Beritakota.id, Jakarta – Harga emas dunia melonjak tajam pada perdagangan awal pekan. Senin pagi, emas (XAU/USD) menembus level US$5.400 per troy ounce, naik lebih dari 3% dalam sesi awal, dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di Iran yang memicu aksi flight to safety di pasar global.
Pergerakan emas diikuti oleh perak (XAG/USD) yang menguat lebih dari 2% dan diperdagangkan di kisaran pertengahan US$96 per troy ounce. Dalam kondisi pasar penuh ketidakpastian, logam mulia kerap bergerak searah. Namun secara historis, perak cenderung mencatat volatilitas lebih tinggi dibanding emas.
Baca juga : Iran Kecam Serangan AS-Israel ke Teheran, Desak Dewan Keamanan PBB Ambil Tindakan
Lonjakan ini mencerminkan respons cepat pelaku pasar terhadap risiko konflik di Timur Tengah. Emas dikenal sebagai aset safe haven karena tidak memiliki risiko gagal bayar maupun risiko kinerja laba, berbeda dengan saham atau obligasi. Dalam situasi genting, karakter defensif ini menjadi daya tarik utama.
Reli terbaru ini memperpanjang tren kenaikan emas yang sudah sangat kuat sepanjang tahun lalu. Sepanjang tahun sebelumnya, harga emas tercatat melonjak sekitar 60%, didorong pembelian agresif bank sentral, arus masuk dana ke ETF berbasis emas, serta ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter global.
Sejumlah bank investasi besar bahkan mempertahankan proyeksi bullish, dengan target harga mencapai US$6.000 per troy ounce dalam 12 hingga 18 bulan ke depan, jika permintaan tetap solid dan ketidakpastian global berlanjut.
Di sisi lain, data ekonomi Amerika Serikat turut menjadi perhatian. Pekan lalu, indeks harga produsen (PPI) AS dirilis lebih tinggi dari perkiraan, memicu kekhawatiran bahwa tekanan inflasi masih bertahan. Kondisi ini berpotensi mempersulit rencana pemangkasan suku bunga oleh bank sentral AS, The Fed.
Meski demikian, pasar masih memperkirakan pelonggaran kebijakan moneter dapat terjadi pada akhir tahun ini. Suku bunga yang lebih rendah biasanya menguntungkan emas karena menurunkan opportunity cost dari aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti logam mulia.
Fokus pasar kini tertuju pada rilis data ketenagakerjaan AS, termasuk laporan payroll, yang berpotensi menentukan arah pergerakan harga berikutnya. Untuk sementara, sentimen geopolitik masih menjadi penggerak utama, sementara investor bersiap menghadapi potensi volatilitas lanjutan di pasar global. (Lukman Hqeem)

