Beritakota.id, Jakarta – Gejala alergi pada anak tidak boleh dianggap sepele. Jika tidak dikenali dan ditangani sejak dini, kondisi ini berpotensi mengganggu kualitas hidup, menurunkan nafsu makan, hingga memengaruhi pemenuhan gizi yang berperan penting dalam proses tumbuh kembang anak.

Masih banyak orang tua yang belum mampu membedakan alergi protein susu sapi dengan intoleransi laktosa, padahal keduanya merupakan kondisi yang berbeda dan membutuhkan penanganan yang tidak sama.

Momentum Pekan Alergi Sedunia 2026 yang diperingati pada 21–27 Juni dimanfaatkan PT Kalbe Farma Tbk (Kalbe) untuk mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya mengenali gejala alergi sejak dini sekaligus memastikan anak tetap memperoleh nutrisi yang sesuai dengan kebutuhannya.

Health Communicator Kalbe Nutritionals, dr. Laurencia Ardi, M.Gizi, AIFO-K, FISQua, menjelaskan bahwa masih banyak orang tua yang menganggap alergi protein susu sapi sama dengan intoleransi laktosa.

“Padahal, keduanya memiliki penyebab dan mekanisme yang berbeda sehingga memerlukan penanganan yang berbeda pula. Alergi protein susu sapi melibatkan respons sistem imun, sedangkan intoleransi laktosa berkaitan dengan kemampuan tubuh mencerna laktosa. Pemahaman yang tepat akan membantu orang tua mengambil keputusan yang lebih baik terkait nutrisi anak sehingga kebutuhan gizinya tetap dapat terpenuhi secara optimal,” ujarnya dalam siaran langsung Instagram @ptkalbefarmatbk.

Menurutnya, gejala alergi dapat muncul pada saluran pencernaan, kulit, maupun saluran pernapasan dengan tingkat keparahan yang berbeda pada setiap anak.

Apabila terjadi berulang, kondisi tersebut dapat mengganggu kenyamanan anak saat beraktivitas maupun beristirahat, bahkan menurunkan nafsu makan sehingga berisiko menghambat pemenuhan kebutuhan gizi dalam jangka panjang. Karena itu, deteksi dini menjadi langkah penting agar dampaknya terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak dapat dicegah.

Dalam pemenuhan nutrisi, dr. Laurencia menekankan pentingnya memilih sumber lemak yang sesuai bagi anak dengan alergi protein susu sapi. Salah satunya adalah Medium Chain Triglycerides (MCT), yaitu lemak rantai sedang yang lebih mudah dan lebih cepat diserap tubuh dibandingkan lemak rantai panjang sehingga dapat menjadi sumber energi yang efektif sesuai kebutuhan anak.

Ia menambahkan, anak dengan alergi maupun intoleransi tetap membutuhkan asupan gizi yang lengkap, meliputi protein, karbohidrat, lemak, vitamin, mineral, asam amino esensial, omega-3, dan omega-6 untuk mendukung pertumbuhan fisik serta perkembangan otak.

Baca juga: Kalbe Perkuat Edukasi dan Deteksi Dini Kolesterol Tinggi untuk Cegah Penyakit Jantung

“Orang tua tidak perlu khawatir secara berlebihan selama kebutuhan nutrisi anak tetap terpenuhi dari sumber yang sesuai. Dengan pendampingan yang tepat, anak dengan kondisi khusus tetap dapat tumbuh sehat dan aktif seperti anak lainnya,” katanya.

Selain memperhatikan asupan nutrisi, dr. Laurencia juga mengingatkan pentingnya memperkenalkan makanan pendamping ASI (MPASI) secara bertahap.

Ia menyarankan orang tua menerapkan 3-Day Wait Rule, yakni memberikan satu jenis makanan baru selama tiga hari berturut-turut sebelum memperkenalkan makanan lainnya. Metode ini membantu mengidentifikasi kemungkinan munculnya reaksi alergi terhadap makanan tertentu.

Orang tua juga dianjurkan membuat food diary untuk mencatat makanan yang dikonsumsi anak beserta respons yang muncul setelahnya. Catatan tersebut akan membantu dokter dalam proses evaluasi dan penegakan diagnosis apabila ditemukan dugaan alergi.

“Orang tua tidak perlu panik apabila menemukan gejala yang dicurigai sebagai alergi. Yang terpenting adalah melakukan observasi, mencatat makanan yang dikonsumsi anak, memperhatikan gejala yang muncul, dan segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila ditemukan tanda-tanda yang mengkhawatirkan,” ujarnya.

Sementara itu, Brand Manager Milna, Ella Marliana, mengatakan salah satu tantangan terbesar orang tua adalah memastikan kebutuhan gizi anak tetap tercukupi meskipun terdapat pembatasan makanan akibat alergi atau intoleransi.

Menurutnya, anak dengan alergi protein susu sapi maupun intoleransi laktosa tetap memiliki peluang yang sama untuk tumbuh optimal selama kebutuhan nutrisinya dipenuhi melalui sumber yang tepat.

“Kuncinya, orang tua perlu memahami sumber nutrisi alternatif yang sesuai dengan kondisi anak. Edukasi menjadi sangat penting agar setiap keputusan terkait pola makan dan pemenuhan nutrisi didasarkan pada rekomendasi tenaga kesehatan serta kebutuhan spesifik masing-masing anak,” katanya.

Sebagai bagian dari edukasi tersebut, Kalbe Nutritionals memperkenalkan Milna WGain Soya, bubur bayi berbahan dasar protein kedelai dan daging ayam yang diformulasikan tanpa laktosa dan kasein untuk bayi dengan intoleransi laktosa maupun alergi protein susu sapi. Produk tersebut dilengkapi kandungan asam amino esensial, omega-3, omega-6, lemak MCT, serta densitas energi tinggi untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi bayi usia enam bulan ke atas.

Melalui edukasi mengenai alergi dan strategi pemenuhan nutrisi yang tepat, Kalbe berharap semakin banyak orang tua mampu mengenali gejala alergi sejak dini sehingga anak-anak Indonesia tetap memiliki kesempatan tumbuh sehat, aktif, dan berkembang secara optimal. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *