Beritakota.id, Jakarta – Di tengah perjalanan panjang yang penuh dinamika, PSSI menegaskan tekad baru untuk membawa sepak bola Indonesia melangkah lebih jauh di panggung dunia. Melalui forum “96 Tahun PSSI: Fondasi Piala Dunia 2030” yang digelar di GBK Arena, Jakarta, berbagai pemangku kepentingan sepak bola nasional berkumpul, menyatukan visi dan harapan.
Diskusi yang menjadi bagian dari agenda Water Break PSSI Pers ini menghadirkan sejumlah tokoh penting, mulai dari Komite Eksekutif PSSI Hasnuryadi Sulaiman, mantan pemain timnas Rochy Putiray, pengamat sepak bola Hadi Gunawan, hingga jurnalis senior Kesit Budi Handoyo. Turut hadir pula Ketua Umum PSSI Erick Thohir, Direktur Utama I.League Ferry Paulus, Ketua Umum FFI Michael Sianipar, Direktur Utama GSI Marsal Masita, serta Direktur Kompetisi I.League Asep Saputra.
Dalam sambutannya, Erick Thohir mengakui bahwa perjalanan sepak bola Indonesia belum sepenuhnya ideal. Namun, ia menegaskan adanya kemajuan yang patut diapresiasi, terutama dari sisi kompetisi domestik. “Liga menunjukkan performa yang lebih baik. Indikatornya, peringkat kita naik ke posisi 18 dari sebelumnya 25,” ucapnya, Kamis (16/4).
Baca juga: John Herdman Resmi Ditunjuk PSSI sebagai Pelatih Timnas Indonesia
Untuk sektor tim nasional, Erick menilai masih diperlukan konsistensi. Meski demikian, program pembinaan terus berjalan, termasuk pengembangan tim usia muda dan tim putri. Ia juga menyoroti kehadiran pelatih baru, John Herdman, sebagai bagian dari upaya membangun fondasi jangka panjang.
“Terakhir, kita harus punya mimpi. Jika kita berbicara tentang Piala Dunia 2030, itu juga menjadi mimpi kita bersama,” jelas Erick.
Optimisme serupa disampaikan pengamat sepak bola Hadi Gunawan. Ia menilai peluang Indonesia saat ini jauh lebih terbuka dibandingkan era sebelumnya, dengan kualitas tim yang dinilai semakin kompetitif di level Asia.
“Secara tim, ini adalah salah satu yang terbaik yang pernah dimiliki Indonesia,” ujarnya.
Hasnuryadi Sulaiman pun menegaskan bahwa progres positif yang terlihat saat ini harus dijaga dan diperkuat. Menurutnya, target tampil di Piala Dunia 2030 bukan lagi sekadar wacana, melainkan sesuatu yang realistis untuk diperjuangkan.
“Jika tahun 1985 dianggap sebagai tim terbaik, maka tim saat ini adalah yang terbaik yang kita miliki,” katanya.
Di sisi lain, Kesit Budi Handoyo menyoroti tingginya antusiasme masyarakat terhadap tim nasional. Ia menilai dukungan publik menjadi modal penting dalam mendorong prestasi.
Sementara itu, Rochy Putiray mengingatkan pentingnya menjaga semangat dan kepercayaan terhadap tim. Ia mengajak seluruh pihak untuk tidak hanya fokus pada kritik, tetapi juga memberikan dukungan yang membangun.
“Yang penting adalah bagaimana membuat mereka lebih kuat dan termotivasi ke depan,” ujarnya.
Memasuki usia ke-96, PSSI kini berdiri di persimpangan penting: antara refleksi masa lalu dan harapan masa depan. Dengan sinergi lintas sektor dan semangat kolektif yang terus tumbuh, mimpi Indonesia tampil di Piala Dunia 2030 bukan lagi sekadar angan, melainkan target yang mulai menemukan jalannya.

