Beritakota.id, Bogor – Dalam rangka memperingati Hari Jadi Bogor, Komunitas Seni Berbagi Indonesia (SeBa) bersama sejumlah komunitas budaya menggelar Ruang Riung Reang Karinding #2 pada 30–31 Mei 2026 di Lingkung Gunung Camp Pancawati, Desa Cimande, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor.

Kegiatan yang memasuki penyelenggaraan kedua ini menjadi ruang budaya terbuka yang memadukan silaturahmi, eksplorasi seni, pelestarian tradisi, serta kepedulian terhadap lingkungan. Karinding, alat musik tradisional khas Sunda, menjadi medium utama dalam memperkuat identitas budaya yang diwariskan kepada generasi muda.

Acara ini merupakan kelanjutan dari penyelenggaraan pertama yang sukses digelar pada 2023 di Ciampea, Kabupaten Bogor. Tahun ini, kegiatan melibatkan berbagai komunitas budaya seperti Saka Jiwa Khatulistiwa, Layung Jagat, dan Bentala House Project.

Mengusung konsep outdoor camping dan ruang budaya alam terbuka, kegiatan berlangsung di kawasan lereng barat Gunung Gede Pangrango yang sejuk dan asri. Nuansa alam tersebut menghadirkan pengalaman berbeda bagi peserta, tidak hanya sebagai ajang berkesenian, tetapi juga ruang refleksi dan kreativitas.

Terdapat tujuh agenda utama yang menjadi fokus kegiatan, yakni silaturahmi budaya, eksplorasi bunyi dan rasa, pelestarian tradisi, pengembangan seni tradisi dan inovasi kreatif, pameran UMKM budaya, wisata edukasi budaya bagi pelajar, serta penanaman pohon bambu dan aren sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan.

Kegiatan ini diikuti oleh komunitas budaya, pelaku seni tradisi, komunitas karinding, pegiat lingkungan, pelajar, pelaku usaha, unsur pemerintah, hingga masyarakat umum dari wilayah Bogor Raya dan sekitarnya.

Ragam Pertunjukan Seni Tradisi

Ruang Riung Reang Karinding #2 menghadirkan berbagai pertunjukan seni dan aktivitas budaya yang melibatkan banyak komunitas. Penampilan karinding, angklung, pencak silat tradisi Cimande, musikalisasi puisi, tari kontemporer, teater, performance art, diskusi budaya, hingga jam session lintas komunitas menjadi bagian dari rangkaian acara.

Selain itu, pameran produk UMKM budaya turut memberikan ruang promosi bagi pelaku ekonomi kreatif berbasis budaya lokal.

Ketua Pelaksana, Mang Bojay, mengatakan kegiatan ini dirancang sebagai wadah kolaborasi lintas generasi dan komunitas.

“Ruang Riung Reang Karinding kami hadirkan sebagai ruang temu antar komunitas, ruang belajar lintas generasi, serta ruang bersama untuk menjaga tradisi agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman,” ujarnya.

Budayawan Jurasep menilai kegiatan tersebut memiliki nilai strategis karena mampu mempertemukan seni, alam, pendidikan, dan kebersamaan dalam satu ruang budaya.

Baca juga: Edukasi Gizi Sejak Dini, IHDC Youth Kampanyekan Sarapan Bergizi di Bogor

“Kegiatan seperti ini sangat penting karena mampu mempertemukan unsur seni, alam, pendidikan, dan nilai kebersamaan dalam satu peristiwa budaya,” katanya.

Sementara itu, Ki Ahung mengaku merasakan suasana yang hangat dan inspiratif selama kegiatan berlangsung.

“Kami merasakan suasana yang hangat, akrab, dan penuh inspirasi. Bukan hanya acara seni, tetapi juga tempat bertumbuhnya jejaring antar komunitas,” ungkapnya.

Membangun Sinergi Budaya dan Lingkungan

Melalui penyelenggaraan Ruang Riung Reang Karinding #2, panitia berharap kegiatan ini dapat menjadi momentum untuk memperkuat identitas budaya lokal sekaligus meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan.

Lebih dari sekadar upaya pelestarian budaya, kegiatan ini juga bertujuan menghidupkan seni tradisi sebagai sumber inspirasi yang tetap relevan bagi generasi muda. Kehadiran berbagai komunitas, pelaku budaya, UMKM, dan masyarakat umum diharapkan mampu melahirkan sinergi baru yang memperkuat ekosistem kebudayaan di Bogor Raya.

Sejumlah pengisi acara yang turut memeriahkan kegiatan antara lain Karinding Attack dari Bandung, Karasukan dari Sukabumi, Sundapa dari Tasikmalaya, Tulang Bajing Bogor, Kebon Awi SMA Negeri 1 Ciomas, SMA Negeri 7 Kota Bogor, Bilik Jasinga, Bogor Wanita Berkebaya (BWB), Gemadah, Sams Souci Disabilitas Art Center Bogor, Baraya Oces, Saka Jiwa Katulistiwa, dan Layung Jagat.

Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk Kementerian Kebudayaan RI, Dinas Kebudayaan Kabupaten Bogor, Ikatan Dukun Nusantara (IDN), Lingkung Gunung Camp, Majelis Sebatin Bogor, komunitas kopi lokal, organisasi kemahasiswaan, serta sejumlah tokoh dan pegiat budaya.

Dengan semangat kolaborasi yang terus terjaga, Ruang Riung Reang Karinding diharapkan berkembang menjadi agenda budaya tahunan yang mampu memperkuat karakter, identitas, dan kebanggaan masyarakat Bogor terhadap warisan budayanya. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *