Beritakota.id, Jakarta – Pasar keuangan global kembali diliputi ketegangan. Indeks futures saham Amerika Serikat anjlok lebih dari 1% pada perdagangan awal pekan, menyusul eskalasi konflik di Timur Tengah yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Investor berbondong-bondong memburu aset safe haven di tengah kekhawatiran risiko geopolitik yang semakin luas.

Pada pukul 02:20 waktu setempat (ET), Dow E-minis tercatat turun 680 poin atau 1,39%. S&P 500 E-minis melemah 100,5 poin atau 1,46%, sementara Nasdaq 100 E-minis terkoreksi 464 poin atau 1,86%. Tekanan paling dalam terlihat pada indeks berbasis teknologi, mencerminkan sensitivitas sektor ini terhadap ketidakpastian global dan suku bunga.

Baca juga : Pasar Global Diliputi Ketegangan, Emas Menembus $5400

Lonjakan risiko geopolitik dipicu oleh serangkaian serangan militer terbaru Amerika Serikat dan Israel ke Iran, yang berlanjut setelah serangan akhir pekan yang dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Teheran merespons dengan meluncurkan serangan rudal ke sejumlah wilayah di kawasan tersebut, memicu kekhawatiran bahwa konflik dapat meluas dan menyeret negara-negara tetangga.

Menurut laporan media, Presiden AS Donald Trump menyebut konflik ini berpotensi berlangsung hingga empat minggu ke depan, dengan operasi militer akan terus dilakukan hingga tujuan strategis tercapai. Pernyataan tersebut mempertegas bahwa ketidakpastian geopolitik kemungkinan akan bertahan dalam waktu dekat.

Dampaknya langsung terasa di pasar komoditas dan obligasi. Harga minyak melonjak tajam karena kekhawatiran gangguan pasokan dari kawasan produsen utama dunia. Jika kenaikan minyak berlanjut, tekanan inflasi global berpotensi kembali menguat. Sementara itu, harga emas naik sekitar 2% sebagai aset lindung nilai, dan obligasi pemerintah AS diburu investor, mendorong imbal hasil (yield) Treasury tenor 10 tahun sempat menyentuh level terendah dalam 11 bulan terakhir.

Penurunan yield biasanya mencerminkan meningkatnya permintaan terhadap obligasi sebagai aset aman. Namun di sisi lain, lonjakan harga energi justru bisa memperumit kebijakan moneter. Pasar sebelumnya sudah menghadapi data inflasi yang lebih panas dari perkiraan, memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve kemungkinan belum akan memangkas suku bunga dalam waktu dekat.

Situasi ini menjadi semakin krusial karena pekan ini pasar juga dihadapkan pada serangkaian data ekonomi penting AS. Data PMI manufaktur dijadwalkan rilis dalam waktu dekat, disusul penjualan ritel Januari, laporan tenaga kerja versi ADP, hingga data non-farm payrolls yang sangat diperhatikan pelaku pasar. Kombinasi ketidakpastian geopolitik dan data makroekonomi berisiko memicu volatilitas tinggi.

Februari sendiri telah menjadi bulan yang penuh gejolak. Ketidakpastian terkait biaya dan disrupsi kecerdasan buatan (AI), kekhawatiran tarif perdagangan, serta ketegangan geopolitik membuat sentimen risiko terus tertekan. Indeks S&P 500 dan Nasdaq mencatat penurunan bulanan terdalam sejak Maret 2025. Sebaliknya, Dow Jones masih mampu membukukan kenaikan untuk bulan kesepuluh berturut-turut, rekor terpanjang sejak periode yang berakhir Januari 2018.

Pada penutupan Jumat lalu, saham sektor keuangan dan teknologi memimpin pelemahan. Dow turun lebih dari 1%, Nasdaq melemah 0,9%, dan S&P 500 terkoreksi 0,4%.

Ke depan, arah pasar akan sangat ditentukan oleh dua faktor utama: perkembangan konflik Timur Tengah dan hasil data ekonomi AS. Jika harga minyak terus menanjak dan inflasi kembali memanas, ekspektasi penurunan suku bunga bisa semakin mundur, memberi tekanan tambahan pada saham pertumbuhan.

Sebaliknya, jika data tenaga kerja menunjukkan pelemahan signifikan dan konflik tidak meluas, pasar berpotensi menemukan titik stabilisasi. Namun untuk saat ini, sentimen defensif masih mendominasi. Investor tampaknya memilih menunggu kejelasan sebelum kembali meningkatkan eksposur pada aset berisiko. (Lukman Hqeem)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *