Beritakota.id, Jakarta – Kerokan masih menjadi metode tradisional yang kerap digunakan masyarakat Indonesia untuk meredakan keluhan seperti “masuk angin”. Meski dianggap membantu melancarkan peredaran darah, praktik ini tidak selalu aman—terutama bagi anak-anak dan bayi. Dokter spesialis anak, Dr. Ian Suryadi Suteja, M.Med Sc, Sp.A Suteja pun menjelaskan bahaya kerokan pada anak dan bayi.
Menurut Dr. Ian Suryadi Suteja, bahaya kerokan pada anak dan bayi di bawah usia satu tahun, sangat tidak disarankan karena berisiko menimbulkan dampak kesehatan yang serius.
Salah satu risiko utama adalah iritasi kulit. Kulit bayi yang masih sensitif dapat bereaksi terhadap minyak atau tekanan gesekan saat kerokan dilakukan. Selain itu, kondisi kulit bayi yang tipis membuat pembuluh darah di bawahnya lebih rentan pecah.
Tidak hanya itu, dalam kasus tertentu, kerokan juga dikaitkan dengan risiko emboli atau gangguan aliran darah akibat terbentuknya gumpalan. Meski jarang, kondisi ini dapat berbahaya jika tidak ditangani dengan tepat.
Baca juga: Manfaat Olahraga untuk Kesehatan Jantung: Cara Efektif Cegah Penyakit Jantung dan Hidup Lebih Sehat
Kerokan juga harus dihindari pada anak yang mengalami penyakit seperti Demam Berdarah Dengue atau gangguan trombosit. Pada kondisi ini, tubuh lebih rentan mengalami perdarahan. Gesekan dari kerokan justru dapat memperparah kondisi dengan memicu perdarahan di bawah kulit yang berisiko fatal.
Alih-alih kerokan, orang tua disarankan menggunakan alternatif yang lebih aman, seperti balsam khusus bayi atau calming rub yang memberikan efek hangat tanpa tekanan berlebihan pada kulit. Metode ini dinilai lebih aman untuk membantu kenyamanan anak saat tidak enak badan.
Pada anak yang lebih besar atau remaja, kerokan masih bisa dilakukan dengan hati-hati, namun tetap perlu memperhatikan kondisi kesehatan dan tidak dilakukan secara berlebihan.
Kesimpulannya, meski kerokan menjadi bagian dari budaya pengobatan tradisional, penggunaannya pada anak—terutama bayi—perlu dihindari. Pendekatan yang lebih aman dan berbasis medis tetap menjadi pilihan utama untuk menjaga kesehatan anak. (***)

