Beritakota.id, Jakartra Timur  – Pergerakan pasar valuta asing (forex) pada awal pekan masih didominasi oleh kekuatan dolar Amerika Serikat (AS). Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan naiknya imbal hasil obligasi pemerintah AS, mata uang Negeri Paman Sam kembali menjadi tujuan utama investor global.

Dollar Index (DXY) pada Selasa (21/7/2026) bertahan di level 100,96, didukung oleh kenaikan imbal hasil Treasury tenor 10 tahun menjadi 4,596%. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa pasar masih menilai aset-aset berdenominasi dolar sebagai pilihan paling aman di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Baca juga : Dolar Melemah, Pasar Menanti Penentu Baru dari PPI AS

Bagi pasar valuta asing, kombinasi penguatan dolar dan kenaikan yield biasanya menjadi indikator bahwa ekspektasi terhadap kebijakan moneter Federal Reserve masih cenderung hawkish.

Artinya, peluang penurunan suku bunga dalam waktu dekat semakin kecil apabila tekanan inflasi kembali meningkat.

Yield Treasury Menjadi Kompas Baru Pasar Forex

Dalam beberapa bulan terakhir, arah pergerakan pasangan mata uang utama tidak lagi semata ditentukan oleh data ekonomi domestik masing-masing negara. Investor kini lebih banyak memperhatikan pergerakan obligasi pemerintah Amerika Serikat.

Kenaikan imbal hasil Treasury membuat aset-aset dolar menawarkan return yang lebih menarik dibandingkan mata uang lain. Dampaknya, arus modal global kembali mengalir menuju Amerika Serikat.

Kondisi tersebut turut diperkuat oleh naiknya harga minyak dunia akibat konflik Amerika Serikat dan Iran. Harga energi yang lebih tinggi meningkatkan risiko inflasi, sehingga pasar mulai memperkirakan Federal Reserve tidak memiliki ruang yang cukup untuk segera melonggarkan kebijakan moneternya.

Dengan kata lain, selama inflasi belum benar-benar kembali ke target, suku bunga tinggi diperkirakan masih akan menjadi tema utama pasar.

Euro Masih Menunggu Kepastian ECB

Pasangan EUR/USD diperdagangkan di level 1,1412 dengan kecenderungan bergerak terbatas.

Pelaku pasar masih menunggu arah kebijakan European Central Bank (ECB), terutama terkait prospek suku bunga pada semester kedua tahun ini.

Di satu sisi, perlambatan ekonomi kawasan euro membuka peluang pelonggaran kebijakan moneter. Namun di sisi lain, tekanan inflasi yang masih bertahan membuat ruang gerak ECB tidak selonggar yang diharapkan pasar.

Selama perbedaan arah kebijakan antara ECB dan Federal Reserve masih cukup lebar, euro diperkirakan akan tetap menghadapi tekanan terhadap dolar AS.

Sterling Kehilangan Momentum

Poundsterling juga berada dalam tekanan setelah diperdagangkan di level 1,3433 terhadap dolar AS.

Selain penguatan dolar secara global, pasar juga mulai mencermati dinamika politik domestik Inggris yang kembali memunculkan ketidakpastian terhadap prospek kebijakan ekonomi.

Kondisi tersebut membuat investor cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berdenominasi pound sambil menunggu kejelasan arah kebijakan pemerintah baru.

Apabila sentimen tersebut berlanjut, GBP/USD masih berpotensi bergerak melemah dalam jangka pendek.

Yen Jepang Masih Menjadi Mata Uang Terlemah

Sementara itu, USD/JPY kembali bertahan di level tinggi 162,51.

Perbedaan kebijakan moneter antara Federal Reserve dan Bank of Japan (BOJ) masih menjadi faktor utama yang menjaga dominasi dolar terhadap yen.

Selama BOJ mempertahankan kebijakan moneter yang relatif longgar, sementara The Fed tetap mempertahankan suku bunga tinggi, tekanan terhadap yen diperkirakan masih akan berlanjut.

Risiko intervensi pemerintah Jepang memang masih menjadi perhatian pasar. Namun sejauh ini, belum terdapat sinyal kuat yang mampu mengubah tren pelemahan yen secara fundamental.

Dolar Australia Ditopang Inflasi dan Komoditas

Berbeda dengan euro dan poundsterling, dolar Australia menunjukkan ketahanan yang lebih baik.

AUD/USD diperdagangkan di level 0,7005, didukung oleh data inflasi domestik yang masih relatif tinggi serta harga komoditas global yang bertahan di level tinggi.

Namun, penguatan dolar AS tetap menjadi hambatan utama bagi mata uang berbasis komoditas tersebut.

Selama Dollar Index mampu bertahan di atas level psikologis 100, ruang apresiasi AUD diperkirakan masih terbatas.

The Fed Masih Memegang Kendali Pasar Forex

Perhatian investor kini tertuju pada arah kebijakan Federal Reserve dalam beberapa bulan mendatang.

Kenaikan harga minyak dunia akibat konflik geopolitik berpotensi kembali meningkatkan tekanan inflasi. Jika kondisi tersebut berlanjut, ruang bagi bank sentral AS untuk memangkas suku bunga akan semakin sempit.

Pasar mulai mengubah ekspektasi dari skenario “pemangkasan suku bunga agresif” menjadi kemungkinan higher for longer, yaitu suku bunga bertahan tinggi lebih lama dari perkiraan sebelumnya.

Perubahan ekspektasi tersebut menjadi salah satu alasan utama mengapa dolar kembali memperoleh dukungan dari investor global.

Dolar Masih Memiliki Ruang Menguat

Dalam jangka pendek, arah pasar forex masih akan ditentukan oleh tiga faktor utama, yaitu perkembangan konflik di Timur Tengah, pergerakan imbal hasil Treasury AS, serta komunikasi terbaru dari pejabat Federal Reserve.

Selama ketiga faktor tersebut tetap mendukung dolar, mata uang AS diperkirakan masih akan mempertahankan dominasinya terhadap sebagian besar mata uang utama dunia.

Euro dan poundsterling masih menghadapi tekanan akibat ketidakpastian kebijakan bank sentral masing-masing, sementara yen Jepang tetap dibayangi perbedaan suku bunga yang sangat lebar dengan Amerika Serikat.

Bagi pelaku pasar, fokus tidak lagi hanya pada data ekonomi rutin. Yang lebih menentukan saat ini adalah bagaimana perubahan ekspektasi terhadap kebijakan The Fed memengaruhi arus modal global.

Pasar forex saat ini memasuki fase yang menarik. Dolar tidak menguat karena ekonomi Amerika Serikat sedang melesat, tetapi karena tidak ada mata uang utama lain yang memiliki katalis yang lebih kuat.

Euro masih menunggu kepastian ECB. Inggris menghadapi ketidakpastian politik. Jepang tetap mempertahankan kebijakan ultra-longgar. Australia memperoleh dukungan komoditas, tetapi belum cukup kuat melawan arus modal yang masuk ke aset dolar.

Dengan kata lain, dominasi dolar hari ini lebih banyak berasal dari relative strength, bukan absolute strength.

Selama US Treasury 10Y bertahan di atas 4,50% dan konflik geopolitik belum mereda, bias terhadap Dollar Index masih cenderung bullish. Baru ketika inflasi AS mulai melandai secara konsisten atau Federal Reserve memberikan sinyal yang lebih dovish, tekanan terhadap dolar berpotensi muncul dan membuka ruang pemulihan bagi euro, poundsterling, maupun dolar Australia. (Lukman Hqeem)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *