Beritakota.id, Jakarta – Penguatan dolar Amerika Serikat menjadi faktor lain yang turut menekan pasar domestik. Secara historis, penguatan dolar hampir selalu diikuti oleh pelemahan rupiah dan tekanan di pasar saham.

Namun dalam kondisi saat ini, pelemahan rupiah masih tergolong dalam batas yang wajar. Yang menjadi perhatian utama bukan semata level nilai tukar, melainkan stabilitas pergerakannya. Selama depresiasi terjadi secara bertahap dan terkontrol, investor asing cenderung masih dapat mentoleransi risiko tersebut.

Stabilisasi rupiah di awal April bahkan sempat menjadi salah satu faktor yang mendukung penguatan IHSG, bersama dengan rilis data ekonomi domestik yang relatif positif.

Baca juga : IHSG dalam Tekanan Global, Rapuh atau Reposisi? – (1)

Di tengah dinamika ini, pergerakan investor asing menjadi indikator yang sangat krusial. Dalam beberapa periode terakhir, investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih atau net sell. Namun, fenomena ini tidak dapat serta-merta diartikan sebagai hilangnya kepercayaan terhadap pasar Indonesia.

Sebaliknya, aksi tersebut lebih mencerminkan strategi rebalancing dan profit taking, terutama setelah periode volatilitas tinggi dan ketidakpastian global yang meningkat. Bahkan, di sektor-sektor tertentu seperti perbankan dan infrastruktur, mulai terlihat adanya arus masuk dana kembali.

Hal ini menunjukkan bahwa investor asing tidak sepenuhnya keluar dari pasar, melainkan melakukan reposisi portofolio secara lebih selektif.

Perubahan Peran Investor Ritel

Di sisi lain, peran investor ritel juga mengalami perubahan. Jika pada masa pandemi investor ritel menjadi penopang utama pasar, maka saat ini aktivitas mereka cenderung menurun. Kenaikan suku bunga membuat instrumen alternatif seperti deposito dan obligasi menjadi lebih menarik, sehingga sebagian dana ritel beralih dari pasar saham.

Meski demikian, kondisi ini tidak serta-merta menciptakan ketergantungan berlebihan terhadap investor asing. Struktur pasar Indonesia sejak awal memang didominasi oleh institusi. Yang terjadi saat ini lebih tepat disebut sebagai normalisasi perilaku investor setelah fase euforia.

Dari sisi valuasi, IHSG saat ini berada pada kisaran price-to-earnings ratio (PER) sekitar 12–13 kali, yang relatif lebih rendah dibandingkan rata-rata historisnya. Secara komparatif, valuasi ini juga lebih murah dibandingkan pasar seperti India yang sudah berada di level premium.

Namun, valuasi murah tidak otomatis menjadi katalis kenaikan. Dalam kondisi global yang penuh ketidakpastian, investor cenderung lebih fokus pada risiko dibandingkan potensi keuntungan.

Dengan kata lain, pasar Indonesia saat ini berada dalam posisi “menarik, tetapi belum menjadi prioritas utama” bagi investor global. (Bersambung ke Bagian 3). (Lukman Hqeem)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *