Beritakota.id, Jakarta – Kemacetan di gerbang tol kembali menjadi catatan dalam arus mudik dan arus balik Lebaran 2026. Salah satu penyebab klasik yang kembali terulang adalah persoalan saldo kartu elektronik yang tidak mencukupi, memicu antrean panjang hingga puluhan kilometer di sejumlah titik krusial.

Di tengah kondisi tersebut, teknologi Multi Lane Free Flow (MLFF) kembali mengemuka sebagai solusi jangka panjang yang dinilai mampu mengurai kemacetan berbasis sistem pembayaran.

Baca juga : Puncak Arus Balik 2026 Terlewati, Kapolri: Jutaan Kendaraan Sudah Kembali ke Jakarta

Pengamat transportasi dari Politeknik Keselamatan Transportasi Jalan, Anton Budiharjo, menilai bahwa sistem pembayaran tol saat ini masih menyisakan bottleneck pada proses transaksi di gerbang tol. Setiap kendaraan yang harus berhenti untuk melakukan tap in membutuhkan waktu layanan sekitar 4 hingga 5 detik—angka yang terlihat kecil, tetapi berdampak besar ketika volume kendaraan meningkat drastis.

Masalah menjadi lebih kompleks ketika pengguna jalan kehabisan saldo e-toll. Intervensi petugas untuk membantu proses top up justru menambah variasi waktu layanan, yang pada akhirnya memperpanjang antrean kendaraan.

“Variabilitas waktu layanan inilah yang menjadi pemicu utama antrean panjang di gerbang tol,” ujar Anton.


Arus Balik: Titik Kritis Kemacetan

Memasuki fase arus balik, tekanan di sejumlah gerbang tol utama mulai kembali meningkat. Setelah lonjakan kendaraan pada arus mudik, kini pergerakan balik menuju kota-kota besar seperti Jakarta menjadi tantangan tersendiri bagi pengelola jalan tol.

Data dari Jasa Marga menunjukkan bahwa pada periode H-10 hingga H+1 Lebaran 2026, terdapat sekitar 21 ribu kendaraan atau 4,9 persen dari total 442 ribu kendaraan di Gerbang Tol Kalikangkung yang mengalami kekurangan saldo e-toll.

Kondisi ini secara langsung berdampak pada meningkatnya waktu antrean di gerbang tol. Fenomena serupa diperkirakan kembali terjadi pada arus balik, terutama di titik strategis seperti Gerbang Tol Cikampek Utama yang selama ini menjadi simpul utama pergerakan kendaraan dari arah timur menuju Jakarta.

Jasa Marga pun mengimbau pengguna jalan untuk memastikan kecukupan saldo sebelum memasuki jalan tol guna menghindari penumpukan kendaraan.


MLFF: Menghapus Hambatan di Gerbang Tol

Di tengah tantangan tersebut, MLFF hadir dengan pendekatan yang berbeda. Sistem ini memungkinkan kendaraan melintas tanpa harus berhenti atau melakukan transaksi fisik di gerbang tol.

Dengan mengandalkan teknologi seperti Global Navigation Satellite System (GNSS), Radio Frequency Identification (RFID), serta Automatic Number Plate Recognition (ANPR), proses pembayaran dilakukan secara otomatis melalui sistem digital yang terintegrasi.

Artinya, tidak ada lagi proses tap kartu, tidak ada barrier, dan tidak ada antrean di gerbang tol. Waktu layanan per kendaraan pun secara teoritis mendekati nol.

“MLFF menghilangkan sumber utama kemacetan karena tidak ada lagi proses transaksi di titik fisik,” jelas Anton.

Dengan sistem ini, arus kendaraan dapat bergerak secara free flow, yang sangat krusial terutama pada periode dengan volume lalu lintas tinggi seperti mudik dan arus balik Lebaran.


Antara Harapan dan Realisasi

Meski menjanjikan, implementasi MLFF di Indonesia masih berada dalam tahap pengembangan. Dody Hanggodo menyatakan bahwa proyek ini tetap berjalan meskipun sempat menghadapi sejumlah kendala teknis dan nonteknis.

Menurutnya, proyek MLFF melibatkan banyak pemangku kepentingan, sehingga proses penyempurnaan membutuhkan koordinasi lintas sektor. Pemerintah saat ini masih melanjutkan tahap pengujian untuk memastikan kesiapan sistem sebelum diterapkan secara luas.

MLFF sendiri bukan proyek baru. Inisiatif ini telah dimulai sejak 2016, bekerja sama dengan perusahaan teknologi asal Hungaria, Roatex Ltd., melalui PT Roatex Indonesia Toll System. Proyek ini didanai oleh pemerintah Hungaria dengan nilai mencapai US$300 juta.


Membaca Sinyal Perubahan Sistem Transportasi

Kondisi arus mudik dan arus balik Lebaran 2026 kembali menegaskan satu hal: sistem transaksi di gerbang tol menjadi titik lemah dalam manajemen lalu lintas nasional.

Selama sistem masih mengandalkan interaksi fisik dan proses manual, potensi antrean akan selalu ada—terutama pada momen dengan lonjakan volume kendaraan yang ekstrem.

MLFF menawarkan perubahan paradigma, dari sistem berbasis transaksi di titik tertentu menjadi sistem berbasis pergerakan tanpa hambatan. Jika berhasil diimplementasikan, teknologi ini tidak hanya akan mengurangi kemacetan, tetapi juga meningkatkan efisiensi waktu perjalanan dan kenyamanan pengguna jalan.

Namun hingga saat itu tiba, disiplin pengguna jalan—termasuk memastikan saldo e-toll mencukupi—masih menjadi faktor kunci dalam menjaga kelancaran arus lalu lintas, khususnya di masa arus balik Lebaran yang masih berlangsung. (Herman Effendi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *