Beritakota.id, Jakarta Timur – Banyak orang mengira kolesterol tinggi hanya dialami mereka yang gemar mengonsumsi gorengan atau makanan berlemak. Namun kenyataannya, tidak sedikit orang yang merasa sudah menjaga pola makan, bahkan jarang menyentuh makanan yang digoreng, tetapi hasil pemeriksaan laboratorium tetap menunjukkan kadar kolesterol di atas normal.

Lantas, apa penyebabnya?

Dokter menjelaskan bahwa kolesterol tidak semata-mata ditentukan oleh satu jenis makanan. Faktor genetik, pola makan secara keseluruhan, kurangnya aktivitas fisik, obesitas, stres, hingga gangguan metabolisme dapat berperan besar dalam meningkatkan kadar kolesterol dalam darah.

Karena itu, menghindari gorengan saja belum tentu cukup untuk menjaga kesehatan jantung.

Kolesterol Tidak Selalu Berasal dari Makanan

Kolesterol merupakan zat lemak yang secara alami diproduksi oleh hati dan memiliki fungsi penting bagi tubuh, mulai dari pembentukan hormon, vitamin D, hingga membran sel.

Masalah muncul ketika kadar kolesterol, terutama Low Density Lipoprotein (LDL) atau yang dikenal sebagai kolesterol “jahat”, meningkat terlalu tinggi sehingga memicu pembentukan plak pada dinding pembuluh darah. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko penyakit jantung koroner dan stroke.

Dalam artikel edukasi yang diterbitkan Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan, dr. Muhammad Faizal Alhas dari RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita menjelaskan bahwa pemahaman lama mengenai kolesterol telah berkembang.

Menurutnya, penelitian terbaru menunjukkan bahwa kolesterol dalam makanan hanya memiliki pengaruh terbatas terhadap kadar kolesterol darah. Yang lebih menentukan justru adalah pola makan secara keseluruhan, terutama konsumsi lemak jenuh, makanan ultra-proses, dan kualitas gaya hidup.

Baca juga : Kalbe Perkuat Edukasi dan Deteksi Dini Kolesterol Tinggi untuk Cegah Penyakit Jantung

Mengapa Kolesterol Bisa Naik Meski Makan Terlihat Sehat?

Banyak orang merasa sudah menjalani pola makan sehat, tetapi melupakan faktor lain yang sama pentingnya.

Pertama adalah faktor genetik. Sebagian orang memiliki kecenderungan mewarisi kadar kolesterol tinggi (familial hypercholesterolemia), sehingga tubuh tetap memproduksi kolesterol dalam jumlah besar meskipun pola makannya cukup baik.

Kedua adalah lemak jenuh tersembunyi. Makanan seperti daging berlemak, santan, mentega, keju, makanan cepat saji, hingga aneka makanan olahan sering kali mengandung lemak jenuh tinggi meskipun tidak digoreng.

Ketiga adalah kurangnya aktivitas fisik. Gaya hidup sedentari dapat menurunkan kadar HDL atau kolesterol “baik”, sehingga kemampuan tubuh membersihkan kolesterol LDL ikut berkurang.

Selain itu, kelebihan berat badan, diabetes, merokok, konsumsi alkohol berlebihan, serta kurang tidur juga diketahui berkontribusi terhadap meningkatnya kadar kolesterol.

Bukan Hanya Kolesterol, Pola Makan Keseluruhan yang Penting

Kementerian Kesehatan menekankan bahwa perubahan pola makan secara menyeluruh jauh lebih efektif dibanding sekadar menghindari satu jenis makanan.

Pola makan yang kaya buah, sayuran, biji-bijian utuh, ikan, serta makanan tinggi serat membantu menurunkan kadar kolesterol karena serat dapat mengurangi penyerapan kolesterol di saluran pencernaan.

Sebaliknya, konsumsi berlebihan makanan tinggi lemak jenuh dan karbohidrat olahan lebih berpotensi meningkatkan risiko gangguan kardiovaskular dibanding sekadar kandungan kolesterol pada makanan itu sendiri.

Temuan tersebut juga sejalan dengan berbagai kajian ilmiah internasional.

Salah satu tinjauan ilmiah yang dipublikasikan di National Center for Biotechnology Information (NCBI) menjelaskan bahwa hubungan antara kolesterol makanan dan kolesterol darah jauh lebih kompleks daripada yang dipahami sebelumnya. Respons tubuh terhadap kolesterol dipengaruhi oleh faktor genetik, metabolisme individu, komposisi pola makan, serta gaya hidup secara keseluruhan.

Karena itu, pendekatan modern dalam pencegahan penyakit jantung tidak lagi hanya berfokus pada pembatasan makanan berkolesterol, tetapi lebih menekankan kualitas pola makan, aktivitas fisik, pengendalian berat badan, dan faktor risiko metabolik lainnya.

Kapan Harus Memeriksakan Kolesterol?

Kolesterol tinggi sering disebut sebagai “silent condition” karena umumnya tidak menimbulkan gejala sampai terjadi komplikasi seperti penyakit jantung atau stroke.

Oleh karena itu, pemeriksaan profil lipid secara berkala menjadi langkah penting, terutama bagi mereka yang berusia di atas 40 tahun, memiliki riwayat keluarga dengan penyakit jantung, diabetes, hipertensi, obesitas, atau kebiasaan merokok.

Pemeriksaan sederhana dapat membantu mendeteksi kadar kolesterol total, LDL, HDL, dan trigliserida sehingga risiko penyakit kardiovaskular dapat diketahui lebih dini.

Menjaga Jantung Tidak Cukup Hanya Menghindari Gorengan

Menghindari gorengan memang merupakan langkah yang baik, tetapi itu hanyalah satu bagian kecil dari upaya menjaga kesehatan jantung.

Yang jauh lebih penting adalah membangun pola hidup sehat secara menyeluruh: mengonsumsi makanan bergizi seimbang, memperbanyak serat, rutin berolahraga, menjaga berat badan ideal, mengelola stres, tidur yang cukup, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.

Pada akhirnya, kolesterol tinggi bukan sekadar persoalan makanan yang digoreng. Ia merupakan hasil interaksi antara pola makan, gaya hidup, kondisi metabolisme, dan faktor genetik. Memahami hal tersebut membantu masyarakat mengambil langkah pencegahan yang lebih tepat, daripada hanya berfokus pada satu jenis makanan yang dianggap sebagai penyebab utama. (Lukman Hqeem)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *