Beritakota.id, Tangerang Selatan – Universitas Terbuka (UT) menyelenggarakan wisuda tahun akademik 2025/2026 Genap Wilayah 1. Acara wisuda yang bertemakan “Mencetak Generasi yang Inovatif, Berintegritas dan Mendunia” digelar di Universitas Terbuka Convention Center (UTCC), Tangerang Selatan, Selasa, 30 Juni 2026.

Sebanyak 1.800 wisudawan Universitas Terbuka (UT) dari 12 UT Daerah mengikuti rangkaian wisuda yang menjadi bagian dari kelulusan lebih dari 42 ribu mahasiswa Universitas Terbuka pada periode ini.

Wisuda Wilayah 1 ini, UT memperlihatkan wajah pendidikan tinggi yang semakin dekat dengan kebutuhan zaman. Fleksibilitas yang ditawarkan bukan sekadar kemudahan teknis, melainkan jembatan bagi para pekerja, pemimpin, pendidik, atlet, dan masyarakat luas untuk tetap menempuh pendidikan berkualitas di tengah ritme hidup yang terus bergerak.

Rektor Universitas Terbuka (UT), Prof. Dr. Ali Muktiyanto, S.E., M.Si mengatakan rangkaian wisuda bukan sekadar seremoni kelulusan, melainkan bentuk akuntabilitas publik atas seluruh proses pendidikan yang dijalankan oleh perguruan tinggi negeri berbadan hukum tersebut.

Dia mengatakan bahwa UT adalah satu-satunya perguruan tinggi negeri yang menggunakan pembelajaran modus jarak jauh.

“UT ini milik negara, PTNBH, perguruan tinggi yang diberi badan hukum. Meskipun PTNBH, kita adalah instrumen penting dari negara. Kita harus berani mempertahankan dan menjelaskan semua proses akademik kita kepada publik. Mulai dari perencanaan sampai pertanggungenjawaban. Mulai dari penyusunan kurikulum, pelaksanaan pembelajaran, proses belajaran sampai kepada judisium dan bahkan wisuda,” ujar Ali Muktiyanto.

Baca juga: Wisuda UT 2025/2026 I, Imam Pesuwaryantoro Buktikan Kuliah Sambil Kerja Raih Prestasi Internasional

Dia menambahkan bahwa UT adalah perguruan tinggi yang memiliki standar mutu yang sudah menjadi bagian dari budaya mutu di Indonesia.

“Kenapa kami selalu bicara standar mutu? Karena mahasiswa kami adalah mahasiswa pembelajar mandiri, terstruktur, terpimpin. Yang hakikatnya kekuatan kita adalah motivasi untuk belajar sepanjang hayat. Dan yang kedua adalah ketangguhan dalam belajar mandiri. Sementara yang lain-lainnya itu adalah dukungan untuk kesuksesan belajar mahasiswa kita,” kata dia.

“Hal ini membuktikan bahwa belajar jarak jauh ketika dijalankan secara sungguh-sungguh dan disiplin yang tinggi dalam belajar mandiri terstruktur dan terpimpin maka hasilnya bisa kita lihat hari ini,” imbuhnya.

Ali Muktiyanto menambahkan bahwa lulusan-lulusan UT berasal dari seluruh kalangan, tidak hanya orang perkotaan namun ada juga yang berasal dari daerah-daerah pelosok di Indonesia.

“Tidak hanya orang biasa atau yang dari kalangan sederhana yang amanahnya tidak banyak sampai ada yang amanahnya luar biasa. Yang kesibukannya sangat menyita waktu. Dan kemudian termasuk juga tokoh masyarakat. Pejabat publik, pejabat pemerintah maupun swasta,” tuturnya.

Dia membenarkan bahwa UT hadir sebagai pilihan kepada masyarakat Indonesia yang tidak bisa kuliah tatap muka. “UT itu hadir bagi masyarakat. Nah,,karena itu ketika masuk UT memang sudah kondisinya siap untuk belajar jarak jauh. Bukanlah siap belajar tatap muka. Ini yang berbeda,” tambahnya.

Dia pun berharap para wisudawan dan alumni bisa meneruskan kiprahnya, ilmu-ilmu yang didapatkan bisa langsung diterapkan di masyarakat.

“Saya tidak mengatakan kembali masyarakat untuk berkiprah. Saya katakan meneruskan kiprah. Karena saat mau masuk belajar UT juga sudah berkiprah. Nah, itu salah satu kelebihan. Kiprahnya semakin baik, semakin bagus. Dan setelah wisudah ini, kami berharap bisa semakin bagus lagi,” pungkasnya.

Dari sektor strategis nasional, hadir sejumlah lulusan yang menunjukkan bahwa pendidikan tinggi tetap menjadi kebutuhan penting, bahkan bagi mereka yang telah berada di posisi pengambil keputusan. Adrian Sutawijaya, Wakil Rektor Bidang Keuangan, Sumber Daya, dan Umum, menyelesaikan studi pada Program Doktor Ilmu Manajemen UT Jakarta. Ida Irawati, Direktur Pemeriksaan I.C BPK, menuntaskan Program Doktor Administrasi Publik UT Jakarta.

Dari lingkungan BPK, Selvia Vivi Devianti, Kepala Pusat Analisis Kebijakan Pemeriksaan Keuangan Negara, turut menyelesaikan studi Ilmu Hukum di UT Jakarta. Pada bidang korporasi nasional, Muh Erry Sugiharto, Direktur Penunjang Bisnis PT Pertamina (Persero), juga menjadi bagian dari lulusan Ilmu Hukum UT Jakarta.

Kehadiran para profesional ini menegaskan bahwa UT semakin dipercaya sebagai ruang belajar strategis bagi mereka yang membutuhkan pendidikan tinggi yang kredibel, fleksibel, dan aplikatif.

Namun, cerita wisuda ini tidak berhenti di ruang kebijakan dan korporasi. Dari dunia olahraga, Marvin Alexa Wossiry, atlet profesional futsal Indonesia, menjadi wisudawan Program Studi Manajemen UT Jakarta. Di tengah tuntutan latihan, pertandingan, dan performa sebagai atlet, Marvin menunjukkan bahwa prestasi lapangan dan pendidikan tinggi dapat berjalan beriringan ketika sistem belajar dirancang adaptif terhadap kebutuhan mahasiswa.

Kisah lain datang dari Elly Agustina, lulusan Magister Pendidikan Dasar UT Medan, yang meraih kategori wisudawan berdedikasi dan berprestasi. Sementara itu, Ratna, penerima Beasiswa KIP-K dari Program Studi Ilmu Hukum UT Jambi, menjadi gambaran bahwa akses pendidikan tinggi bukan hanya tentang kesempatan masuk kuliah, tetapi juga tentang membuka jalan mobilitas sosial dan masa depan yang lebih luas.

Wisuda ini juga menjadi perayaan bagi pembelajar lintas usia. Sri Hartati, kelahiran Bojonegoro, 11 April 1959, menjadi wisudawan tertua dari UT Jakarta pada Program Studi Ilmu Administrasi Bisnis S1. Pada usia 67 tahun, ia membawa pesan kuat bahwa pendidikan tidak mengenal batas umur, selama ada kemauan untuk terus melangkah.

 

Di sisi akademik, capaian terbaik hadir melalui Yurni Prawita dari UT Bengkulu. Lulusan Program Magister Pendidikan Bahasa Inggris ini meraih IPK 4,00 dengan predikat Dengan Pujian. Prestasi tersebut menunjukkan bahwa fleksibilitas pendidikan jarak jauh di UT tetap berjalan bersama standar akademik yang tinggi.

Melalui Wisuda Wilayah 1, UT tidak hanya mengukuhkan lulusan, tetapi juga memperlihatkan dampak nyata pendidikan terbuka bagi Indonesia. UT hadir sebagai ekosistem belajar yang memungkinkan seseorang tetap bekerja, memimpin, mengabdi, berprestasi, dan pada saat yang sama menyelesaikan pendidikan tinggi.

Dari UTCC, para wisudawan ini akan kembali ke ruang hidupnya masing-masing dengan kapasitas baru. Ada yang kembali ke ruang kebijakan, korporasi, sekolah, keluarga, lapangan olahraga, dan masyarakat. Di titik itulah kontribusi UT terasa: bukan hanya mencetak lulusan, tetapi ikut memperkuat manusia-manusia pembelajar yang terus bergerak membawa dampak bagi bangsa.

Wisuda ini bukan hanya perayaan kelulusan. Lebih dari itu, momentum tersebut menjadi potret bagaimana pendidikan tinggi terbuka dan jarak jauh memberi ruang bagi masyarakat produktif untuk terus meningkatkan kapasitas diri tanpa harus meninggalkan peran pentingnya. Dari direktur BUMN, pejabat Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), wakil rektor, atlet profesional futsal Indonesia, penerima beasiswa KIP-K, lulusan ber-IPK sempurna, hingga wisudawan senior, semuanya hadir dengan cerita yang berbeda, tetapi membawa pesan yang sama: belajar tetap relevan di setiap fase kehidupan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *