Beritakota.id, Jakarta – Di tengah gemerlap kota Bintaro yang terus tumbuh, berdiri sebuah destinasi yang membuat siapa pun tertegun di depan dinding kaca tebal berisi ribuan biota laut yang menari dalam keheningan biru. Tempat itu bernama BXSea Oceanarium, dan di balik keajaiban arsitektur bawah laut itu, ada sosok yang tak mencari sorotan, tapi justru menjadi pioner bagi lahirnya dunia bawah laut buatan Indonesia: SA. Wiraguna.
Nama itu mungkin belum sering terdengar di ruang publik, jarang muncul di layar atau headline berita. Namun bagi mereka yang memahami dunia arsitektur tematik, konservasi laut, dan desain ruang edukatif, nama Wiraguna sudah lama bekerja dalam diam seorang perancang yang memahami bagaimana lautan dapat diterjemahkan ke dalam ruang, dan bagaimana arsitektur bisa menjadi bahasa antara manusia dan alam.
Ia adalah arsitek berlisensi dengan pengalaman lebih dari tiga dekade, dan BXSea Oceanarium Bintaro, yang resmi dibuka pada Maret 2024, menjadi karya puncaknya, simbol dari perjalanan panjang seorang pria yang mengabdikan hidupnya untuk menghadirkan laut di tengah kota.
Membangun Laut dari Goresan Garis
“Menjadi arsitek untuk oceanarium bukan sekadar mendesain bentuk indah. Ini tentang memahami ekosistem hidup, dan menciptakan ruang yang membuat manusia dan alam bisa berdialog,” ujar Wiraguna suatu sore, dengan nada lembut tapi penuh keyakinan.
Kalimat itu seolah merangkum filosofi hidupnya.
Sejak awal kariernya di tahun 1994, saat dipercaya bergabung dalam proyek Under Sea World Indonesia (kini Sea World Ancol) sebagai engineer muda, ia telah melihat laut bukan hanya sebagai tema desain, tapi sebagai entitas hidup yang harus dihormati dan dipahami.
Sebagai engineer muda kala itu, ia terjun langsung ke lapangan mengamati sistem Life Support System (LSS), mempelajari karakteristik air laut buatan, hingga mengatur pencahayaan agar seimbang dengan perilaku ikan dan biota laut lainnya.
Baca juga: Dari Sampah ke Rupiah, Kisah Inspiratif Bank Sampah Binaan WINGS dan Waste4Change
Proyek itu mengubah hidupnya. Ia tak hanya belajar memahami bagaimna ruang bawah laut, tapi memahami bahwa arsitektur juga bisa menjadi jembatan antara manusia dan alam.
Proyek besar pertama itu menjadi fondasi yang mengarahkan seluruh jalan hidupnya. Setelahnya, ia dipercaya bergabung dalam manajemen operasional Sea World Indonesia selama lebih dari 15 tahun sebuah perjalanan panjang yang mengajarkan disiplin, kesabaran, dan empati terhadap ruang hidup bawah air.
Belajar dari Laut, Bekerja dalam Diam
Dunia bawah laut punya ritme yang tenang namun pasti. Dan tampaknya, itulah yang mencerminkan karakter SA. Wiraguna.
Ia tidak berlari mengejar ketenaran, tidak mengejar panggung publik.
Ia lebih memilih bekerja dalam keheningan meneliti, mengamati, dan merancang dengan penuh dedikasi.
“Laut itu jujur,” katanya, “Jika kita memahami iramanya, kita akan tahu kapan harus bergerak dan kapan harus diam,” ujarnya.
Ketenangan itu membawanya menjelajah dunia. Ia mengunjungi berbagai oceanarium di Jepang, Korea Selatan, Singapura, Australia, hingga Eropa, mempelajari bagaimana teknologi, estetika, dan edukasi berpadu intertainment dalam satu ruang.
Namun, dari semua perjalanan itu, ia justru menemukan satu hal penting: Indonesia memiliki laut yang jauh lebih indah dan kaya akan biodiversity biotanya, hanya saja belum banyak yang mengubah kekayaan itu menjadi ruang edukatif yang inspiratif.
Dari situlah tekadnya tumbuh untuk berkatya dalam bidang oceanarium berkarakter Indonesia, yang bukan sekadar tempat hiburan, tetapi ruang pembelajaran, konservasi, dan pengalaman yang mendalam tentang laut.
Mengukir Jejak di Dunia Oceanarium Indonesia
Nama SA. Wiraguna mulai dikenal di kalangan profesional dibidang oceanarium sejak ia mulai mendesain secara independen.
Proyek Bali Safari Ocean World (2007–2008) menjadi tonggak penting dalam kariernya. Dalam proyek itu, ia menghadirkan desain yang menggabungkan kearifan lokal Bali dengan konsep akuarium modern.
Desainnya bukan hanya soal struktur dan bentuk, tetapi juga pengalaman emosional bagaimana pengunjung bisa merasakan kehadiran laut dalam suasana tropis yang khas.
Setelah itu, ia dipercaya merancang St. Moritz Oceanarium dan Makassar SeaWorld (2009–2010) dua proyek ambisius yang, meski tidak terealisasi, menunjukkan bahwa ia sudah mulai diakui sebagai spesialis langka di bidangnya.
Di setiap proyek, Wiraguna membawa nilai yang sama: arsitektur harus berinteraksi dengan kehidupan, bukan sekadar memanjakan mata.
Tahun 2017 menjadi momentum penting lainnya. Ia turut terlibat dalam proyek Jakarta Aquarium, menangani instalasi panel akrilik yang merupakan bagian paling krusial dalam oceanarium modern.
Pengalaman panjangnya di bidang ini menjadikannya ahli dalam hal pengadaan dan pemasangan akrilik raksasa, material transparan yang menjadi jendela antara manusia dan dunia bawah laut.
BXSea Oceanarium: Puncak Karya, Puncak Dedikasi
Ketika BXSea Oceanarium Bintaro resmi dibuka pada Maret 2024, publik hanya melihat hasil akhir: keindahan ruang biru raksasa yang memukau.
Namun sedikit yang tahu bahwa di baliknya ada proses panjang, dan dedikasi tanpa kompromi dari seorang arsitek yang telah menempuh perjalanan di bidang ini.

BXSea dirancang dengan konsep “The Living Sea in the City” — menghadirkan laut ke tengah kehidupan urban.
Bagi Wiraguna, oceanarium ini bukan sekadar proyek komersial, melainkan manifestasi intelektual dari perjalanan hidupnya.
Setiap detailnya dirancang dengan makna. Alur sirkulasi pengunjung menyerupai arus laut yang mengalir, pencahayaan diatur mengikuti ritme siang dan malam di bawah air, dan sistem filtrasi air didesain dengan prinsip ramah lingkungan.
BXSea bukan hanya ruang pamer biota laut, tetapi ruang dialog antara manusia dan laut, antara sains dan seni, antara teknologi dan keindahan.
“BXSea adalah wujud cinta saya terhadap laut dan arsitektur,” katanya pelan.
“Bagi saya, ini bukan sekadar bangunan, tapi pernyataan bahwa Indonesia bisa memiliki oceanarium kelas dunia hasil karya anak bangsanya sendiri.”
Ahli Akrilik dan Arsitektur Transparansi
Di kalangan teknisi dan kontraktor besar, SA. Wiraguna dikenal bukan hanya sebagai arsitek, tapi juga sebagai spesialis akrilik material paling vital dalam proyek oceanarium.
Ia memahami karakteristiknya dari hulu ke hilir: mulai dari proses produksi, logistik, hingga pemasangan.
“Akrilik itu ibarat kulit dari oceanarium,” ujarnya. “Ia transparan, tapi punya kekuatan luar biasa. Sama seperti laut, tampak tenang di permukaan, tapi sangat kuat di dalam.”
Keahliannya di bidang ini menjadikannya salah satu dari sedikit profesional Indonesia yang benar-benar memahami seluk-beluk dunia bawah air buatan.
Dalam setiap proyeknya, ia memperlakukan setiap panel akrilik bukan sebagai benda mati, tapi kanvas tempat cahaya dan kehidupan berpadu.
Arsitektur sebagai Bahasa
Bagi SA. Wiraguna, arsitektur bukan sekadar fungsi, melainkan bahasa yang menyatukan manusia dengan alam.
Dan dalam konteks oceanarium, bahasa itu menjadi semakin puitis
“Setiap desain punya jiwa,” katanya. “Dan dalam oceanarium, jiwanya adalah air.”
Ia memandang air sebagai medium komunikasi unsur yang menyatukan manusia, hewan, dan ruang.
Dalam setiap desainnya, ia selalu menekankan keseimbangan antara aspek teknis, estetika, dan spiritual.
Karena bagi Wiraguna, oceanarium adalah bentuk seni yang kompleks dan paling jujur. Ketenaran Bukan Tujuan, Keabadian Karya Adalah Warisan
“Tak mencari sorotan, namun karyanya kini menerangi dunia bawah laut Nusantara.”
Kalimat ini mungkin menjadi deskripsi paling tepat bagi perjalanan hidup SA. Wiraguna.
Selama puluhan tahun ia bekerja di balik layar tanpa promosi besar, tanpa ambisi menjadi figur publik. Namun kini, setiap pengunjung BXSea Oceanarium yang menatap keindahan dunia bawah laut melalui kaca akrilik tebal, sejatinya sedang menatap karya dan dedikasi seorang arsitek yang memilih untuk dikenal lewat hasil, bukan kata.
Warisan untuk Generasi Muda
Kini, di usianya yang matang, SA. Wiraguna terus menginspirasi kaum muda untuk berani menemukan spesialisasi dan integritas diri. Ia sering menjadi mentor informal, berbagi pengalaman tentang bagaimana bisa menjadi alat edukasi, konservasi, dan transformasi sosial.
Seperti laut yang memantulkan cahaya matahari dari kedalaman, karya-karya Wiraguna kini mulai menerangi dunia bawah laut Nusantara.
Dan dari balik keheningan, ia terus berkarya membangun, merancang, dan menjaga laut agar tetap hidup dalam bentuk ruang.
Karena baginya, arsitektur bukan sekadar profesi. Ini adalah panggilan jiwa. Dan laut —adalah inspirasinya yang abadi.

