Beritakota.id, Jakarta – Persija Jakarta resmi menjadi klub sepak bola pertama di Indonesia yang menggunakan bus listrik sebagai kendaraan operasional tim. Peluncuran bus listrik tersebut dilakukan di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Rabu (20/5/2026), sekaligus menandai langkah baru dunia olahraga nasional menuju transportasi ramah lingkungan dan zero emisi.
Manajer Persija Jakarta, Ardhi Tjahjoko, mengatakan penggunaan bus listrik menjadi bagian dari transformasi modern klub, termasuk mendukung pengurangan emisi karbon di sektor transportasi.
“Persija merupakan klub pertama yang menggunakan bus listrik. Nanti di Sawangan juga akan dibuat charging station untuk kebutuhan operasional bus,” ujar Ardhi saat peluncuran bus listrik Persija kepada Beritakota.id.
Ardhi mengungkapkan bus anyar tersebut dirancang lebih nyaman dibanding armada sebelumnya. Ruang kabin dibuat lebih lega dengan komposisi kursi yang memberikan kenyamanan ekstra bagi pemain, terutama pemain asing bertubuh tinggi.
“Lebih lega dan nyaman. Tempat duduknya dibuat lebih luas supaya pemain lebih nyaman saat perjalanan,” katanya.

Bus Listrik Persija Dibanderol di Atas Rp5 Miliar
Bus listrik milik Persija Jakarta merupakan hasil kolaborasi antara karoseri Laksana dan PT Samudera Teknindo Hydraumatic sebagai penyedia sasis impor dari Hyundai.
Operation Manager PT Samudera Teknindo Hydraumatic, Hendra Tjandra, menjelaskan spesifikasi bus disesuaikan dengan kebutuhan Persija, mulai dari warna, interior, hingga konfigurasi kursi.
“Kami import chassis Hyundai, lalu dikirim ke Laksana untuk dibuat karoserinya sesuai permintaan Persija. Semua spesifikasi mengikuti kebutuhan klien,” ujar Hendra.
Menurutnya, harga bus listrik tersebut diperkirakan berada di atas Rp5 miliar, tergantung spesifikasi dan fitur yang digunakan. Bus berukuran 12 meter itu memiliki kapasitas lebih dari 40 penumpang dengan baterai berkapasitas 300 kW.
“Bus ini sangat senyap, minim getaran, dan lebih nyaman dibanding bus diesel konvensional,” katanya.
Sekali Cas Bisa Tempuh 250 Kilometer
Hendra menjelaskan, bus listrik tersebut mampu menempuh jarak sekitar 250 kilometer dalam sekali pengisian daya apabila digunakan dengan kecepatan stabil di kisaran 60 hingga 70 kilometer per jam.
Untuk kecepatan maksimum, bus dapat melaju lebih dari 100 kilometer per jam, meski konsumsi baterai akan lebih cepat apabila digunakan dalam kecepatan tinggi.
“Kalau dipakai stabil, sekali charge bisa sekitar 250 kilometer. Tapi semakin tinggi kecepatannya, baterai juga lebih cepat habis,” ujarnya.
Bus listrik itu menggunakan baterai serupa mobil listrik Hyundai IONIQ 5 dengan teknologi berbasis NMC (Nickel Manganese Cobalt). Hendra menyebut masa pakai baterai diperkirakan mencapai 6 hingga 8 tahun.
Baca Juga: Persija Jakarta Pesta Gol di GBK, Hajar Persis Solo 4-0 dan Panaskan Perburuan Juara
Di sisi lain, Hendra menilai pasar bus listrik di Indonesia masih didominasi proyek pemerintah, terutama Transjakarta. Saat ini, jumlah bus listrik masih sekitar 400 unit dari total 10 ribu armada Transjakarta.
Namun, pemerintah disebut menargetkan seluruh armada Transjakarta sudah berbasis listrik pada 2030.
“Penggantian bus ke EV dalam dua sampai tiga tahun ke depan harusnya sangat masif. Karena targetnya 100 persen transportasi Jakarta terelektrifikasi pada 2030,” jelasnya.
Meski demikian, ia mengakui harga investasi awal bus listrik masih menjadi tantangan terbesar dibanding bus konvensional berbahan bakar diesel.
“Bus biasa mungkin Rp2 miliar sudah dapat, sedangkan bus listrik jauh lebih mahal. Jadi investasi awal masih jadi tantangan utama,” pungkasnya.

