Biaya pendidikan yang masih dirasakan berat oleh banyak keluarga Indonesia menambah urgensi untuk membenahi efisiensi, pemerataan, dan desain ulang pendanaan pendidikan nasional. Peringatan ini kembali ditegaskan CEO Global Partnership for Education (GPE), Laura Frigenti, dalam sesi wawancara di sela Momentum Riyadh, Kamis (11/12). Ia menyoroti bahwa anggapan pendidikan berkualitas pasti mahal merupakan fenomena global, termasuk di Indonesia, di mana sekitar empat puluh persen kualitas layanan pendidikan masih bergantung pada kemampuan finansial keluarga. Padahal, sejumlah komponen biaya dapat ditekan tanpa mengurangi mutu pembelajaran.
Frigenti menilai langkah Indonesia mulai mengalihkan buku cetak menjadi buku digital melalui tablet merupakan contoh kebijakan yang mengurangi beban orang tua. Namun, ia menekankan bahwa masalah struktural jauh lebih dalam. Reformasi pendidikan Indonesia dalam beberapa tahun terakhir memang bergerak, mulai dari penerapan Kurikulum Merdeka, digitalisasi sekolah, hingga peningkatan kapasitas guru. Anggaran pendidikan tetap dipertahankan pada porsi dua puluh persen dari APBN, tetapi efektivitas penggunaan anggaran masih menjadi tantangan besar. Infrastruktur tidak merata, kualitas guru bervariasi, dan banyak daerah terpencil menghadapi biaya layanan jauh lebih tinggi dibanding wilayah perkotaan.
Baca juga : Momentum Kenaikan Harga Tetap Terjaga, Emas Berusaha Rebound
Menurut Frigenti, keberhasilan reformasi sangat bergantung pada kemampuan sistem memastikan bahwa setiap rupiah anggaran bekerja efektif. Ia menyebut banyak negara kehilangan potensi pembelajaran akibat administrasi yang lambat, proses pengadaan yang berlapis, dan tata kelola birokrasi yang kurang efisien. Kondisi serupa masih ditemukan di banyak sekolah dan pemerintah daerah di Indonesia, sehingga peningkatan kapasitas administratif harus menjadi bagian inti dari transformasi pendidikan.
Ia juga menyoroti pentingnya keterlibatan sektor swasta. Dengan sembilan puluh persen lulusan sekolah akan bekerja di sektor tersebut, dunia usaha memiliki kepentingan langsung terhadap kualitas lulusan yang dihasilkan sistem pendidikan. Kolaborasi antara negara dan swasta tidak hanya meningkatkan pendanaan, tetapi juga memperkuat relevansi keterampilan, terutama di era digital dan ekonomi hijau. Di tengah urbanisasi cepat, Indonesia menghadapi tantangan ganda: mengejar peningkatan keterampilan baru sekaligus memperbaiki fondasi dasar seperti literasi dan numerasi.
Frigenti menjelaskan bahwa GPE mendorong berbagai mekanisme pembiayaan inovatif, termasuk education swaps, yaitu negosiasi utang yang memungkinkan sebagian dividen dialihkan kembali untuk pendidikan. Model ini telah berhasil di sejumlah negara mitra dan dapat menjadi alternatif bagi Indonesia untuk memperluas ruang fiskal tanpa menambah beban keluarga. Selain itu, GPE berperan memperkuat akuntabilitas, mengoptimalkan perencanaan berbasis data, serta menghubungkan pemerintah dengan mitra teknologi global untuk penyediaan perangkat pembelajaran, pelatihan guru, dan modernisasi sistem manajemen pendidikan.
Ia menekankan pentingnya menata kebijakan dan pendanaan secara bersamaan. Banyak negara, termasuk Indonesia, kerap menentukan arah reformasi lebih dulu baru mencari sumber pembiayaan. Padahal, menurutnya, desain kebijakan seharusnya tumbuh dari pemahaman realistis tentang kapasitas fiskal dan sumber daya yang tersedia. Contoh negara mitra GPE menunjukkan bahwa reformasi yang melibatkan masyarakat lokal, memahami karakter wilayah, dan memberi ruang pada inovasi sekolah justru lebih tahan lama dan memberikan hasil signifikan.
Indonesia memiliki peluang besar untuk mendorong transformasi pendidikan yang lebih inklusif, namun tantangan pemerataan, efisiensi, dan beban biaya keluarga tidak dapat diabaikan. Keberhasilan Indonesia, menurut Frigenti, akan sangat ditentukan oleh kemampuan menggabungkan pembiayaan berkelanjutan, tata kelola yang efisien, dan kebijakan pembelajaran yang jelas serta berorientasi masa depan. Tanpa itu, ketimpangan akan terus terjadi dan kualitas pendidikan sulit bergerak naik secara merata. (Herman Effendi / Lukman Hqeem)

