Beritakota.id, Jakarta – PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA) resmi menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025 dengan keputusan strategis yang menegaskan arah ekspansi bisnis dan komitmen terhadap pemegang saham. Salah satu poin utama adalah pembagian dividen tunai sebesar 70% dari laba bersih, atau lebih dari Rp144,7 miliar, setara Rp162,68 per saham.
Keputusan ini sekaligus menegaskan posisi Prodia sebagai emiten sektor kesehatan yang konsisten menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan imbal hasil bagi investor. Berdasarkan paparan publik yang disampaikan manajemen, rasio dividen tersebut juga menjadi yang tertinggi dalam beberapa tahun terakhir, mencerminkan kinerja keuangan yang solid di tengah dinamika ekonomi.
Direktur Utama Prodia, Liana Kuswandi, menegaskan bahwa hasil RUPS bukan sekadar formalitas, melainkan langkah strategis untuk memperkuat fondasi organisasi.
“Keputusan yang dihasilkan dari RUPST ini merupakan langkah strategis dalam memperkuat struktur organisasi agar semakin efisien, terintegrasi, dan selaras dengan arah bisnis Perseroan ke depan,” ujarnya.
Ia menambahkan, penyesuaian struktur manajemen diharapkan membuat perusahaan lebih adaptif terhadap perubahan industri kesehatan yang kian dinamis.
“Dengan tata kelola perusahaan yang transparan dan akuntabel, Perseroan optimis dapat terus menciptakan nilai tambah bagi pemegang saham serta menjaga kinerja yang sehat dan berkelanjutan ke depan,” lanjut Liana.
Baca juga : Prodia Luncurkan PCMC, Terobosan Multiomics untuk Pengobatan Presisi di Indonesia
Kinerja 2025: Adaptif di Tengah Tekanan Global
Sepanjang 2025, Prodia menunjukkan daya tahan bisnis yang kuat. Hal ini tercermin dari berbagai capaian operasional, termasuk peluncuran 38 jenis tes baru serta pengembangan fasilitas Next Generation Laboratory melalui Prodia Clinical Multiomics Centre (PCMC).
“Sepanjang 2025, Prodia menunjukkan daya tahan dan kemampuan adaptasi di tengah dinamika ekonomi dengan meluncurkan 38 tes baru dan menghadirkan Next Generation Laboratory melalui PCMC,” jelas Liana.
Tak hanya itu, ekspansi jaringan juga terus berlanjut. Prodia kini memiliki lebih dari 400 outlet yang tersebar di 34 provinsi. Perseroan juga memperluas kerja sama internasional hingga ke Taiwan, Malaysia, dan Timor Leste.
Transformasi digital menjadi pilar penting.
“Transformasi digital juga terus kami dorong, tercermin dari kenaikan lebih dari 70% (YoY) pengunduh aplikasi U by Prodia,” ungkapnya.
Langkah strategis lain adalah masuk ke sektor terapi regeneratif melalui akuisisi 30% saham PT Prodia Stemcell Indonesia (ProSTEM).
“Kami juga mengambil langkah strategis dengan mulai melakukan terapi regeneratif melalui pembelian 30% saham ProSTEM untuk memperkuat fondasi pertumbuhan ke depan,” tambahnya.
Arah 2026: Precision Medicine dan Ekspansi Layanan
Memasuki 2026, Prodia menargetkan penguatan layanan berbasis precision medicine, termasuk pengembangan specialty clinic seperti Stem Cell Clinic serta Autoimmune & Longevity Clinic.
Dari sisi keuangan, Direktur Keuangan & Keberlanjutan, Marina Eka Amalia, menekankan pendekatan ekspansi yang lebih selektif dan terukur.
“Prodia berkomitmen untuk terus memperkuat kinerja bisnis secara berkelanjutan melalui pengembangan layanan yang relevan dengan kebutuhan pasar serta didukung oleh pengelolaan investasi yang terarah,” ujarnya.
Ia menambahkan, fokus utama ke depan adalah digitalisasi layanan dan optimalisasi keunggulan kompetitif perusahaan.
“Setiap langkah ekspansi kami rancang secara selektif agar tidak hanya memperluas akses layanan, tetapi juga menciptakan nilai tambah jangka panjang bagi pelanggan, pemegang saham, dan seluruh pemangku kepentingan,” jelas Marina.
Menurutnya, kekuatan Prodia dalam pengembangan tes berbasis teknologi canggih menjadi pembeda utama di industri.
“Keunggulan Prodia dalam pengembangan tes-tes advanced berbasis precision medicine juga menjadi diferensiasi penting yang memperkuat daya saing Perseroan sekaligus mendorong pertumbuhan pendapatan,” tegasnya.
Strategi Komersial dan Kolaborasi
Sementara itu, Direktur Komersial & Kemitraan, Indriyanti Rafi Sukmawati, menyoroti pentingnya optimalisasi layanan dan kolaborasi strategis.
“Kami terus mengembangkan dan mengoptimalkan layanan, baik yang existing maupun yang baru, termasuk melalui rehabilitasi sejumlah cabang serta peningkatan kapabilitas untuk menjangkau lebih banyak pelanggan dan meningkatkan kenyamanan layanan,” ujarnya.
Ekspansi juga dilakukan melalui kemitraan lintas sektor.
“Kami juga melakukan kolaborasi dengan mitra strategis untuk menunjang layanan diagnostik yang semakin komprehensif, serta membuka peluang kemitraan internasional,” tambahnya.
Ia optimistis strategi tersebut akan membuka peluang pertumbuhan baru.
“Kami optimis dengan berbagai inisiatif ini, dapat memperluas jangkauan layanan, memberikan layanan pemeriksaan yang semakin berkualitas, sekaligus membuka peluang pertumbuhan baru di masa mendatang,” kata Indri.
Outlook Industri: Momentum Kesehatan Preventif
Berdasarkan materi paparan publik yang ditampilkan, industri kesehatan Indonesia diproyeksikan tetap tumbuh kuat, didukung oleh meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap layanan preventif dan skrining dini. Selain itu, tren digitalisasi kesehatan, integrasi data medis, serta adopsi teknologi seperti AI dan genomik menjadi katalis utama.
Prodia melihat peluang besar pada layanan diagnostik berbasis teknologi tinggi, termasuk multiomics dan regenerative medicine, sejalan dengan kebutuhan pasar yang semakin personal dan presisi.
Dengan kombinasi dividen tinggi, transformasi bisnis, serta ekspansi layanan berbasis teknologi, Prodia menegaskan posisinya sebagai pemain utama di industri diagnostik nasional dan bukan hanya bertahan, tetapi juga agresif menjemput pertumbuhan di era kesehatan modern. (Lukman Hqeem)

