Beritakota.id, Jakarta — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali turun sekitar 8,00% hingga 8.261,78 poin pada sesi perdagangan terakhir, memicu trading halt otomatis oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) setelah kerugian mencetak batas ambang. Mekanisme penghentian perdagangan selama 30 menit diaktifkan ketika penurunan indeks mencapai lebih dari 8% dalam satu hari bursa.
Data perdagangan menunjukkan tekanan pasar yang sangat luas. Volume perdagangan mencapai sekitar 45,4 miliar saham dengan nilai transaksi sekitar Rp31,9 triliun, sementara frekuensi transaksi mendekati 3 juta kali pada hari penurunan tajam ini.
Tekanan tidak terbatas pada satu sektor. Seluruh sektor utama tertekan tajam, dengan infrastruktur turun sekitar 10,69%, energi menyusut sekitar 9,82%, basic materials turun 8,42%, serta sektor keuangan dan konsumer juga mencatatkan koreksi signifikan.
Baca juga :IHSG Terkoreksi Oleh Aksi Profit Taking Paska Cetak Rekor
Mekanisme trading halt yang berulang mencerminkan volatilitas ekstrim di pasar, namun bukan semata fenomena domestik. Sentimen global memainkan peran besar: penyedia indeks MSCI membekukan sementara penyesuaian indeks untuk saham Indonesia dan memperingatkan kemungkinan downgrade dari status pasar emerging ke frontier jika isu transparansi tidak diatasi. Hal ini memicu aksi jual cepat, terutama oleh investor asing yang cenderung lebih responsif terhadap perubahan status indeks global, dan telah mendorong aliran modal keluar.
Dalam konteks global, harga emas terus menunjukkan daya tarik sebagai safe haven selama gejolak pasar dan ketidakpastian geopolitik, sehingga memicu alokasi modal ke logam mulia. Kenaikan harga emas sering terjadi saat pasar saham mengalami tekanan tajam, karena investor global mencari aset yang lebih stabil di tengah risiko makroekonomi dan geopolitik.
Fenomena aliran keluar modal dari pasar saham Indonesia kemungkinan berkorelasi dengan meningkatnya preferensi terhadap aset safe haven seperti emas. Investor asing, menghadapi risiko pemangkasan indeks dan ketidaktentuan pasar modal domestik, cenderung mengalihkan sebagian portofolio mereka ke instrumen yang lebih defensif seperti emas. Perpindahan ini dapat memperburuk tekanan di pasar saham domestik, menambah volatilitas, dan memperlemah permintaan terhadap ekuitas Indonesia di tengah sentimen global yang menantang. (Lukman Hqeem)

