Beritakota.id, Banyuwangi – Harga emas melonjak menembus level US$5.000 per ons pada perdagangan Senin (waktu Asia), didorong oleh meningkatnya aliran dana ke aset aman di tengah pelemahan dolar AS dan gejolak geopolitik global. Ketegangan terkait Greenland dan Iran, serta volatilitas tajam di pasar mata uang Jepang, membuat investor kembali bersikap defensif.
Harga emas spot tercatat menguat seiring melemahnya dolar, setelah sepekan pasar global diguncang ketidakpastian kebijakan dan meningkatnya risiko geopolitik. Logam mulia tersebut mencatat rekor tertinggi baru, memperpanjang reli yang telah berlangsung sejak awal tahun.
Baca juga : Paradigma Baru: Emas dan Lonceng Kematian Hegemoni Dolar
Di pasar valuta asing, yen Jepang menguat lebih dari 1% ke level 153,99 per dolar AS pada pukul 04.27 GMT. Penguatan yen terjadi setelah lonjakan tajam pada akhir pekan lalu memicu spekulasi adanya potensi intervensi otoritas moneter. Sumber yang mengetahui hal tersebut mengatakan kepada Reuters bahwa Federal Reserve Bank of New York melakukan pengecekan suku bunga (rate checks) pada Jumat, yang meningkatkan kemungkinan adanya intervensi terkoordinasi antara Amerika Serikat dan Jepang untuk menahan pelemahan yen.
“Pasar pada dasarnya masih cenderung melakukan posisi jual terhadap yen, tetapi potensi koordinasi intervensi membuatnya tidak lagi menjadi taruhan satu arah,” ujar Prashant Newnaha, senior rates strategist TD Securities di Singapura.
Spekulasi intervensi tersebut turut menekan dolar AS dan mendorong penguatan sejumlah mata uang utama lainnya. Indeks dolar yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama turun hingga 0,2% ke level terendah empat bulan di 96,996, setelah anjlok 0,8% pada Jumat lalu—penurunan harian terbesar sejak Agustus.
Di pasar saham, sentimen cenderung melemah. Indeks Nikkei Jepang turun sekitar 2%, sementara kontrak berjangka S&P 500 melemah 0,25% dan kontrak berjangka saham Eropa turun 0,27%. Pelaku pasar memilih bersikap hati-hati menjelang rapat kebijakan Federal Reserve yang dijadwalkan berlangsung pekan ini.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump sempat memberikan ketenangan sementara bagi pasar pekan lalu dengan menarik kembali ancaman tarif dan meredam wacana penggunaan kekuatan terhadap Greenland. Namun, langkah lanjutan berupa pengetatan sanksi terhadap Iran kembali memicu kecemasan investor, khususnya terkait stabilitas geopolitik dan pasokan energi global.
Tekanan Amerika Serikat terhadap Iran turut mendorong kenaikan harga minyak dan memperkuat daya tarik emas sebagai aset lindung nilai. Selain emas, logam mulia lain seperti perak juga mencatat kenaikan tajam sepanjang tahun ini, didukung oleh pelemahan dolar AS.
Sementara itu, otoritas Jepang belum memberikan komentar resmi terkait volatilitas yen. Namun, Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menegaskan pemerintah akan mengambil langkah yang diperlukan untuk menghadapi pergerakan pasar yang bersifat spekulatif.
Ekonom Asia senior Union Bancaire Privée (UBP), Carlos Casanova, menilai bahwa ekspektasi intervensi saja sudah cukup untuk menopang yen dalam jangka pendek. Meski demikian, ia menambahkan bahwa faktor pendorong penguatan yen secara signifikan masih terbatas, sementara tekanan pada imbal hasil obligasi jangka panjang Jepang diperkirakan tetap berlanjut.
Pasar obligasi Jepang sempat mengalami tekanan hebat pekan lalu, seiring sorotan terhadap kebijakan fiskal ekspansif pemerintah dan rencana pemilihan umum cepat yang dijadwalkan pada 8 Februari. Meski kondisi pasar obligasi mulai mereda, sentimen investor masih cenderung rapuh.
Di pasar komoditas energi, harga minyak relatif stabil setelah melonjak sekitar 3% pada Jumat. Minyak mentah Brent tercatat stagnan di level US$65,91 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di US$61,10 per barel, dengan pelaku pasar mencermati dampak lanjutan sanksi AS terhadap ekspor minyak Iran.

