Beritakota.id, Jakarta – Momentum bulan suci Ramadan kembali menghidupkan tradisi berkumpul yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat Indonesia. Dari pertemuan keluarga besar hingga agenda berbuka puasa bersama rekan kerja, berbagai kegiatan tersebut mendorong meningkatnya aktivitas di sektor perhotelan, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta.
Fenomena ini terlihat dari tingginya minat masyarakat terhadap berbagai program berbuka puasa yang diselenggarakan hotel. Salah satu yang merasakan dampaknya adalah Nemuru Grand Suites MT Haryono, yang mencatat lonjakan reservasi untuk program iftar sepanjang Ramadan tahun ini.
Baca juga : Nemuru Grand Suites MT Haryono Rayakan Ulang Tahun Pertamanya
Bagi banyak orang, hotel kini tidak hanya dipandang sebagai tempat menginap, tetapi juga sebagai ruang sosial yang menawarkan suasana nyaman untuk berkumpul. Dengan pilihan menu yang beragam serta fasilitas yang memadai, hotel menjadi alternatif populer bagi masyarakat yang ingin menikmati momen berbuka puasa tanpa harus repot menyiapkan hidangan sendiri.
CEO Nemuru Hospitality, Ren Tobing, menilai bahwa Ramadan selalu membawa dinamika tersendiri bagi industri perhotelan. Menurutnya, periode ini kerap menjadi momentum ketika masyarakat mencari tempat yang dapat memfasilitasi pertemuan dalam suasana yang lebih hangat dan santai.
“Ramadan selalu menghadirkan semangat kebersamaan yang kuat. Banyak orang memanfaatkan waktu ini untuk bertemu keluarga, sahabat, maupun kolega, baik dalam acara berbuka puasa maupun kegiatan silaturahmi lainnya,” ujarnya.
Kondisi tersebut secara tidak langsung menjadikan hotel sebagai salah satu ruang pertemuan sosial yang semakin relevan selama Ramadan.
Hotel sebagai Ruang Sosial Baru Selama Ramadan
Perubahan gaya hidup masyarakat urban juga ikut memengaruhi cara orang merayakan Ramadan. Jika sebelumnya acara berbuka puasa lebih sering dilakukan di rumah atau restoran, kini hotel menjadi salah satu pilihan yang semakin diminati.
General Manager Nemuru Grand Suites MT Haryono, Aditya Antonius, mengatakan bahwa respons masyarakat terhadap program berbuka puasa yang dihadirkan hotel cukup tinggi. Dalam beberapa pekan pertama Ramadan, reservasi untuk paket iftar bahkan telah terisi penuh hampir setiap hari.
Menurut Aditya, tingginya minat tersebut mencerminkan kebutuhan masyarakat akan tempat yang nyaman untuk berkumpul, terutama di tengah mobilitas kota yang padat.
“Kami melihat banyak tamu datang bersama keluarga maupun rekan kerja. Bagi mereka, hotel menawarkan suasana yang lebih santai untuk berbuka puasa sambil berbincang dan mempererat hubungan,” jelasnya.
Tren ini juga memperlihatkan bagaimana sektor hospitality beradaptasi dengan kebiasaan sosial masyarakat. Hotel tidak lagi hanya menawarkan layanan akomodasi, tetapi juga pengalaman yang mendukung interaksi sosial, mulai dari acara keluarga hingga pertemuan komunitas.
Di banyak kota besar, agenda “bukber” bahkan telah menjadi bagian dari kalender sosial tahunan. Tidak jarang seseorang menghadiri beberapa acara berbuka puasa dalam satu minggu, mulai dari reuni teman sekolah hingga pertemuan komunitas profesional.
Dari Ramadan ke Lebaran: Tradisi Silaturahmi Berlanjut
Antusiasme masyarakat terhadap kegiatan selama Ramadan juga biasanya berlanjut hingga setelah Hari Raya Idul Fitri. Tradisi halal bihalal, misalnya, tetap menjadi agenda penting bagi banyak keluarga, perusahaan, maupun komunitas.
Karena itu, sejumlah hotel mulai mempersiapkan berbagai program untuk menyambut periode setelah Ramadan, ketika masyarakat masih mencari ruang untuk berkumpul dan merayakan kebersamaan.
Marketing Manager Nemuru Hotels, Reza Gantina, menyebutkan bahwa sebagian tamu bahkan telah merencanakan kegiatan Lebaran sejak Ramadan masih berlangsung. Banyak di antaranya yang mencari tempat untuk mengadakan pertemuan keluarga besar atau acara kantor setelah libur Idul Fitri.
Menurutnya, pola ini menunjukkan bahwa Ramadan dan Lebaran bukan sekadar perayaan keagamaan, tetapi juga momentum sosial yang memperkuat hubungan antarindividu.
“Banyak tamu tidak hanya datang untuk berbuka puasa, tetapi juga mulai merencanakan kegiatan bersama keluarga atau kolega setelah Lebaran,” katanya.
Situasi tersebut mencerminkan bagaimana industri perhotelan turut menjadi bagian dari dinamika sosial masyarakat selama bulan suci hingga masa libur Idul Fitri. Hotel pada akhirnya tidak hanya berfungsi sebagai tempat singgah bagi pelancong, tetapi juga sebagai ruang yang menampung berbagai cerita kebersamaan—mulai dari meja makan saat berbuka puasa hingga pertemuan hangat setelah Hari Raya. (Herman Effendi/Lukman Hqeem)

