Beritakota.id, Jakarta – Pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menunjukkan komitmen kuat dalam memberantas kemiskinan ekstrem melalui program strategis, Sekolah Rakyat (SR). Program ini bertujuan membuka akses pendidikan seluas-luasnya bagi anak-anak dari keluarga miskin ekstrem, sebagai langkah krusial untuk memutus lingkaran kemiskinan.

Wakil Menteri Sosial RI, Agus Jabo Priyono, menegaskan bahwa Sekolah Rakyat dirancang sebagai intervensi strategis negara untuk menutup kesenjangan pendidikan. “Semua anak Indonesia harus sekolah, baik yang kaya maupun yang miskin. Negara tidak boleh membiarkan satu pun anak tertinggal,” ujarnya dalam Forum Merdeka Barat 9 (FMB9) NgobrolINdonesia, dalam siaran tertulisnya, Jumat (21/11).

Kemensos mencatat sekitar 4 juta anak Indonesia mengalami putus sekolah atau belum pernah mengenyam pendidikan. Untuk mengatasi hal ini, pemerintah menggunakan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) untuk mengidentifikasi calon siswa yang paling membutuhkan. Verifikasi lapangan dilakukan oleh tim gabungan untuk memastikan program tepat sasaran.

“Untuk pertama kalinya, kita punya data tunggal yang membuat kita bisa menjemput anak-anak paling rentan secara tepat dan tidak salah sasaran,” jelas Agus Jabo.

Pendidikan Berkualitas, Lebih dari Sekadar Belajar di Kelas

Sekolah Rakyat dirancang dengan konsep boarding school, menyediakan fasilitas lengkap seperti ruang kelas modern, laboratorium, perpustakaan, hingga lapangan olahraga. Siswa mendapatkan laptop, seragam, serta makanan bergizi tiga kali sehari.

Agus Jabo menekankan, sekolah tidak hanya berfokus pada akademik. “Guru-guru di Sekolah Rakyat harus menjadi orang tua kedua—bukan sekadar mengajar, tetapi memulihkan, membimbing, dan menanamkan nilai hidup baru,” tegasnya. Kurikulum dirancang fleksibel dengan konsep multientry-multiexit, serta dilengkapi pendidikan karakter dan keterampilan vokasi sesuai potensi daerah.

Pendekatan Holistik: Pemberdayaan Orang Tua dan Perbaikan Rumah

Intervensi pemerintah tidak hanya berfokus pada siswa, tetapi juga pada pemberdayaan orang tua dan perbaikan rumah tidak layak huni. Langkah ini dilakukan untuk memastikan anak-anak dapat belajar tanpa beban ekonomi keluarga.

“Anaknya kita sekolahkan, orang tuanya kita berdayakan, rumahnya kita perbaiki. Begitulah cara kita memastikan mereka tidak kembali ke lingkaran kemiskinan,” jelas Agus Jabo.

Cetak Generasi Emas: Perubahan Nyata dan Masa Depan Terjamin

Hasil positif mulai terlihat. Siswa yang awalnya minder kini lebih percaya diri dan menunjukkan peningkatan akademik yang signifikan. Perubahan perilaku positif juga terlihat jelas. Pemerintah berhasil membangun 166 sekolah rintisan, melampaui target awal.

Kemensos bekerja sama dengan BUMN, perusahaan swasta, dan perguruan tinggi untuk menjamin masa depan lulusan. Jalur masuk tanpa tes dan lapangan pekerjaan disiapkan.

“Tidak ada gunanya membangun sekolah jika setelah lulus mereka kembali ke habitat kemiskinan. Masa depan mereka harus dipastikan sejak sekarang,” pungkas Agus Jabo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *