Beritakota.id, Jakarta – Upaya pencegahan dan penanganan masalah kesehatan mental pada anak dan remaja membutuhkan komitmen kuat serta langkah nyata dari seluruh pemangku kepentingan.
Hal tersebut disampaikan Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, menanggapi penandatanganan Surat Keputusan Bersama (SKB) tentang Kesehatan Jiwa Anak oleh sejumlah kementerian.
“Dibutuhkan langkah nyata yang lahir dari komitmen bersama yang kuat untuk membangun mekanisme pencegahan dan penanganan kesehatan jiwa bagi generasi penerus bangsa,” kata Lestari dalam keterangan tertulisnya, Jumat (6/3).
Sembilan Menteri Teken SKB Kesehatan Jiwa Anak
Sebelumnya, SKB tentang Kesehatan Jiwa Anak ditandatangani oleh sembilan menteri di kantor Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan pada Kamis (5/3).
Penandatanganan tersebut melibatkan sejumlah kementerian strategis yang memiliki peran penting dalam membangun ekosistem perlindungan anak dan remaja di Indonesia.
Menurut Lestari, keterlibatan banyak kementerian diharapkan mampu memperkuat kolaborasi lintas sektor untuk membangun sistem perlindungan kesehatan jiwa anak secara lebih komprehensif.
Baca juga: 34% Pelajar SMA Jakarta Berisiko Gangguan Kesehatan Mental
Kasus Bunuh Diri Anak dan Remaja Meningkat Tajam
Politisi yang akrab disapa Rerie itu menilai kerja sama lintas kementerian harus segera diwujudkan dalam bentuk program nyata. Hal ini penting karena tren kasus bunuh diri pada remaja menunjukkan peningkatan yang mengkhawatirkan.
Berdasarkan data Kepolisian Negara Republik Indonesia, kasus bunuh diri pada kelompok usia anak (0–15 tahun) meningkat lebih dari dua kali lipat dalam dua tahun terakhir.
2022: 604 kasus
2024: 1.498 kasus
Selain itu, hasil Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja 2024 mencatat 62,19 persen anak yang mengalami masalah kesehatan jiwa juga mengalami kekerasan dalam 12 bulan terakhir.
Peran Keluarga Jadi Kunci
Menurut Lestari yang juga anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dari Komisi X, penguatan fungsi keluarga dan pola pengasuhan positif menjadi faktor penting dalam menjaga kesehatan mental anak.
Namun ia mengakui upaya tersebut bukan hal mudah untuk diwujudkan di tengah perubahan sosial yang terjadi saat ini.
Karena itu, ia menekankan agar langkah para menteri tidak berhenti pada penandatanganan dokumen semata, tetapi dilanjutkan dengan implementasi nyata di lapangan.
“Langkah-langkah konkret harus segera direalisasikan agar berbagai kasus kekerasan terhadap anak dan bunuh diri pada remaja dapat ditekan,” ujarnya.
Bangun Generasi Sehat Mental
Lestari menegaskan bahwa penguatan sistem kesehatan jiwa anak merupakan bagian penting dari agenda besar pembangunan sumber daya manusia Indonesia.
Menurutnya, generasi muda yang sehat secara mental akan lebih tangguh dan memiliki daya saing di masa depan.
“Upaya ini penting untuk memastikan generasi penerus bangsa tumbuh dengan kesehatan mental yang kuat dan mampu menghadapi tantangan masa depan,” pungkasnya.
Para menteri yang terlibat dalam kesepakatan tersebut antara lain:
Menteri Dalam Negeri
Menteri Agama
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah
Menteri Kesehatan
Menteri Sosial
Menteri Komunikasi dan Digital
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak
- bunuh diri remaja Indonesia
- esehatan mental anak
- kasus bunuh diri anak meningkat
- kebijakan pemerintah kesehatan mental anak
- kekerasan terhadap anak
- kesehatan jiwa remaja
- kolaborasi kementerian kesehatan jiwa
- krisis kesehatan mental generasi muda
- Lestari Moerdijat
- peran keluarga kesehatan mental
- perlindungan anak Indonesia
- SKB kesehatan jiwa anak

