Beritakota.id, Jakarta — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan Kamis (21/5/2026). Pelemahan tipis Mata Uang Garuda terjadi di tengah sikap pelaku pasar yang masih menunggu arah kebijakan ekonomi global, terutama sinyal terbaru dari bank sentral AS, Federal Reserve.

Berdasarkan data perdagangan pasar uang pada Kamis pagi, rupiah bergerak melemah ke posisi Rp17.660 per dolar AS. Angka tersebut turun dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp17.654 per dolar AS.

Meski mengalami tekanan, pergerakan rupiah masih berada dalam rentang yang relatif terkendali. Kondisi ini menunjukkan pasar valuta asing sedang berada dalam fase konsolidasi sambil menanti sentimen baru dari global maupun domestik.

Baca Juga: Rupiah Anjlok ke Rp17.685 per Dolar AS, Konflik Timur Tengah dan The Fed Guncang Pasar

The Fed dan Dolar AS Masih Jadi Penentu

Pelaku pasar saat ini menaruh perhatian besar terhadap arah kebijakan suku bunga Federal Reserve. Ketidakpastian mengenai kapan bank sentral AS mulai melonggarkan kebijakan moneternya membuat investor global cenderung berhati-hati.

Stabilnya indeks dolar AS di pasar internasional juga memberikan tekanan terbatas terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Ketika dolar menguat, arus modal asing umumnya bergerak menuju aset safe haven sehingga menekan kurs mata uang emerging market.

Selain faktor eksternal, kebutuhan korporasi domestik terhadap valuta asing juga menjadi salah satu pemicu pelemahan rupiah. Permintaan dolar AS untuk pembayaran kewajiban luar negeri dan kebutuhan impor menjelang pertengahan tahun kerap memunculkan tekanan musiman di pasar.

Geopolitik dan Harga Komoditas Pengaruhi Rupiah

Pergerakan rupiah juga dipengaruhi dinamika geopolitik global dan fluktuasi harga komoditas dunia. Ketegangan internasional hingga perubahan harga minyak dan batu bara masih menjadi variabel penting yang memengaruhi sentimen investor terhadap aset berisiko.

Analis pasar menilai volatilitas rupiah masih berpotensi terjadi sepanjang perdagangan hari ini. Namun, tekanan diperkirakan tetap terkendali seiring langkah stabilisasi yang dilakukan Bank Indonesia di pasar valuta asing.

Bank Indonesia diperkirakan akan terus menjaga keseimbangan pasar untuk memastikan stabilitas nilai tukar tetap terjaga dan tidak mengalami pelemahan berlebihan.

Investor Diminta Waspadai Data Ekonomi AS

Pelaku pasar dan investor juga diminta mencermati rilis data ekonomi Amerika Serikat dalam beberapa hari ke depan. Data inflasi, tenaga kerja, hingga arah suku bunga The Fed berpotensi memicu penguatan dolar AS secara mendadak.

Jika dolar kembali menguat agresif di pasar global, tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih akan berlanjut. Meski demikian, fundamental ekonomi domestik dan intervensi Bank Indonesia diyakini menjadi penyangga utama stabilitas kurs rupiah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *