aku tidak sendirian”, sebuah fondasi penting bagi keberanian untuk belajar dan beradaptasi.
Pada akhirnya, berbicara tentang perempuan di era digital bukan sekadar soal akses teknologi. Ini adalah soal keseimbangan peran: antara kemandirian dan pengasuhan, antara produktivitas dan perlindungan, antara dunia luar dan ruang domestik. Perempuan hari ini menjalani semua itu secara bersamaan—dan justru di sanalah kekuatannya.
Di balik layar ponsel, di balik unggahan media sosial, dan di balik keputusan ekonomi kecil sehari-hari, perempuan sedang membentuk masa depan digital yang lebih manusiawi. Bukan dengan suara paling keras, melainkan dengan kehadiran yang konsisten—sebagai ibu, sebagai penggerak ekonomi, dan sebagai penjaga nilai di dunia yang terus terhubung.
Dan mungkin, itulah esensi sejati dari pemberdayaan perempuan di era digital: bukan sekadar terkoneksi, tetapi berdaulat atas pilihan, pengetahuan, dan masa depan keluarganya. (Infopublik/Lukman Hqeem)

