Beritakota.id, Kota Bandung – Sebanyak 74 desa di Jawa Barat tahun ini menjadi laboratorium penguatan literasi masyarakat. Program tersebut dijalankan melalui Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Literasi hasil kolaborasi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) dan Universitas Padjadjaran (Unpad). Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya menjalankan pengabdian kepada masyarakat, tetapi juga menjadi penggerak budaya baca dan pembelajaran di tingkat desa.

Program tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kualitas sumber daya manusia melalui literasi yang lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat. Literasi tidak lagi dimaknai sekadar kemampuan membaca buku. Literasi kini juga mencakup kemampuan memahami informasi, mengelola keuangan, menjaga kesehatan, hingga mengambil keputusan yang tepat dalam kehidupan sehari-hari.

Baca juga : Perpusnas Perbarui Layanan ISBN, Penerbit Kampus Lebih Bebas

Kepala Perpusnas, E. Aminudin Aziz, mengatakan Unpad menjadi salah satu dari 23 perguruan tinggi yang bergabung dalam pelaksanaan KKN Tematik Literasi 2026. Tahun sebelumnya, program serupa melibatkan 21 perguruan tinggi dengan sekitar 10.400 mahasiswa di 17 provinsi.

“Tahun ini ada penambahan dua perguruan tinggi, salah satunya Universitas Padjadjaran. Setelah berdiskusi dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, kami melihat adanya kebutuhan untuk bersama-sama meningkatkan pembangunan kecakapan literasi di Jawa Barat,” ujarnya saat Pelepasan KKN Mahasiswa Unpad Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026 di Kampus Unpad Jatinangor, Jumat (10/7/2026).

Pemilihan Jawa Barat bukan tanpa alasan. Provinsi ini memiliki Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang relatif tinggi. Namun, penguatan literasi masyarakat masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu mendapat perhatian bersama.

Data terbaru Perpustakaan Nasional dan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Indonesia pada 2025 berada di angka 40,06 atau masuk kategori rendah. Sementara IPLM Jawa Barat tercatat hanya 18,07. Angka tersebut menunjukkan bahwa ekosistem literasi di provinsi ini masih membutuhkan penguatan, meski kualitas pembangunan manusianya terus meningkat.

Pada indikator Tingkat Kegemaran Membaca (TKM), kondisi Jawa Barat menunjukkan capaian yang lebih baik. BPS mencatat TKM nasional sebesar 54,80 atau kategori sedang, sedangkan Jawa Barat mencapai 59,19. Meski demikian, Perpusnas menilai budaya membaca perlu terus diperkuat agar mampu mendorong peningkatan kualitas literasi masyarakat secara menyeluruh. Sebab, minat membaca yang tinggi belum tentu diikuti oleh tersedianya ekosistem literasi yang kuat di tingkat komunitas.

Jawa Barat Jadi Lokasi Strategis Penguatan Literasi

Melalui KKN Tematik Literasi 2026, Perpusnas menargetkan 1.000 lokasi di 18 provinsi sebagai pusat penguatan literasi masyarakat. Dari jumlah tersebut, sebanyak 74 desa berada di Jawa Barat.

Sekitar 740 mahasiswa Unpad akan terlibat langsung dalam program literasi di desa-desa tersebut. Sementara secara keseluruhan, Unpad menerjunkan 1.542 mahasiswa yang didampingi 74 dosen pembimbing lapangan ke desa-desa di Kabupaten Garut, Sukabumi, Cianjur, dan Tasikmalaya dengan mengusung tema “KKN Unpad Berdampak.”

Program ini mengintegrasikan literasi dengan berbagai isu pembangunan. Mahasiswa akan mendorong literasi keuangan, kesehatan, serta pemberdayaan masyarakat. Pendekatan tersebut diharapkan membuat literasi hadir sebagai solusi atas persoalan yang dihadapi warga, bukan sekadar kegiatan membaca buku.

Untuk mendukung pelaksanaan program, Perpusnas menyediakan sekitar 1.000 judul buku di setiap desa lokasi KKN. Dengan demikian, lebih dari 74.000 koleksi buku tersedia sebagai sumber belajar bagi mahasiswa maupun masyarakat.

“Kalau mahasiswa yang menggarap literasi berada di desa, di sana sudah tersedia seribu judul buku. Artinya, untuk 74 desa sudah tersedia sekitar 74 ribu judul buku. Ini merupakan bentuk komitmen Perpusnas dalam membangun budaya literasi bersama perguruan tinggi,” kata Aminudin.

Ketersediaan koleksi tersebut menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan program. Buku-buku itu tidak hanya dimanfaatkan selama KKN berlangsung, tetapi juga dapat menjadi sumber belajar masyarakat setelah mahasiswa menyelesaikan masa pengabdiannya.

Mahasiswa Didorong Menjadi Penggerak Literasi Desa

Perpusnas menilai mahasiswa memiliki posisi strategis dalam membangun budaya literasi. Kehadiran mereka dinilai lebih mudah diterima masyarakat karena datang sebagai mitra yang hidup dan bekerja bersama warga selama menjalankan KKN.

Aminudin berharap mahasiswa mampu menjadi penggerak perubahan di desa sekaligus memperkuat kecakapan literasi masyarakat.

“Kerjakan KKN kali ini dengan sepenuh hati. Mudah-mudahan menjadi darma bakti mahasiswa kepada masyarakat dan benar-benar memberi dampak nyata bagi pembangunan manusia Jawa Barat, bahkan Indonesia,” ujarnya.

Rektor Unpad, Arief S. Kartasasmita, mengatakan KKN merupakan bagian dari proses pembelajaran yang membawa mahasiswa keluar dari ruang kuliah untuk memahami persoalan masyarakat secara langsung. Pengalaman tersebut menjadi bekal penting agar lulusan perguruan tinggi mampu menghubungkan ilmu pengetahuan dengan kebutuhan nyata di lapangan.

“Kami mengucapkan selamat belajar dan selamat melaksanakan KKN. Manfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya untuk belajar langsung dari masyarakat. Kami juga menitipkan nama baik Universitas Padjadjaran agar senantiasa dijaga selama menjalankan pengabdian,” katanya.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat turut mendukung program tersebut. Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Barat, Asep Sukmana, mengatakan tema KKN tahun ini selaras dengan berbagai prioritas pembangunan daerah, mulai dari pengentasan kemiskinan, pengelolaan sampah, hingga peningkatan literasi masyarakat.

Kolaborasi Perpusnas, perguruan tinggi, dan pemerintah daerah menunjukkan bahwa pembangunan literasi tidak dapat dilakukan oleh satu institusi saja. Desa menjadi ruang penting untuk membangun kebiasaan belajar, memperluas akses terhadap pengetahuan, dan meningkatkan kemampuan masyarakat memanfaatkan informasi dalam kehidupan sehari-hari.

Keberhasilan program ini nantinya tidak hanya diukur dari jumlah mahasiswa yang diterjunkan atau banyaknya koleksi buku yang tersedia. Ukuran sesungguhnya adalah apakah budaya membaca tetap tumbuh setelah program KKN berakhir, apakah masyarakat semakin mampu mengambil keputusan berdasarkan informasi yang benar, dan apakah desa berkembang menjadi pusat pembelajaran sepanjang hayat. Jika tujuan tersebut tercapai, maka 74 desa di Jawa Barat tidak hanya menjadi lokasi pengabdian mahasiswa, tetapi juga menjadi model penguatan literasi masyarakat berbasis komunitas. (Lukman Hqeem)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *