Beritakota.id, Jakarta – Ketidakpastian global memasuki fase yang semakin kompleks menjelang 2026. Tekanan fiskal di negara maju, tensi geopolitik yang belum sepenuhnya mereda, serta volatilitas pasar keuangan memaksa investor global untuk meninjau ulang strategi. Dalam konteks inilah Bank DBS Indonesia menggelar forum “Unlocking Indonesia’s Wealth Potential 2026” di Jakarta pada Rabu (04/02/2026). Kegiatan ini menghadirkan perspektif strategis untuk menavigasi lanskap investasi yang kian menantang.
Chief Investment Officer DBS, Hou Wey Fook, menegaskan bahwa pasar global saat ini berada pada persimpangan penting. Di satu sisi, sektor teknologi—khususnya yang berkaitan dengan pengembangan large language models (LLM), kecerdasan buatan, dan pusat data—menjadi mesin pertumbuhan baru, terutama di Amerika Serikat. Lonjakan belanja modal di sektor ini bahkan disebut sebagai salah satu yang terbesar dalam sejarah modern.
Baca juga : DBS Tambah Pendanaan Kredivo Rp3 Triliun Awal 2026
Namun, Hou mengingatkan bahwa euforia teknologi tidak boleh dilepaskan dari disiplin fundamental. “Pasar mulai mempertanyakan apakah pertumbuhan pendapatan mampu mengimbangi agresivitas belanja modal. Di titik inilah risiko mulai muncul,” ujarnya. Jika ekspektasi terlalu tinggi dan tidak diimbangi kinerja riil, sebagian segmen pasar berpotensi membentuk apa yang disebut sebagai AI bubble.
DBS melihat bahwa risiko tersebut bukan alasan untuk menghindari sektor teknologi sepenuhnya, melainkan untuk lebih selektif. Fokus investasi bergeser dari pure-play AI menuju perusahaan yang mampu mengadopsi teknologi untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan nilai operasional. Dengan kata lain, teknologi harus menjadi alat pencipta nilai, bukan sekadar narasi pertumbuhan.
Di luar Amerika Serikat, DBS memproyeksikan Asia kembali mencatat momentum pertumbuhan. Meredanya ketidakpastian perdagangan global dan kuatnya arus perdagangan intra-regional menjadi penopang utama kawasan ini. Hou menilai, fleksibilitas dan kemampuan adaptasi ekonomi Asia membuat kawasan ini relatif lebih tangguh menghadapi guncangan eksternal.
Bagi investor, pesan DBS jelas: memasuki 2026, strategi investasi tidak lagi bisa mengandalkan satu tema besar. Diversifikasi, disiplin fundamental, dan pemahaman mendalam terhadap risiko menjadi fondasi utama untuk menjaga portofolio tetap tangguh di tengah dunia yang semakin tidak pasti. (Lukman Hqeem)

