Beritakota.id, Jakarta – Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan tajam dan menembus level psikologis Rp17.600 per dolar Amerika Serikat (AS). Kondisi tersebut mulai memicu efek domino terhadap perekonomian nasional, mulai dari pasar keuangan, industri manufaktur, hingga ancaman kenaikan harga kebutuhan masyarakat.

Pada perdagangan Senin (18/5/2026), rupiah tercatat melemah ke posisi Rp17.654,5 per dolar AS. Pelemahan mata uang Garuda terjadi di tengah penguatan dolar AS akibat meningkatnya tensi geopolitik global, khususnya konflik di Timur Tengah, serta kekhawatiran pasar terhadap lonjakan inflasi dunia.

Tekanan tersebut juga mengguncang pasar modal domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat anjlok lebih dari 4 persen pada sesi pertama perdagangan dan turun hingga level 6.459.

Baca Juga: Prabowo Tanggapi Santai Rupiah Melemah: Rakyat Desa Tak Pakai Dolar

Meski demikian, pemerintah menilai pelemahan rupiah masih dipengaruhi sentimen eksternal dan bersifat jangka pendek.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pemerintah tetap fokus menjaga fondasi ekonomi nasional agar tetap stabil di tengah volatilitas global.

“Enggak apa-apa nanti kita perbaiki. Sekarang fondasi ekonominya bagus, itu masalah sentimen jangka pendek,” kata Purbaya di Jakarta, Senin (18/5/2026).

Ia menambahkan pemerintah akan terus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi agar tidak terganggu tekanan pasar global.

Industri Manufaktur Mulai Tertekan

Meski pemerintah optimistis terhadap fundamental ekonomi, pelemahan rupiah mulai dirasakan langsung oleh pelaku industri, terutama sektor manufaktur yang masih bergantung pada bahan baku impor.

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Esther Sri Astuti menilai depresiasi rupiah berpotensi meningkatkan biaya produksi dan memicu ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK).

“Kondisi ini berimbas langsung pada pasar kerja melalui pembengkakan biaya produksi, kenaikan inflasi impor, ancaman PHK, serta turunnya serapan tenaga kerja akibat terhambatnya ekspansi usaha,” ujar Esther.

Baca Juga: Pelemahan Rupiah, Kegagalan Antisipasi BI?

Indef mendorong dunia usaha memperkuat penggunaan instrumen lindung nilai atau hedging untuk mengurangi dampak fluktuasi kurs. Selain itu, perusahaan juga didorong mulai mengurangi ketergantungan terhadap impor dengan mencari pemasok lokal.

Menurut Esther, penggunaan mekanisme local currency settlement (LCS) dalam transaksi perdagangan internasional juga mulai meningkat guna mengurangi dominasi dolar AS.

Harga Kebutuhan Pokok Berpotensi Naik

Tekanan rupiah juga memicu kekhawatiran terhadap kenaikan harga barang kebutuhan pokok dan biaya hidup masyarakat.

Pakar ekonomi Universitas Muhammadiyah Surabaya, Fatkur Huda menilai masyarakat desa menjadi kelompok paling rentan menghadapi pelemahan rupiah karena sektor pertanian dan usaha kecil masih sangat dipengaruhi harga impor dan energi global.

“Nilai tukar rupiah yang menurun tetap memengaruhi harga berbagai kebutuhan pokok karena banyak sektor ekonomi Indonesia masih bergantung pada barang impor dan harga global,” katanya.

Kenaikan harga pupuk, pakan ternak, BBM, hingga biaya transportasi dinilai dapat menekan petani, nelayan, pelaku UMKM, serta pekerja informal. Jika pendapatan masyarakat tidak meningkat, daya beli diperkirakan akan melemah.

Gejolak global semakin memburuk setelah konflik Iran-AS-Israel kembali memanas. Harga minyak Brent bahkan sempat menembus US$110 per barel setelah serangan drone dilaporkan terjadi di fasilitas nuklir Uni Emirat Arab dan meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz.

Kondisi tersebut berpotensi berdampak langsung terhadap biaya transportasi nasional, termasuk tarif penerbangan.

Menteri Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY mengatakan pemerintah tengah menghitung kemungkinan penyesuaian tarif tiket pesawat akibat lonjakan harga energi global.

“Memang tidak selalu mudah menghadapi dinamika dunia seperti ini, tetapi mudah-mudahan ada perbaikan situasi dan sekaligus harga tiket pesawat tidak terlalu memberatkan masyarakat,” ujar AHY.

Tekanan terhadap rupiah juga meningkatkan risiko keluarnya modal asing dari pasar domestik. Analis BRI Danareksa Sekuritas menilai IHSG masih berada dalam tren bearish setelah menembus area support penting.

Dalam riset terbarunya, BRIDS menyebut indikator MACD masih berada di area negatif yang menunjukkan momentum pelemahan belum mereda.

Selain faktor domestik, pasar global juga dibayangi minimnya hasil konkret dari pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping serta meningkatnya tensi geopolitik internasional.

Meski demikian, pemerintah tetap optimistis fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat menghadapi tekanan eksternal dan volatilitas pasar global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *