Beritakota.id, Jakarta – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Selasa (19/5/2026). Pelemahan mata uang Garuda terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian global, lonjakan risiko inflasi Amerika Serikat, hingga memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah.
Berdasarkan data perdagangan Bloomberg pada pukul 09.05 WIB, rupiah melemah 17 poin atau 0,10 persen ke posisi Rp17.685 per dolar AS. Di saat yang sama, indeks dolar AS tercatat menguat 0,14 persen ke level 99.052.
Tekanan terhadap rupiah memperpanjang pelemahan sehari sebelumnya. Pada penutupan perdagangan Senin (18/5/2026), rupiah ditutup di level Rp17.668 per dolar AS, turun dibanding posisi sebelumnya Rp17.597 per dolar AS.
Dolar AS Menguat, Rupiah Kian Tertekan
Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dipicu meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap inflasi Amerika Serikat yang belum mereda.
Kenaikan harga minyak dunia disebut menjadi salah satu faktor utama yang membuat ekspektasi suku bunga tinggi The Federal Reserve semakin kuat. Kondisi tersebut mendorong investor global kembali memburu aset berbasis dolar AS.
Menurut Ibrahim, prospek kebijakan moneter ketat bank sentral AS berpotensi bertahan lebih lama karena tekanan inflasi energi masih tinggi dan belum mendekati target inflasi 2 persen The Fed.
Selain faktor ekonomi global, pasar keuangan juga dibayangi meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran dinilai memperbesar kekhawatiran investor terhadap stabilitas ekonomi dunia.
Serangan drone terhadap fasilitas pembangkit listrik tenaga nuklir Barakah di Uni Emirat Arab ikut memicu kepanikan pasar. Situasi diperburuk dengan meningkatnya retorika politik antara Washington dan Teheran yang memunculkan potensi eskalasi konflik baru di kawasan.
Di sisi lain, pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping disebut belum menghasilkan sinyal kuat penyelesaian konflik geopolitik maupun ketegangan ekonomi global.
Kurs Dolar AS di Bank Besar RI Hari Ini
Sejumlah bank nasional juga menaikkan kurs jual dolar AS pada perdagangan hari ini.
Kurs Dolar AS di BCA
BCA menetapkan kurs e-rate dengan harga beli Rp17.702 dan harga jual Rp17.722 per dolar AS.
Sementara pada TT counter dan bank notes, kurs beli dipatok Rp17.550 dan kurs jual Rp17.750 per dolar AS.
Kurs Dolar AS di Bank Mandiri
Bank Mandiri menetapkan special rate dengan harga beli Rp17.670 dan harga jual Rp17.700 per dolar AS.
Adapun TT counter dan bank notes berada di level Rp17.500 untuk kurs beli dan Rp17.800 untuk kurs jual.
Kurs Dolar AS di BRI
BRI menetapkan kurs TT counter dengan harga beli Rp17.698 dan harga jual Rp17.735 per dolar AS.
Kurs Dolar AS di BNI
BNI mematok special rate dengan harga beli Rp17.693 dan harga jual Rp17.723 per dolar AS.
Sementara untuk TT counter dan bank notes, kurs beli berada di Rp17.590 dan kurs jual mencapai Rp17.730 per dolar AS.
Pasar Waspadai Tekanan Lanjutan
Pelaku pasar kini mencermati arah kebijakan suku bunga The Fed dan perkembangan konflik Timur Tengah yang dinilai dapat terus memicu volatilitas nilai tukar.
Jika tekanan global belum mereda, rupiah berpotensi kembali bergerak fluktuatif dalam beberapa waktu ke depan, terutama di tengah tingginya permintaan dolar AS dan meningkatnya sentimen risk off di pasar keuangan global.

